LOMBA CERPEN RETAKANKATA

Oleh Ragil Koentjorodjati

Tidak terasa blog RetakanKata hampir berumur satu tahun sejak berdiri pada 13 Februari 2011, satu hari menjelang perayaan hari kasih sayang (Valentine Day). Pada usia yang masih sangat belia ini, RetakanKata sudah mempublikasi kurang lebih 125 artikel dalam waktu 10 bulan dan dikunjungi lebih dari 12300 kali. Memang belum berarti apa-apa untuk ukuran sebuah blog. Tetapi semua itu patut untuk disyukuri di tengah berbagai tantangan kesulitan sumber daya manusia pengelolanya dan juga tentu saja sumber daya finansial yang semuanya bergantung pada donasi pendirinya. Semua masih terus berproses untuk dan mewujudkan pembangunan budaya dengan pendekatan sastra. Budaya menulis, budaya membaca, budaya berpikir dan yang lebih penting mengurangi budaya instan.
Teknologi diciptakan untuk mempercepat proses dan berproduksi. Tetapi secanggih apapun teknologi, itu tidak mengubah bahwa manusia harus tetap berpikir, membaca, menulis dan belajar. Tanpa mempertahankan proses berpikir ini, teknologi akan mati dengan sendirinya dan kemudahan-kemudahan dari hasil teknologi pun akan mendatangkan kesulitan baru. Untuk itu perlu keseimbangan dan pemeliharaan agar manusia tidak terperangkap pada budaya instan yang semakin akut dan abai terhadap proses berpikir dan belajar, terbuai kehebatan dan kenikmatan dari hasil teknologi.
Untuk itu, dalam rangka peringatan 1 tahun blog RetakanKata dan dalam rangka mendukung pemeliharaan proses berpikir, blog RetakanKata menyelenggarakan lomba menulis cerpen dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia).
2. Tema: Bebas.
3. Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya cerpen dengan ketentuan.
• Peserta mengirim email dengan subyek LOMBA CERPEN RETAKANKATA ke retakankata@gmail.com dengan dilampiri dua file. Satu file berisi cerpen yang dilombakan (tanpa mencantumkan nama penulis dalam tulisan cerpen) dan satu file berisi biodata penulis secukupnya dan rekening bank serta dilampiri hasil scan kartu identitas.
• Peserta mendaftar dengan cara submit sebagai follower (daftar email berlangganan) pada blog RetakanKata dengan menggunakan alamat email yang akan digunakan untuk mengirim CERPEN serta tergabung dalam facebook page RetakanKata (Blog Seni dan Budaya). Pendaftaran lomba ini tidak dipungut biaya alias GRATIS. Batas akhir pendaftaran tanggal 5 Februari 2012.
• Batas akhir pengiriman naskah adalah tanggal 10 Februari 2012 pukul 12.00 siang WIB.
• Cerpen yang dilombakan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun portal dan blog pribadi.
• Cerpen tidak sedang diikutkan dalam perlombaan serupa.
• Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia.
• Cerpen adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan sebagian atau seluruhnya.
• Cerpen diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 4 cm dari atas, 4 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 3 cm dari kanan, dengan jumlah kata antara 1200 sampai dengan 3500 kata, termasuk judul dan catatan kaki.
• Cerpen tidak mencantumkan nama pengarang.
4. Penilaian cerpen menggunakan sistem blind review (penulis dan penilai tidak diketahui namanya). Unsur utama yang dinilai adalah keindahan, kepadatan (bernas) cerita, dan kebahasaan. Cerpen yang tidak memenuhi ketentuan pada butir tiga, secara otomatis gugur. Seleksi pertama, akan dipilih 15 (lima belas) cerpen terbaik. Seleksi berikutnya, dari lima belas cerpen terbaik tersebut, akan dipilih Juara I dan Juara II. Lima belas cerpen terbaik akan dibukukan.5. Hadiah:
• Juara I Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) ditambah buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
• Juara II Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) ditambah buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
• Peserta yang cerpennya masuk pada lima belas cerpen terbaik akan mendapat buku kumpulan cerpen lima belas terbaik.
6. Ketentuan lain:
• Semua cerpen yang dilombakan menjadi milik blog RetakanKata dan boleh dipublikasikan di blog RetakanKata.
• Lima belas cerpen terbaik menjadi milik bersama yaitu penulis dan blog RetakanKata.
• Keputusan juri atas lomba ini tidak dapat diganggu gugat.
• Apabila di kemudian hari ditemukan pelanggaran atas ketentuan lomba ini, maka tanggung jawab sepenuhnya ada pada penulis dan dikenai sanksi pencabutan penghargaan sebagai pemenang lomba, serta mengganti kerugian yang ditimbulkan.
• Keuntungan dari penjualan buku lima belas cerpen terbaik akan dibagi tiga yaitu, untuk sosial (panti asuhan dan anak jalanan), untuk penulis dan untuk blog RetakanKata.
• Ketentuan lain yang mungkin perlu ditambahkan dan hal-hal yang belum jelas akan disampaikan lewat email. Demikian juga dengan pertanyaan, agar disampaikan lewat email.Selamat Berkarya!

Terkait dengan Lomba Cerpen RetakanKata:
Informasi Lomba Cerpen RetakanKata

HATI

Puisi Rere ‘Loreinetta

Lubang hitam dalam hati kecilku tak bisa kutambal
ia selalu menyerap semua merah dalam jiwaku
bak pusaran air pada samudera bergejolak
yang selalu tenggelamkan hasrat penuh gelora

Sewaktu-waktu ia akan menelan seluruh hatiku
dan punahkan segala rasa yang pernah kupunya
yang bila itu kemudian terjadi mungkin aku tidak mati
hanya aku tak lagi memiliki hati

*RL/RLA/RK

Puisi-puisi Rere ‘Loreinetta:
Sajak Perempuan Terpasung
Tentang Engkau
Aku

DEVI DJA DALAM CATATAN RAMADHAN KH

Oleh Rere ‘Loreinetta

Menurut catatan Ramadhan KH, Devi Dja atau “Bintang Dari Timur” lahir pada 1 Agustus 1914 di Sentul, Yogyakarta, dengan nama kecil Misria dan kemudian menjadi Soetidjah. Dia sering menguntit kakek dan neneknya, Pak Satiran dan Bu Sriatun, ngamen berkeliling kampung memetik siter. Devi Dja memang memiliki minat seni sejak kecil. Dia juga berangkat dari keluarga Jawa yang miskin di awal abad ke-20.

Dan sejak itu, karirnya di Dardanella mulai menanjak. Perlahan tapi pasti ia berhasil menjadi menyaingi ketenaran Miss. Riboet dan Fifi Young, dua wanita pemeran utama Dardanella. Bersama Tan Tjeng Bok, Soetidjah menjadi sosok penting dalam kisah sukses grup Dardanella. Dia lalu terkenal dengan nama Miss. Devi Dja.

Saat Dardanella pertama kali mentas di luar negeri, Devi Dja baru 17 tahun. Usia yang kata Devi Dja lagi seger-segernya. Menurut catatan Ramadhan KH, saat Dardanella manggung di luar negeri, nama kelompok Dardanella mulai berganti-ganti, dengan personil yang juga berganti-ganti. Kecuali Pedro dan Devi Dja tentunya.

Dardanella lalu main di Hongkong, New Delhi, Karachi, Bagdad, Basra, Beirut, Kairo, Yerusalem, Athena, Roma. Terus keliling Negeri Belanda, Swiss, dan Jerman. Pada Mei 1937 saat manggung di India, rombongan mereka disaksikan oleh Jawaharlal Nehru yang kemudian jadi pemimpin negeri itu. Kabarnya Pedro dan Devi Dja sempat menginap di rumah Mahatma Gandhi.

Dan seperti dituturkan Devi Dja pada Majalah Tempo di tahun 80-an, saat bermain di luar negeri, Dardanella berubah namanya menjadi “The Royal Bali-Java Dance”. “Kami lebih mengutamakan tari-tarian daripada sandiwara, sebab khawatir penonton tidak tahu bahasanya,” katanya.

Ramadhan KH menulis, di tengah kegelisahan masyarakat Eropa khususnya, Pedro kemudian mengambil keputusan menyeberang ke Amerika saat mereka sedang berada di Belanda. Akhirnya bersama rombongan kecil Dardanella, Devi Dja naik kapal “Rotterdam” menuju Amerika.

Perhitungan Pedro ketika itu barangkali karena negara Amerika relatif lebih menjanjikan, lagipula Amerika tidak terlibat terlalu jauh dalam perang dunia pertama.

Dengan nama tenar yang disandangnya, sesampainya di Amerika mereka mendapat sponsor dari Columbia untuk mementaskan karya-karya mereka di hampir seluruh kota besar Amerika. “Kami keliling, tidur di trem saja. Cuma di New York menetap dua minggu,” tutur Devi Dja

SAJAK PEREMPUAN TERPASUNG

Puisi Rere ‘Loreinetta
kesalahan demi kesalahan
telah terjadi dan kauperbuat
melulu walau tanpa kausadari terus berkesinambungan
kesalahan-kesalahan itu telah menyatu dalam diri jiwamu
hingga sulit akan kaubasuh seka demi hilangkan jejak

kesalahanmu adalah
gambaran kesejatian dirimu
manalah mungkin akan terhapus walau oleh sang waktu

kesalahanmu adalah
selalu merak hati, menyentuh hangat
setiap hati yang mengenalmu, dengan canda keceriaanmu
tebarkan pesona kehangatan yang membumi

kesalahanmu adalah
tampil terbiasa apa adanya dengan
aura kecerdasan yang terpancar dari mata indah sayumu
dalam wajah sumringah penuh tulus kasih sayang

kesalahanmu adalah kaubukan perempuan biasa
kepiawaianmu gemulaikan aneka tarian di panggung
kehidupan dalam beragam peran nan menantang mampu
jadikanmu bagai pemain watak dalam arena hidupmu
hingga mempesonakan bagi jiwa-jiwa pemerhatimu

kesalahanmu adalah
pesona khas yang deras memancar
dari aura ketubuhanmu, mampu menggugah alam khayal
dan menggoda hasrat setiap lelaki yang mengenalmu

kesalahanmu adalah
pernah kautitipkan rasa jiwamu kepadanya,
dengan segala angan serta harapan besar
dengan segala persembahan cintanya yang hanya untukmu
kaunikmati dalam keterlenaan semu dan memabukkan
dan lalu semua menjadi sangat memuakkan bagimu

kesalahanmu adalah
realita kau ialah cinta sejatinya
dicintai dengan segala deras peluh dan aliran darah
dengan segala perih luka dan duka, tapi nan berharga
kau adalah cinta dan kehidupannya, nyawanya
kau adalah kembang kejora kehidupannya

kesalahan-nya adalah
cinta yang sedemikian agung itu
harus terkotori oleh segumpal awan angkara murka
hingga sedemikian terlalu dia menguasai dan
merampas serta menghentikan arti sebuah perjalanan dan pencapaian sebuah ironi kehidupan terjadi.

kini, engkau terjebak dalam kekosongan
terjepit di antara dua kepentingan sejati

antara bergerak dan terpaku
antara berjalan dan berhenti
antara bicara dan terdiam
antara hidup dan mati
antara cinta dan benci?

*Tanah Jawa kala itu , ……

ILUSTRASI : FOTO DEVI DJA, tidak terkait dengan materi sajak di atasnya.

Puisi Chaliq Amiel Abdul

2012

Tadi malam
Dedaunan serta reranting
yang berbulan kemarin kita eluelukan
musnah sudah
mengalir di sungai waktu
dan nyasar entah di mana

hening …

namun tadi pagi
seperti terlonjak
daundaun hijau tumbuh kembali
rapihkan pohon yang sekarat
kencangkan akarakar yang mulai lemas

berseri …

hidup adalah catur perubahan
taktik, intrik selalu kelitkelindan

o, mengesankan

apa bahasa yang hendak kita
raungkan selanjutnya pada langit merenta
pada mentari yang lanjut usia

belum rasanya terpikirkan
tapi waktu terus melaju
meninggalkan kita yang tanpa
harapan sekalipun

Sumenep, 22.00 31 12 2011

Puisi Wong Karang

1. Maya, Bukan Penyamun
Di tebing tahun ini legenda kata menyerut nyali kidung kidung debu suci penyair.
Pijahan kata menguak mata jendela yang mungkin di setiap sirat terlafal sarat mengaramkan rasa.
Secantik romannya mengemban santun di setiap gelaran naluri imajinasinya meraba, mengulum magma roh rabbani.
Gema disudut catatan sunyi hati, dendam kerinduan, terjal kasih berbara sarat menyapa asma asma pemabuk yang kehausan renungan tuk memercikan air suci di jiwanya.
Maya, tundukkanlah raut muka di setiap lengang parit hati pemuja, dendangkan lekuk ranting jari jari tangan di antara pelataran malam.
Teriakkan sekeras petir, bait bait relung dari dasar laut. Raih dan gelorakan jati diri yang tersembunyi dari sebuah sekian tanya. Dan sembunyikan yang seharusnya kaukaramkan di pijakkan telapak kaki.

Maya,,, pastikan di sana selalu berkata dan jawab sendiri…
Maya,,,

2. Hampar Malam
Sepanjang mata bercahaya temaram malam
Terdengar bisik kata atas hijau hamparan
Jemari tangan menjelajah menggetarkan rasa
Dada dingin tersaput embun memejam malam
Bibir bibir merah lumat berdecak
Saling menuang haus liur hitam

Bulan tertutup awan di sepanjang gairah
Rumput tergilas perhelatan
Sesaat, diam…
Sesaat, bergetar…
Cahaya lampu di sudut kejahuhan
Tenggelam dan padam
Hanya dentang suara hati
Tak ada janji suci
Tak ada kembali
Yang adanya tissu basah usap keringat
Pengganti lenyapnya dahaga
Pelampias cowong muka tua
Menghabiskan garis di larut hitam
Nafsu hitam…
Malam hitam…
Kesetiaan beradu samar cahaya bulan
Berlimut gerayang menguak sela airmata dosa

3. Cacing Tanah

cacing cacing tanah
hak terampas

tak ada hidup,
rumput rumput digilas

tak lagi tergali,
bajak membajak tanah

cacing cacing tanah
tertindas

CAKRA MANGGILINGAN: Harapan Sebuah Perputaran Menuju ke Arah Lebih Baik

Oleh: Rere ‘Loreinetta

Cakra manggilingan bagi sebagian masyarakat adalah filosofi atau keyakinan berputarnya roda kehidupan baik mikro maupun makro. Demikian pula dengan berputar dan terbatasnya kekuasaan.

Bentuk melingkar cakra manggilingan, atau bentuk lain yang tertutup itu dimaksudkan sebagai model membuat keseimbangan. Bila salah satu bagian tidak berfungsi sesuai peran dan atau kecepatan berputarnya, maka keseimbangan itu akan terganggu dan bahkan bisa hancur. Bilamana masih memungkinkan, akan dilakukan perbaikan (recovery) pada titik kerusakan itu hingga pulih kembali, atau terjadi keseimbangan baru.

Hukum alam Tuhan memang mengatakan sebuah kondisi tak stabil akan membuat ‘pergerakan’ untuk menuju kestabilan, tapi apa yang terjadi di alam hampir selalu, perjalanan menuju kestabilan itu menyebabkan ke ketidakstabilan-ketidakstabilan baru yang selisihnya justru semakin banyak ketidakstabilannya daripada kestabilannya.

Perlu dahi berkerut untuk memikirkannya memang, tapi begitulah teori itu. Pemahaman yang membuat pemikirnya konon menjalani kehidupan sufi dan tak henti-hentinya selalu memuja kebesaran Ilahi.

Mencoba membawa pengertian hukum alam ini kepada sebuah hukum sosial peradaban umat manusia. Yang tentunya juga semakin logis bila kita mengatakan bahwa ‘perjalanannya’ akan semakin tidak stabil tinimbang hukum alam. Karena yang terlibat di sini adalah umat manusia yang jauh dari sempurna pemahaman, akal, pikiran dan perilakunya tarhadap peri kehidupannya di muka bumi ini.

Sebuah ketidakstabilan yang ‘memaksa’ setiap orang untuk selalu bergerak, selalu berpikir, selalu mencari hal baru, selalu mencoba memperbaiki, dan di antara sekian banyak perbaikan di muka bumi ini, sebagian justru menimbulkan masalah baru, yang bisa jadi lebih besar membuat ke ketidakstabilan baru dari kestabilan yang diperoleh dari perbaikan sebelumnya, menimbulkan semangat untuk tetap bergerak, semakin berpikir, semakin mencari hal baru, demikian seterusnya.

Sebuah siklus yang terjadi pada sebuah komunitas peradaban sekelompok umat manusia pada satu daerah dan satu ras tertentu. Dan menariknya, perputaran siklus ini di daerah lain dan suku bangsa lain bisa berbeda, ada yang berputar cepat ada yang pelan, ada yang suatu ketika sebuah ras mencapai kejayaannya, sementara saat yang sama ras lain mencapai kejumudan. Dan di lain waktu, yang jaya menjadi jenuh, sementara yang di bawah, tumbuh membaik.

Itulah semua yang mungkin digambarkan sebagai kejadian ‘roda berputar’. Roda tak tampak yang begitu besar, menjangkau segala sisi kehidupan, baik yang bersifat hukum alam, maupun hukum sosial, dan melibatkan semua faktor yang ada di alam semesta ini.

Dan yang membuat kagum adalah ketika para filsafat dan budayawan Jawa dulu ternyata juga sudah melihat perputaran roda itu, dan membuat sebuah ungkapan pemikiran : CAKRA MANGGILINGAN

Ketika manusia mampu merubah diri k earah lebih baik dan lebih baik lagi,

Perkembangan potensi manusia tentunya tidak akan berkembang pesat apabila mental spiritual, dan pola pikirnya masih terbelenggu oleh sistem nilai yang diam-diam mengikat kesadaran dari dalam alam bawah sadar itu sendiri.
Agama pun sesungguhnya bukan untuk mengungkung mental, mengurung kesadaran dan kebebasan berpikir, serta membelenggu kemampuan jelajah spiritual manusia.

Sebaliknya, sungguh ideal di saat mana agama dipahami sebagai guidance (pemandu jalan) agar potensi dan prestasi manusia mampu mengembangkan kemampuan pikirnya secara maksimal, dengan orientasi yang terarah, bermanfaat sebagai berkah bagi alam semesta dan seluruh isinya.

Pada hakekatnya peran semua agama bukan bertujuan untuk membatasi perkembangan potensi diri, kreativitas dan inovasi manusia. Melainkan menjaganya agar jangan sampai inovasi manusia disalahgunakan sehingga membuat kerusakan-kehancuran di muka bumi. Sebagai contoh, bila kita percaya bahwa Tuhan itu berkah bagi alam semesta maka dinamit bukan untuk digunakan membunuh manusia lainnya, melainkan untuk menciptakan energi yang dimanfaatkan bagi kesejahteraan umat, serta menjaga dan melestarikan anugrah Tuhan berupa lingkungan alam.

Dapat dibayangkan besarnya prestasi apabila manusia mampu mendayagunakan potensi diri yang lebih besar lagi, hingga mencapai 50 %-nya saja. Sebab biar seberapa pun kemajuan dan kedahsyatan potensi manusia seperti contoh di atas, kenyataannya bagian yang 90% potensi masih terpendam di dalam diri dan dibiarkan sia-sia begitu saja.

Maka tugas masing-masing kita adalah bisa membuka, menggali, mengenali, mengembangkan, lalu memanfaatkan potensi diri lebih baik daripada hari ini.
Bukan untuk mengejar kepentingan pribadi, melainkan untuk menggapai kebaikan yang lebih utama, yakni menghayati makna berkah bagi alam semesta, dengan berprinsip memanfaatkan hidup kita agar berguna bagi sesama, seluruh makhluk, dan lingkungan alam.

Apabila prinsip ini kita terapkan dalam lembaga terkecil keluarga, niscaya keluarga anda akan harmonis, tenteram, selamat, sejahtera, dan selalu kecukupan rejeki. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala.

Semoga kita semua akan terlindung dari segala kefakiran ;
fakir kesehatan, fakir harta, fakir ilmu, fakir hati nurani, fakir budi pekerti.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa :
Sebuah ketidakstabilan yang ‘memaksa’ setiap orang untuk selalu bergerak, selalu berpikir, selalu mencari hal baru, selalu mencoba memperbaiki, dan di antara sekian banyak perbaikan di muka bumi ini, sebagian justru menimbulkan masalah baru, yang bisa jadi lebih besar membuat ke ketidakstabilan baru dari kestabilan yang diperoleh dari perbaikan sebelumnya, menimbulkan semangat untuk tetap bergerak, semakin berpikir, semakin mencari hal baru, demikian seterusnya.

Sebuah siklus yang terjadi pada sebuah komunitas peradaban sekelompok umat manusia pada satu daerah dan satu ras tertentu. Dan menariknya, perputaran siklus ini di daerah lain dan suku bangsa lain bisa berbeda, ada yang berputar cepat ada yang pelan, ada yang suatu ketika sebuah ras mencapai kejayaannya, sementara saat yang sama ras lain mencapai kejumudan. Dan di lain waktu, yang jaya menjadi jenuh, sementara yang dibawah, tumbuh membaik.

Itulah semua yang mungkin digambarkan sebagai kejadian ‘roda berputar’

~di perut ibuku ada parit kotor~

Puisi Ragil Koentjorodjati

Ilustrasi dari wordpress.com
Di perut ibuku ada parit kotor,
tempat yang pernah ditelannya bersemayam,
melebur mendarah daging,
bersama cacian dan hinaan,
mengalir di arteri, vena dan tiap urat nadi

Di perut ibuku ada parit kotor,
cukup dalam untuk menenggelamkan keluh kesah sumpah serapah,
cukup luas untuk cacingcacing yang tidak peduli tubuh kurus kering,
cukup berair untuk mengalirkan getir kata dan perilaku para kikir,
cukup kotor untuk kuketahui kapan jernih pernah singgah,

Di perut ibuku ada parit kotor,
Tempat aku bermain dan berenang,
Siang dan malam, selama sembilan bulan.

#selamat hari ibu#
22 Desember 2011

CANDI SUKUH: MIRIP INCA DAN EROTIS

Oleh Rere ‘Loreinetta

Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu, di Desa Berjo Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebuah candi yang memiliki struktur bangunan yang unik karena bentuknya mirip bangunan piramid bangsa Maya. Menurut promosi Dinas Pariwisata Karanganyar, candi yang dibangun masyarakat Hindu Tantrayana tahun 1437 itu selain merupakan candi berusia paling muda di Bumi Nusantara juga candi paling erotis.
Yang unik, di kompleks candi ini terdapat patung-patung makhluk bersayap. Makhluk ini disebut sebagai garuda karena salah satu patung yang masih utuh menunjukkan kepala seperti burung garuda. Hanya saja, patung-patung ini memiliki tangan dan kaki seperti manusia dan sayap seperti malaikat. Apakah patung ini menggambarkan makhluk alien?
Konon, candi ini merupakan saksi terakhir kejayaan kerajaan Hindu di Jawa. Struktur situs Candi Sukuh sangat unik jika dibandingkan dengan kompleks candi-candi lain yang ada di Indonesia. Kompleks Candi Sukuh terdiri dari beberapa teras yang mengingatkan kita pada struktur punden berundak pada zaman megalitikum. Oleh karena itu, banyak ahli yang menyebutkan bahwa candi ini merupakan hasil akulturasi agama Hindu dengan kepercayaan terhadap arwah nenek moyang yang telah ada di daerah itu.
Candi ini sangat sederhana dan berisikan sejumlah relief dengan berbagai bentuk. Di antaranya bentuk kelamin laki-laki dan wanita yang dibuat hampir bersentuhan. Pada deretan relief-relief yang menghiasi dinding candi juga digambarkan relief tubuh bidadari dengan posisi “pasrah” serta relief rahim wanita dalam ukuran cukup besar.
Relief-relief seks itu menggambarkan lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita melalui relief ini dilambangkan bukan melampiskan hawa nafsu, tapi sangat sakral yang merupakan curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.
Candi ini dianggap cukup kontroversial. Hal ini disebabkan banyaknya simbol-simbol seksualitas yang dapat ditemui di kompleks candi. Simbol-simbol “lingga” dan “yoni” dapat kita temui pada relief atau pun arca yang ada.
Dan uniknya, simbol-simbol kesuburan ini tergambar dengan jelas. Tanpa diberitahu oleh siapa-siapa pun kita akan tahu melambangkan apa simbol-simbol itu. Lihatlah bentuk lambang seksualitas ini.
Relief phallus yang bertemu dengan vagina dan terdapat pada lantai dasar Gapura teras pertama Candi Sukuh.

Selain itu sekitar candi juga dipenuhi relief-relief yang satu sama lain tidak berhubungan sehingga menimbulkan banyak ceritera. Kisah-kisah tentang relief itu bisa beragam tergantung persepsi orang-orang sesuai dengan sudut pandangnya. Ada legenda Dewi Uma yang dikutuk suaminya Batara Guru karena berbuat serong dengan seorang penggembala. Ada juga ceritera wanita yang kalah judi lalu dibebaskan di candi ini sehingga bisa masuk sawarga (surga). Legenda warga setempat menyebut candi ini merupakan tempat bertemu dengan roh yang sudah meninggal.
Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru.
Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarga negara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai.
Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), di mana semakin ke belakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candra sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”.
Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Di lantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang tampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja dipahat di lantai pintu masuk (gapura) dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.
Pada teras kedua juga terdapat gapura namun kondisinya kini telah rusak. Biasanya di kanan dan kiri gapura tersebut terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, namun di teras kedua ini penjaga pintu sudah dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candra sangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama!
Pada teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Relief yang menggambarkan ketika Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku "Pancanaka” ke perut raksasa
Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Dengan struktur bangunan seperti ini boleh dibilang Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang di tengah itulah tempat yang paling suci.
Sedangkan ikhwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan.
Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapak yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.
Di sebelah selatan jalan batu, pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya.
Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama Bethari Uma. Sudamala bermakna ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”. Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala.
Arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru
Pada lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu.
Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.
Secara keseluruhan, mengunjungi objek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief-reliefnya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa. Tentunya hal ini merupakan bukti yang menunjukkan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Another Wonder of the World
Hasil kontes kepopuleran situs sejarah yang kemudian mereka sebut New 7 Wonders, menjadi menarik dengan masuknya salah satu situs sejarah peradaban Maya, yang berupa piramida di Chichen Itza. Melihat bentuk bangunan ini boleh jadi kita akan teringat Candi Sukuh, sebuah situs bersejarah yang ada di Jawa Tengah.
Bandingkan kemiripannya.
piramida Inca dan candi Sukuh Indonesia

Yang menarik adalah bentuk dari candi utama. Bentuk candi ini sangat mirip dengan bentuk bangunan-bangunan bersejarah yang ditemukan pada peninggalan-peninggalan kebudayaan Maya dan Inca.

Bagaimana ceritanya ya, hingga bisa memberikan deduksi yang dapat diterima mengenai kesamaan arsitektur di dua tempat yang terpisah sangat jauh. Anehnya, Candi Sukuh merupakan satu-satunya candi di Indonesia yang memiliki arsitektur seperti ini. Mungkinkah ada bangsa Maya atau Inca yang tersesat sampai Sukuh?
Tapi, bagaimana mereka bisa sampai tempat ini? Kalaupun itu benar, berapa lama perjalanan yang telah mereka lakukan?

Candi Sukuh tampak depan
Ada teori yang menyatakan bahwa candi ini dibangun oleh makhluk yang berasal dari luar bumi. Mungkin memang tidak logis, tapi apapun itu, kita tidak bisa membuktikannya bukan?

Kalau kembali mengacu kepada gelar Another Wonder of the World, di mana bangunan piramida di Chichen Itza saja dianggap sebagai keajaiban dunia, mengapa Candi Sukuh tidak?
Tetapi sekali lagi menyimak keterangan di atas, bahwa secara keseluruhan, mengunjungi obyek wisata Candi Sukuh memberikan pandangan baru akan bentuk candi maupun relief-reliefnya yang tidak lazim seperti layaknya candi-candi lain di pulau jawa. Tentunya hal ini merupakan bukti yang menunjukkan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Bahwa ada kesamaan atau kemiripan antara bentuk candi sukuh dengan bangunan piramida di Chichen Itza, tentunya perlu penelitian lebih lanjut, adakah kaitan antara keduanya. Dan memang sampai sekarang para ahli sejarah belum bisa mengaitkan antara keduanya sehingga masih merupakan misteri.
Hal serupa juga terjadi dengan Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur, juga menyimpan relief-relief yang aneh yang masih menjadi misteri bagi para ahli sejarah.

Relief lain di Candi Sukuh

Anjing Sentimentil

Puisi John Kuan

gambar dari 2.bp.blogspot.com

Langit petang baru selesai dipernis mengkilap,
sekuntum awan, seekor elang, sebatang tiang layar
tertangkap basah bersekutu mencorengnya
di bibir pantai ada orang bersandar di atas kursi plastik merah
ngebir sambil bercerita sebongkah hati tertusuk anak panah
di lengan kiri, merah telah mengerut hitam, anak panah berkarat
Di depan pintu bar Good Times ada orang menyapa Saturday Night Fever
menunggang Chevrolet lewat sambil menggigit Kansas di antara bibirnya
dari arah dermaga gairah numpang lewat di atas tubuh-tubuh lelaki
pergi mengejar ombak, alkohol dan teriak mesin
aku bayangkan seekor anjing sentimentil gigit remang lampu jalan menyalak

Duduk di atas garis Khatulistiwa
aku bayangkan tahun-tahun penjelajah mengarungi bersama ikan paus
dari Lautan Teduh mengayuh ke arah bibir pantai Samudera Hindia
mungkin Manusia Jawa masih berjongkok di dalam gua
atau sedang berburu di hutan perawan yang liar, tubuh penuh bulu
Manusia Peking di daratan Benua Asia
batok kepalanya terkunci di dalam laci gelap yang mana?
atau sedang sibuk di setiap mulut pasar bandar-bandar dunia
dan aku duduk jadi sebatang pohon Sunda Kelapa
menyaksikan orang kulit gelap, kulit putih, kulit kuning mengejar arus datang
mengapit senapan, meriam dan peradaban
aku bayangkan seekor anjing sentimentil mengibas ekor di kaki mereka

Sudah hampir terbakar jadi puntung rokok terakhir
kau masih menyungging amarah dan geram di sudut bibir
dan hampir pasti sudah kehilangan tanah air, semoga ada mimpi
dua tiga batang palem berdiri canggung seperti imigran baru
di depan kedai kopi, sekali duduk sudah tiga puluh musim
hanya melihat sekelompok burung datang bersarang dan pergi
kupu-kupu terus bermetamorfosis, dan kau tetap canggung
seperti imigran baru, cairan ingatan larut bersama gula dan kafein
akhirnya dapat rebah sebagai satu kerutan bisu di atas ranjang
sesekali mengintip cahaya matahari melancong ke bangku ujung jembatan
di pulau kecil itu, di sana aku bayangkan bersama anjing sentimentil lagi

Obrolan Cangkrukan Ir Soekarno Vs KH Wahid Hasyim Soal Monas dan Istiqlal.


Oleh Rere ‘Loreinetta

Monumen besar atas bangsa ini dari pemikiran Soekaro adalah Tugu Monas dan Masjid Istiqlal. Dua bangunan itu cukup monumental di zamannya, dan di zaman sekarang pun masih terlihat gagah dan berani, seberani dan segagah pemikiran Soekarno.

Peletakkan batu pertama di kedua bangunan ini nyaris bersamaan, dan sedikit menimbulkan pro kontra antara Ir. Soekarno dan KH. Wahid Hasyim.

Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) menjadi Menteri Agama waktu itu dan bersama para ulama lain berkeinginan mendirikan masjid skala Nasional.
Ide itu dicetuskan tahun 1950, atas sepertujuan presiden dibentuklah kemudian ketua panitia pembangunan sekaligus Ketua Yayasan Istiqlal, yaitu Bapak Anwar Cokroaminoto.
Pemikiran ini disampaikan sekali lagi kepada presiden, dan beliau sangat setuju dengan pembangunan masjid Istiqlal skala nasional. Maka tahun 1961 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan masjid.

Pada tahun 1961 juga Ir. Soekarno melakukan peletakkan batu pertama pembangunan tugu Monas. Dua bangunan yang cukup besar dan mustahil untuk zaman itu, karena rakyat masih sengsara, sementara pemerintah dalam pembangunan masjid dan monumen tentu menyedot biaya milyardan rupiah, (untuk Istiqlal pembangunan pertama menelan biaya 12. juta dolar Amerika, selesai tahun 1978), demikian juga Monas sangat sebanding atas pembiayaan APBN-nya.

Demi cita-cita yang besar ini, kedua proses pembangunan mengalami titik tegang antara Presiden dan Menteri Agama.

Presiden Soekarno melakukan peletakkan batu pertama untuk Istiqlal, demikian juga untuk tugu Monas. Setelah melakukan peletakkan batu pertama Soekarno melanjutkan pembangunan Monasnya, sementara Istiqlal ditunda sementara.

Kebijakan ini menurut Menteri Agama sangat tidak logis, sama dengan melecehkan tempat ibadah. Presiden lebih mengutamakan Tugu daripada Masjid.

Umat Islam protes dan berpandangan negatif terhadap pemikiran Soekarno.
Para Ulama mengajukan petisi gugatan yang diwakili oleh Menteri Agama, KH. Wahid Hasyim. Wakil umat ini menyampaikan protes kepada presiden. Ia mendatangi istana dengan serius sekali menyampaikan amanah umat.

Setelah menyampaikan proses itu, dengan tenang Soekarno menjawab (menurut prolog sumber, keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa Timuran),
“Kenengopo aku ndisikno tugu karo masjid….!”
artinya : (kenapa aku mendahulukan membangun tugu daripada masjid)

Selanjutnya kata Soekarno,
“Tugu iku uwekku, teko pikiranku kanggo negoro…, sa’wayah-wayah aku mati, sopo seng nerusno mbangun tugu! Ora ono!”
artinya : (tugu itu milikku, dari pemikiranku untuk negara sebagai monumen. Jika sewaktu-waktu aku mati, siapa yang akan meneruskan, Tidak ada! ini hanya tugu saja)

KH. Wahid Hasyim diam, ia mendengarkan petuah Sooekarno selanjutnya,
“Bedo karo masjid, Khid ! Sa’wayah-wayah aku mati, kowe seng nerusno. Sa’wayah-wayah awakmu mati, ono umat Islam seng mikirno lan nerusno pembangunane. Lan Tugu, ora ono seng nerusno!”
artinya : (Beda kalau masjid, Khid ! Jika aku mati, kamu bisa meneruskan. Atau jika engkau mati juga, maka di belakang masih ada umat Islam yang memikirkan dan meneruskan pembangunan masjid, dan tugu tidak ada yang meneruskan pastinya).

KH. Wahid Hasyim tidak memberikan komentar.
Beliau memahami maksud Soekarno, dan membenarkan pemikiran sang presiden.

BEGITULAH ADANYA..
Suatu pemikiran yang mendalam dan luar biasa atas bangsa ini, tanpa skat-skat kepentingan di dalam hati dan pemikirannya atas keanekaragaman bangsa dan negaranya.
Seorang politisi yang memegang teguh politik kerakyatan dan kebangsaan, ia tidak hanya berkutat pada politik praktis saja walaupun hidup masa muda aktif di dunia politik.

Politik baginya atas bangsa ini sebagai alat untuk kesejahteraan dan kebesaran bangsa dan rakyat. Bukan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan nafsu sesaat saja.

Sumber : internet.

Karena Setiap Kata Punya Makna