Arsip Kategori: Puisi

Tebaran Debu

Puisi Binandar Dwi Setiawan
dari debu menjadi debu
Ilustrasi dari stat_ks_kidsklik_com
Apa yang masih aku tidak ketahui harus hadir lagi menjelma kejadian memprakarsai kedatangan dirimu. Rupanya kedatanganmu menuntut begitu banyak syarat yang aku tak kesemuanya tahu. Sementara rinduku tak tertahan lagi disini, aku tak lagi memiliki sesuatu pun untuk menampungnya. Apakah kau hanya mau sampai kepadaku, ketika telah habis rinduku yang untukmu.

Musuh. Aku membutuhkanmu sebagai wadah untuk menumpahkan seluruhnya marahku.Kenalilah segala hal yang kubenci dan segala hal yang secara tradisional mampu menyulut amarahku, rangkumlah menjadi satu, satukanlah menjadi dirimu. Agar tidak ada satupun yang aku benci selain dirimu. Agar para senjata memahami harus kearah mana mereka menghadap.

Disini, didalam diri, kobarnya api terlalu besar. Merusak irama yang harusnya indah berharmoni. Membakar hal hal yang harusnya tersaji sempurna. Kejadian kejadian tertentu yang harusnya terjadi menjadi tidak terjadi. Ruang dan waktu bagai jahat kepadaku. Kau sebarkan aromamu sebelum kedatanganmu, tetapi aku masih tahu siapa kau, dan siapa yang hanya sedang terliputi oleh aromamu. Segala sesuatu itu, meskipun memakai pakaianmu, tetaplah bukan kau.

Mereka tetaplah mereka, dan kau tetaplah kau. Apapun yang terjadi aku tak akan pernah membunuh mereka, seperti aku tak akan pernah segan membunuhmu. Semakin lama kau tak datang, semakin banyak leher kau kirim yang harus ku tebas untuk sampai kepadamu, semakin pandai ku mengambil kendali atas keliaranku, maka akan semakin tajam pedang yang akan kugunakan untukmu. Kau sendiri yang mengasah pedangku.

Hanya kau yang selama ini benar benar ku tunggu, untuk mengetahui siapakah aku yang sebenarnya. Untuk ku merasakan betapa sakitnya apa yang telah lama menjadi bagian dalam diri bisa terlepas keluar. Untuk merasakan aku di dalam dirimu. Musuh, datanglah tanpa ragu, beradalah, dalam pandangku. Apalagikah yang kau takutkan ketika tak sedikitpun aku takut kepadamu. Bukankah keberanianku memuncakkan keberanianmu, bukankah gelisah kita sama. Bukankah kau membutuhkanku sebagaimana aku membutuhkanmu.

Telah ku ubah semua ruang menjadi medan laga bagi kita berdua, maka untuk apa kau bersembunyi jika toh aku di dekatmu juga. Maka untuk apa kau menangkis jika toh aku menyerangmu juga. Sempurnalah. Sebab yang jahat tidak akan betah berada di kebaikan, sebab yang baik tidak akan betah berada di kejahatan. Sebab yang jahat tidak akan betah mendiamkan yang baik, sebab yang baik tidak akan betah mendiamkan yang jahat. Yang jahat harus bertarung dengan yang baik, yang baik harus bertarung dengan yang jahat. Begitulah kekasihku, begitulah musuhku.

Janji

Puisi Ragil Koentjorodjati

bergandengan dalam hujan
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani miskin bersamaku,
Aku bertekad memperkayamu.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani terkucil di dunia kecilku,
Aku bertekad membangun gubug mungil yang layak menjadi rumahmu.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk tinggal di gubug mungilmu,
Aku bertekad mendirikan istana termegah bagimu.
Ketika engkau merasa istana akan menjauhkanku darimu,
Aku bertekad tinggal di gubug kecil, terkucil bersamamu.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk bertarung melawan kerasnya hidup,
Aku bertekad menaklukkan hidup agar cukup lunak untukmu.
Ketika engkau menyatakan lunaknya hidup akan membuatmu terluka,
Aku bertekad menjauhkanmu dari perihnya luka.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani terhina dan papa,
Aku bertekad meletakkan puncak-puncak keagungan di setiap ruang dada.
Ketika engkau merasa kesejahteraan dan kemuliaan menjauhkanku darimu,
Aku bertekad menjalani hari hina dan papa bersamamu.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani berjalan sendirian,
Aku bertekad senantiasa di sampingmu sebagai kawan.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk melawan arus,
Aku bertekad mengajarimu berenang dan mengapung tanpa harus tergerus.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menolak segala bentuk ketidakadilan,
Aku bertekad memberimu keadilan yang patut kaukenakan.
Ketika engkau merasa kemapanan membuatku lupa ingatan,
Aku bertekad bergulat dalam kesulitan agar tetap bersamamu dalam kesadaran.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menolak segala sesuatu yang merendahkanmu sebagai manusia,
Aku bertekad meninggikanmu melebihi tingginya bukit dan mega-mega.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menjadi yang terkecil,
Aku bertekad membesarkanmu melebihi besarnya purnama di bulan April.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani sakit dan lemah,
Aku bertekad mengupayakan segala agar engkau senantiasa penuh daya.
Ketika engkau merasa kesentausaan menjadikanku serupa Rahwana,
Aku bertekad bersamamu menjadi manusia biasa.

Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk menjaga air mata,
Aku bertekad menunjukkan padamu bening mata air dari setiap tetes air mata.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk melukis senyum pada kabar duka cita,
Aku bertekad menyampaikan kepadamu hanya kabar suka cita.
Ketika engkau menyatakan kesanggupanmu untuk berani hidup tanpa bahagia,
Aku bertekad membawamu kepada bahagia.
Ketika engkau merasa kebahagiaan menjauhkanku dari tuhan,
Aku bertekad mendiamkan egoku untuk tetap bersamamu dalam tuhan.

Burung-burung Kertas

Puisi Ragil Koentjorodjati

burung kertas
Ilustrasi dari 2.bp.blogspot.com
(1)
Di tanganmu, satu demi satu kaucipta,
Burung-burung kertas yang kemudian kauterbangkan kian ke mari,
Melayang, menarikan mega-mega biru,
Meliukkan nafas cinta yang kausemayamkan pada sayapnya,
dan harapan tertakik pada kerinduan.

Wahai, udara ini serasa tak pernah hampa.

Ah, aku telah jatuh cinta,
Pada burung kertas yang hancur luruh di kali kecilku.

(2)
Aku ingin terbang bersamamu,
Melangit tinggi di awan maya -imaji bocah-bocah terbahagia-
Dengan tenang kita akan mengawang,
menantang tinggi nyiur yang tak terukur,
melintas semak perdu penuh biru,
Sembari aku akan berkisah tentang kampung halaman,
Tempat semua kerinduan berpulang,
Di sana, kita dapat leluasa terbang.
Lalu seperti biasa,
Ketika senja tiba, Ayah atau Ibu akan memanggil bocah-bocah itu,
Beruntun mereka berebut memeluk Bunda,
ditingkah selaksa cinta -tawa yang berderai-derai
Dan kita akan mendarat di tempat sampah atau nyala api,
Dengan sedikit rasa yang kupunya, akan kubisikkan kepadamu,
:jangan menangis, besok kita akan kembali terbang.

(3)
Adalah salahku mencintaimu,
mencintai hal-hal palsu,
hanya agar nafas tetap bertahan di badan.
Dan aku mohon,
jangan kaucaci aku tentang murninya hati,
ketika -dengan sedih- harus kucuri sesuatu dari kematianmu,
kunikmati di sela-sela ranggas kemarau istirahku,
deretan aksara yang tak lagi bermakna,
tertekuk, terlipat, tak lagi terbaca.
Engkau tahu, aku tidak mampu berterima kasih kepadamu,
aku tidak mampu berterima kasih pada hal-hal palsu,
seperti mereka yang mencuri dari nama-nama kosong,
yang mencuri dari yang ditinggalkan orang mati.
Dan ketika alam hidup mengajarkan kekejaman,
ijinkan aku tetap mencintaimu,
tanpa hati, tanpa jantung
tanpa darah, tanpa nadi.
Agar aku dapat tetap terbang bersamamu,
Meski aku menjelma burung kertas yang terlalu ungu.

Tersesat

Puisi Natalia Lily P
perempuan bersayapTersesat?
Ya, aku tersesat di setiap sudut penjuru mata angin.
Katakan lengah telah menuntun butaku semakin nyata.
Dingin hati semakin menebal berpagar ego tak terukur.
Siapa yang peduli celoteh putih bertopeng manis?
Kosongkan nurani di hentakan tangis menyayat miris teriris.
Tulikah aku di cengkraman garis kabut?
Sayup tersiar barisan kata sarat kehampaan di pantai terjal.
Terlaknat ataukah di laknat hanyalah serpihan debu terkumpul.
Raga terbujur diam menghitung gelaran sisa nafas terhela.
Lintasan padang duri nyaris matikan rasa.
Membisu
Membeku
Terpaku
Sisi kubangan hitam menggeliat.
Meraung menjalar liar, terkapar di sorot batas angkara!

Ode untuk Jazz

Puisi Binandar Dwi Setiawan

mawar merah
Ilustrasi dari shutterstock
Di dalammu aku melihat air belum tentu mengalir
Ada kemungkinan air menyala
Kau mencipta aturanmu sendiri
Memaksa libatnya seluruh unsur keadaan mengatur wujud sebersama mungkin
Yang spesial darimu adalah kemampuanmu mempertunjukkan keluarbiasaan dirimu tanpa butuh mengagetkan penginderaan
Kau selalu menarikku ke dalammu
Untuk mensinyalkan bahwa aku pun adalah bagianmu
Kau merendah dan meninggi pada saat bersamaan
Kau menyentak para kejadian ketika caramu bersikap tak sepercik pun terbenak oleh mereka
Kau adalah pengharga terhebat ketika tak menganggap kecil sebagai kecil dan besar sebagai besar
Itu mengajariku untuk menggantungkan kebenaran kepada apa
Kau terlibat sekaligus tak terlibat, kau berbuat sekaligus tak berbuat
Wajahmu yang rumit tak sedikitpun menghalangiku melihat kesederhanaanmu
Sekaligus kealamianmu tak sedikitpun menghalangimu menjadi tak alami
Kau letakkan segalanya pada tempatnya
Menampilkan semuanya tanpa terjebak untuk memewahkan yang satu di antara yang lain
Aku tak punya kalimat untuk memprotesmu
Hanya bertekuk lutut menatapmu bagai aku
Terlalu banyak yang kau suguhkan
Kau puaskan dahagaku dengan melahirkan dahaga yang baru
Jazz, ketika apapun berkemungkinan menjadi dirimu
Aku jadi curiga, darimanakah aku berasal
Jazz, ketika terlalu banyak batas yang kau terabas
Aku tahu ada yang sanggup memelukku menenangkan seluruhnya resahku
Jazz, ketika yang duka dan yang suka kau sikapi sama
Aku jadi tahu mengapa kata sempurna pantas disandang oleh siapapun

Satu Puisi

Puisi Charles Roring

satwa papua
Ilustrasi dari Rere 'Loreinetta

Cantik parasmu bagai warna burung surga
Seperti penjaga menunggu fajar
Di tepi sungai kita menanti
Cahaya mentari mulai berpendar

Sejak subuh tadi, hujan t’lah berhenti
Pertanda gelapnya malam segera memudar
Di jalan setapak, kaki kita mulai meniti

Bersama kita mengayun langkah
Menyusuri sungai yang setia mengalirkan air
Membuyar dua ikan yang bermanja di akar nipah
Dingin membasuh kaki, gemericik air

Ke lereng Gunung Arfak tempat kita kan berdua
Menanti datangnya Cendrawasih burung-burung surya
Menuju rumpunan bambu kita kan mendaki
Di balik dedaunannya kita kan berhenti

Sebentar lagi para jantan kan berdansa mengumbar cinta
Agar menyatu dengan para betina, itu yang mereka pinta

Kulirik engkau sebentar-sebentar
Cantik parasmu, harum rambutmu, dadaku bergetar
Gerai rambutmu semerbak wangi seperti minyak cendana
Kau duduk di dekatku sambil memandang ke atas sana

Andai aku si Cendrawasih jantan yang lihai menari
Kan kurayu kau sang betina dan tak akan kubiarkan berlari
Mendekatimu kukepak sayapku perlahan-lahan
Merapat, kutatap matamu yang lembut sayu nan menawan

Matamu bagai permata safir
Senyummu, darah dalam nadiku semakin berdesir
Andaikan kita bisa terbang jauh bersama-sama
Kalau lelah di tepi pantai, kita hinggap di dahan palma

Gairah cinta kita, bagai laut biru bergemuruh ombak
Dimabuk cinta, bagi kita lebih nikmat daripada menegak tuak

Semoga setelah ini kita kan bersua lagi
Ke negeri jauh pun menemuimu ku akan terbang pergi

Ubud Bali, 23 Jan 2012

Menulislah

Puisi Ragil Koentjorodjati

one day writing
Ilustrasi dari ioneday.blogspot.com

Menulislah,
Jika kamu tidak lagi sanggup berbicara,
Simbol-simbol yang berhamparan di jagad ini menunggu seseorang untuk merangkainya menjadi suatu yang nyata. Sesuatu yang dapat dibaca. Tidak saja wujud harfiahnya tetapi juga bentuk-bentuk di sebaliknya.
Menulislah,
Jika suaramu tidak lagi ada yang mendengar,
Suara yang melekat pada batu-batu dinding kotamu tidak sekokoh goresan tangan yang berotot keprihatinan. Suara akan melembab di kaki-kaki pengembara dan meringkuk hilang makna seiring waktu menua. Tetapi tulisan tidak. Ia akan dibaca sebagaimana ia tertulis sepanjang masa.
Menulislah,
Jika namamu ingin tercatat di lintasan sejarah,
Betapa banyak jiwa-jiwa membeku di pengap waktu. Mereka binasa dengan sia-sia. Bergumul dalam kesendirian dan tidak mampu menolak zaman yang mengutuknya menjadi sekedar deretan huruf dan angka-angka. Bebaskan jiwamu dan jadilah manusia merdeka.
Menulislah,
Tangan dan kakimu dapat terbelenggu, tetapi tidak hati dan pikiranmu. Pikiran adalah hantu yang tidak terikat ruang dan waktu dan ia menyatakan dirinya dalam tulisan-tulisan. Menulis menghubungkanmu antara dunia jiwa dengan dunia nyata.
Menulislah,
Meski tulisanmu tidak seagung karya para pujangga atau tidak seindah rangkaian kata para penyair yang mabuk rindu. Meski penamu tak lagi tajam dan kertasmu mulai buram. Sebab Ia telah menghamparkan kertas di depan mata kita, mengisi penuh tinta di hati dan pikiran kita. Ia menunggu kita menulis sesuatu yang bermakna.
Menulislah,
Sebab sesungguhnya hidupmu lebih sastra daripada karya para pujangga dan lebih puisi daripada rangkaian kata para penyair.

Jika Saat Perpisahan Harus Tiba

Puisi Ragil Koentjorodjati

kehilangan kekasih
Ilustrasi diunduh dari google

Hidup ini tidak abadi dan cinta sepasang anak manusia pun tidak abadi.

Jika tibatiba hariharimu sunyi dan kosong, semua kaurasa hampa dan membosankan,
ketahuilah bahwa aku juga menjalani harihariku yang sunyi dan kosong, semua terasa hampa dan membosankan.

Jika tanganmu menggapai, mencari pegangan untuk setiap kelelahan, mencari jawaban atas setiap kebingungan,
tanganku pun akan menggapai, mencari pegangan untuk setiap kelelahan dan berharap menemui jawaban atas setiap kebingungan.

Jika engkau menyesali saat pertemuan, berharap engkau tidak pernah bertemu denganku,
Aku akan melupakan semua harapan untuk bertemu denganmu, dan menghapus semua penyesalan.
Dan ketika hatimu menjadi sakit dan terbelah saat kaupergi semakin menjauh dariku,
Hatiku pun akan sakit dan terbelah seiring jauh langkahmu dari diriku.

Jika kenangan tentangku adalah sesuatu yang dapat engkau ingat, maka aku akan mengingat segala sesuatu yang ada padamu.
Jika sepenggal demi sepenggal engkau menghapus kenangan itu, maka aku pun akan menghapus semua tentangmu sepenggal demi sepenggal.
Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, dan kamu mengajakku berkenalan layaknya orang asing,
aku akan memperkenalkan diriku padamu sebagai orang asing.

Jika saat perpisahan harus tiba, dan engkau belum mau mati, lalu mulai belajar mencintai orang yang mencintaimu,
Maka aku pun juga belum mau mati dan belajar mencintai orang yang mencintaiku.

Dan kita tidak akan pernah menemukan jawaban mengapa kita harus berpisah selain bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini.

Cuma Nyaris Mati

Puisi Ragil Koentjorodjati
pelepasan roh
Ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkali-kali,
tentang kecewa,
tentang pedih,
dan sedikit tentang luka.

untuk binarbinar mata yang menggelepar,
untuk getir hatihati yang menggetar,
untuk tubuhtubuh luruh dalam rapuh,
untuk jiwajiwa ranggas usai getas.

Ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkali-kali,
tentang amarah,
tentang benci,
dan sedikit tentang cinta.

mungkin juga pernah kaurasa,
hati tercabik -terbengkalai- putus asa,
ditinggalkan dan meninggalkan,
harga diri terbelenggu di lacilaci.
lalu perlahan dan mengular tumbuh keinginanmu untuk mati,
segera mati; mati segera,
hingga pasrah; hingga sumarah,
hingga tanpa kausadari nyawamu terbelahbelah,
tujuh belah.

satu nyawa mati untuk kekasih hati,
satu nyawa mati untuk ditinggalkan,
satu nyawa mati untuk meninggalkan,
satu nyawa mati untuk harga diri,
satu nyawa mati untuk pasrah,
satu nyawa mati untuk sumarah,
satu nyawa mati untuk tujuh nyawa hidup kembali.

lalu engkau akan mati berkalikali,
berkali dan berkali,
tidak ada lagi rasa takut mati,
engkau menunggunya dan terus menunggunya,
hingga bosan,
hingga engkau sanggup berkata,
:semua luka membuatku cuma nyaris mati.

Sungguh, ini adalah puisi kesekian kali yang rencananya kutulis berkalikali.

Kejadian

Puisi Binandar Dwi Setiawan

Ternyata bukan hanya segala yang kau sadari saja yang diperhitungkan oleh aturan aturan kejadian, tetapi juga untuk segala yang tidak kau sadari, untuk segala yang kau anggap tidak ada, untuk segala yang kau pikir tak pantas dijadikan pertimbangan aturan kejadian. Bajingan, semuanya terlalu tidak terjangkau akal untuk terjelaskan. Aku lukis begini saja, mereka – faktor faktor itu, segala yang kau tahu, segala yang tidak kau tahu, segala yang kau kenal, segala yang tidak kau kenal, segala yang kau anggap ada, segala yang kau anggap tidak ada- bagaikan para anggota senat yang hendak merumuskan sebuah keputusan saling berebut mengajukan pendapat dan argumen, sedangkan keputusannya sendiri bagaikan kejadian yang terjadi. Sang kejadian, memutlak sedemikian kuat tak bisa kau sanggah, tak bisa kau interupsi.

Mungkin kau bisa mengatur rencana ini itu, tetapi ketika kejadian telah benar benar terjadi pas sempurna sesuai dengan yang kau rencanakan sesungguhnya itu sama sekali tak berhubungan dengan sang rencana yang kau lahirkan. Aku tak sedang menakut nakutimu, tetapi memang begitulah faktanya. Aku tak sedang mengurangi kebesaranmu, tetapi memang kau adalah sesuatu yang kecil, yang bahkan demi kehalusan bahasa maka kukatakan sebagai sesuatu, sejujurnya kau sama sekali bukan sesuatu. Aku mohon, jangan kemudian lantas bertanya, “Siapa aku…?”, kau tak pantas untuk pertanyaan itu.

Ketika kau berdiri, kepalamu hanya akan dipukul untuk kau menunduk, ketika kau menunduk, punggungmu hanya akan dipatahkan untuk kau membungkuk, ketika kau membungkuk, sendi sendimu hanya akan dilepas dari tempatnya untuk kau menyungkur. Ancuuk, memang begitulah faktanya, semakin banyak kehidupan yang kau keras kepalai untuk kau hidupi, semakin banyak pula pilihan cara untuk membunuh kehidupanmu. Maka putuskan segera, apa yang kau pilih, mati dibunuh atau membunuh pembunuhanmu. Iya, menjadi kekallah, itulah impian para pemberani.

Ini bukan tentang penderitaan atau kebahagiaan, bukan tentang pesimis atau optimis, ini tentang kejadian dan ketidakpantasan yang dijadikan menuntut tentukan apa yang terjadi.

Kau tak berarti apapun. Tak menguasai apapun, tak memiliki apapun, tak memberhaki apapun. Ada yang sudah benar benar ada dan tak bisa mungkin disifati dengan ketiadaan, sedangkan kita tak lain hanyalah keadaan yang diingini semata. Maka kaulah wujud keinginan itu, dan bukankah keinginan dalam geraknya yang bagaimanapun tetaplah merupakan pelayan dari yang memilikinya. Semoga kau kini tahu, dan tak dikalahkan oleh tangismu.

Menjadi bebaslah kekasih, jangan pandang para ironi sebagai rantai yang membelenggumu. Sayang , kau memintaku menjadi diriku sendiri, dan kau tahu, satu satunya cara menjadikan aku sebagai diriku sendiri adalah dengan menjadikanmu sebagai dirimu sendiri. Jika kau tahu betapa rindunya aku terlepas darimu, mungkin kau akan segera pergi. Sayangnya yang kau tahu hanyalah bahwa aku begitu mencintaimu, ketahuilah aku, kenalilah aku sekeras kepala aku berusaha mengenalmu. Bahwa aku sesungguhnya menguasai, bahwa aku sesungguhnya memiliki, bahwa aku sesungguhnya memberhaki. Bahwa kau dan aku tak bisa bersatu dan tak bisa berpisah itu benar adanya, tetapi bukankah kau tahu jika fakta itu tetap saja tak mencegahku menantangmu menjadi pemberani.

Dewa Kecil Menari

Puisi Agung Triatmoko

Tarian anak jalanan - Sketsa Haryono

Dewa kecil menari
merengkuh debu jalanan dengan tangan-tangan mungilnya
merengkuh hati lewat hati diam
tak bersuara
tak mampu bersuara
tapi lantang menyentuh tiap relung lain

Dewa kecil menari
meletakkan dahaga kasih sayang pada ketipung jalang
menempelkan harapan pada gitar butut pengamen kecil
terserah
jika kau hendak hentikan dahaga
terserah, jika hendak kau pungut harapan
Dewa kecil tetap menari, memejamkan mata, meliuk, menghentak, bagai dewa dusta mengumbar nafsu
menjauh dari resah dan lapar
karena memang hanya itu yang dimiliki sang dewa kecil
Dewa kecil tetap menari

Tentang Engkau

Puisi Ragil Koentjorodjati

ilustrasi diunduh dari google
Aku membebaskanmu,
serupa bibir pantai melepas resah,
dari berjuta rasa yang dilesakkan kecupan ombak,
meski cecamar membisik: jangan!

Aku membebaskanmu,
sebebas petualang membawa hati terbang,
membadaikan rasa: jatuh-melayang-jatuh-mengawang,
meski sekeping diri terbawa, entah ke mana menuju.

Aku membebaskanmu,
sebebas kehendak mempermainkan tulus cinta,
hingga saat musim hujan tiba, aromaku akan bersamamu,
mengingat perih batin mengering di hari bergerimis yang setiap rintiknya adalah basah

Dan ketika semua kausadari,
betapa waktu mampu mengubah cinta,
kita bukan lagi manusia yang sama.
:bukankah sepenggal kata yang telah terucap tak mungkin ditarik kembali?

25/01/2012