Arsip Kategori: Cerpen

Kinanti

Cerpen Uzairul Anam
malaikat maut
gambar diunduh dari mediaphotobucketdotcom
ALIEN muncul lagi. Aneh. Terlalu sering menampakkan diri tiba-tiba, tanpa bisa diduga. Masih mending bila muncul dengan salam sapaan. Selalu, orang itu datang mengagetkan. Pantas, Kinanti menyebutnya Alien.
“Aku Abdi,” jawab Alien, saat Kinanti bertanya nama.
Katanya ia datang dari seberang. Tak jelas seberang mana. Katanya ia memang sengaja ditugaskan menemui Kinanti. Tapi yang terlintas di pikiran Kinanti, Abdi tak lebih dari sekadar lelaki hidung belang yang gemar merayu. Selama ini Kinanti beranggapan, lelaki mana yang tak ngilu saat melihat bempernya melenggak-lenggok. Lelaki mana yang tak kepincut melihat gincu merah pekat di sepotong bibirnya. Dan lelaki mana yang tak menginginkannya sebagai teman ranjang saat melihat rok mini super ketatnya. Selama ini Kinanti sukses menjaring mangsa berhidung belang.
“Kau selalu mengagetkan. Bisakah kau lebih pandai lagi bergaul? Salam itu penting. Kau tahu berapa banyak orang mati bunuh diri karena tersinggung tak pernah mendapat salam dari orang lain?” Kinanti meracau. Ia bosan dengan sosok Abdi, si Alien itu.
“Ah, kenapa kau belum terbiasa dengan kedatanganku? Ayolah… Maksudku baik. Aku selalu mengunjungimu saat kau butuh teman, bukan? Dan itu penting untuk orang sepertimu.” Abdi menjawab dengan santai. Dengan senyum. Dengan suara yang terlalu lembut untuk seorang pria.
“Kau gila! Aku tak butuh teman sepertimu. Sebentar lagi, pasti ada yang datang menghampiriku. Yang tampan, tajir, pandai melucu, dan lebih sopan ketimbang Alien sepertimu.”
Okey. Baiklah, aku pergi.” Abdi melangkah menjauh. “Oh. Aku lupa. Aku ingin mengajakmu pulang. Kau mau, bukan?”
“Pergilah!”
Ribuan kali Abdi mengajak pulang. Kinanti selalu bertanya-tanya, ke mana ia akan dibawa pulang oleh Abdi? Ke kampung halamannya di Jawa pelosok sana? Yang tak pernah tampak di peta meski memakai kaca pembesar ekstra. Karena memang pembuat peta tak akan sudi menuliskan nama kota asalnya. Atau mungkin karena kampung halamannya memang tak perlu ada. Bisa jadi karena sebab itu, tempat tinggal Kinanti dulu tak pernah tersambangi subsidi pemerintah. Lantas, alasan klise laiknya si fakir dialami pula oleh Kinanti. Ia pun merantau ke kota, pusat peradaban. Berbekal ciuman tangan-kaki orang tua, Kinanti nekat menerobos gemerlap kota yang sejatinya temaram.
Dan jadilah Kinanti seperti sekarang ini. Seorang pedagang. Yang hanya berjualan di malam pekat. Para pembelinya adalah mereka yang haus jimak. Dan barang dagangannya pun harus dipesan satu paket: hotel dan alat pengaman.
Setelah Abdi pergi, Kinanti seorang diri di bangku kosong memandangi gelinding roda-roda kendaraan. Di pinggir jalan. Di depannya pelalulalang berseliweran. Acap dari mereka melengos ke arahnya. Macam-macam mata pria. Ada kalanya terbelalak, ada kalanya melirik munafik. Namun bukan Kinanti jika tak mahir membaca situasi. Seorang pengemudi memperlamban mobilnya. Ia menegur sapa Kinanti. Keduanya bertransaksi. Dunia malam menawar janji birahi. Kinanti pun masuk mobil setelah keduanya ada akad janji.
Yang terjadi kemudian, Kinanti dibawa terbang ke arah losmen syaitonirojim.

***

KEMBALI. Di malam berikutnya. Kinanti hadir di bangku kosong. Bangku panjang di pinggir jalan. Hanya ia sendiri duduk di sana. Di bawah langit gelap pekat. Berisi sekadar satu-dua bintang. Sisanya, rembulan amat pelit malam itu. Ia tampil menggores seumpama luka sayatan. Tepatnya, seperti sayatan di punggung kanan Kinanti.
Ia ingat–mungkin juga tak akan pernah lupa. Kejadian menjijikkan yang dilakukan majikannya dulu. Majikan yang menampungnya saat pertama kali menjejakkan kaki di kota pusat peradaban itu. Bermula ketika majikan laki-laki ingin menggagahi tubuhnya, yang sembilan belas tahun pun belum genap. Kala itu ia meronta sejadi-jadinya. Tubuh tambun seberingas binatang. Kinanti berdaya seujung jari lentik. Apalagi, si majikan biadab mengancam dengan benda metal mengkilap: pisau dapur. Kinanti punya naluri seorang wanita suci. Berusaha sekuat tenaga mengelak. Namun pisau terlanjur menggores punggung kanannya. Fatal jika melawan. Ia takluk oleh keadaan. Kinanti terkapar, terjerembab, lunglai tak berdaya. Jadilah musabab dari kenaasan-kenaasan hidupnya kemudian.
Kinanti terpekur mengulas pil pahit masa lalu. Kembali ia melangut di pinggir jalan sembari menanti pelanggan.
“Ah, melamun lagi.” Suara itu kembali mengagetkan Kinanti.
“Selalu saja begitu. Sudah kuduga kau pasti datang lagi.”
“Kenapa? Kau rindu?”
“Tunggu sampai aku sakit jiwa. Baru aku sudi merindukanmu.”
Sebagaimana lazimnya, Abdi datang dan membuat kesal Kinanti.
“Sebenarnya untuk apa kau ke sini? Kau selalu bicara tak jelas. Kali ini kumohon. Jujurlah padaku. Kau ingin tidur denganku, bukan? Kau tak punya uang tapi ingin meniduriku. Mimpi sajalah!”
Abdi terkekeh mendengar pernyataan itu. Kinanti bak pendakwa. Makhluk paling sok tahu.
Sudah dua minggu Abdi muncul di kehidupan Kinanti. Ia selalu muncul tepat saat Kinanti duduk sendirian di malam sunyi. Saat Kinanti menunggui pelanggan di pinggir jalan. Tak jauh dari situ, gapura batas kota berdiri. Gapura yang jika di kampung Kinanti kerap teronggok sesaji di bawahnya. Entah pesugihan, entah pekasih. Yang jelas, gapura adalah pintu masuk sebuah kota. Sedangkan pintu diidentikkan keluar-masuknya bala. Dan mungkin tradisi jampe-jampe semacamnya belum pupus di kampung halaman Kinanti. Warga satu dusunnya belum open-minded dengan teknologi dan modernisasi. Tak lain dan bukan salah lagi. Alasan utamanya, sebab kebodohan. Masa jahiliyah tak kunjung pungkas karena susahnya mengenyam bangku sekolah. Pun dengan Kinanti. Ia amat bersyukur bisa lulus SMP. Teman masa kecilnya banyak yang hanya lulus SD. Atau malah buta huruf.
“Sepertinya susah, bila sekejap saja kau tak melamun, Kinanti,” ujar Abdi memecah bisu.
“Benar sekali. Memang susah bagiku memahami jalan takdir. Ah, sudahlah. Kau tak akan mengerti keadaanku, nasibku, takdirku. Tak ada yang bisa mengerti. Mereka semua hanya melihatku dari luar semata. Lalu merutukku. Mereka bilang aku jalang.”
“Kau benar. Aku memang tak mengerti. Bahkan aku tak mau mengerti bagaimana keadaanmu, nasibmu, takdirmu. Aku tahu kau sudah sangat muak hidup di kota ini. Makanya, aku ingin mengajakmu pulang.”
“Pulang kemana? Aku mau turut kau bawa pulang. Kemana pun itu. Tapi tunggu sampai aku bisa kembali bersih. Tunggu hingga tubuhku kembali suci.”
“Kalau begitu, lakukanlah sekarang.”
“Kau gila. Aku bisa kembali suci hanya dengan reinkarnasi.”
Keduanya terdiam. Abdi melihat Kinanti kembali melangut. Tampak raut sendu Kinanti. Pundaknya memberat seolah ada puluhan peti kemas di atasnya. Tak lama, Abdi pun pergi. Tanpa permisi.
Sesaat setelahnya, mobil mewah berplat merah menghampiri Kinanti. Mereka bertransaksi. Dan klik! Wajah sepakat terpampang di kedua roman muka. Kinanti dibawa terbang lagi. Ke hotel, atau ke losmen syaitonirojim.

***

LALU kali ini. Di minggu lainnya. Kinanti masih tetap menjadi wanita yang sama. Yang gigih berdagang di malam hari.
Kulitnya entah terbuat dari apa. Angin malam tak mempan lagi. Ia pandai menahan gigil. Mungkin karena terbiasa. Ia menjelma jadi makhluk nokturnal. Berkeliaran malam-malam. Menemani mereka yang butuh dilayani.
Kota bernapas siang-malam. Hingga larut pun orang-orang masih sibuk cari rezeki. Termasuk si penjual sate itu. Datang berlalu di depan Kinanti. Ia lupa, perutnya belum sempat terisi. Di panggilnya si tukang sate. Hidung mengendus asap sate yang melenakan bagai anestesi. Perut keroncongan tak tertahankan di balik baju ketatnya. Sementara sebagai pejantan, mata penjual sate sesekali melirik ke dada Kinanti. Mata Kinanti menangkap hal itu. Namun ia sadar akan kejalangannya dan diam saja.
Ketika hendak melahap sebungkus sate di tangan, saat lidah sedetik lagi meraba rasa, ekor mata Kinanti memproyeksikan penampakan di bawah gapura. Seseorang duduk berselonjor di sana. Terdengar suara mengaduh dan mendesis dari mulutnya. Tangannya meremas-remas perutnya sendiri.
Kinanti pun mendekati. Ditemukannya seorang perempuan tua. Lusuh. Pakaian compang-camping. Pikiran Kinanti menangkap bayangan ibunya. Ya, perempuan tua itu seusia ibu. Ia jadi teringat seorang ibu yang selalu menanti kepulangannya. Mungkin saja di desa sana, ibunya sedang kelaparan, lalu menantikannya pulang membawa sebungkus makanan. Sate?
Entah siapa yang menggerakkan. Tangan Kinanti merentang mengulurkan sebungkus sate kepada si perempuan tua. Ada kepuasaan. Ada semacam rasa bungah setelah dilihatnya perempuan tua itu melahap habis sebungkus satenya. Kinanti merasa, hidupnya sebagai jalang ternyata bisa berarti untuk orang lain.
Setelah lama mengamati si perempuan tua makan sate, Kinanti kembali ke bangku kosong biasanya. Di pinggir jalan, sendirian, di telan sepi, dan memandangi roda-roda pelalulalang. Namun serasa ada yang ganjil. Ya, Si Abdi. Kemana Alien itu? Tumben ia belum datang. Bukankah biasanya ia acap datang mengagetkan? Entahlah. Tanpa Abdi, malam jadi hening dan sesenyap kuburan.
Keheningan membuat Kinanti tak siaga.
Awalnya lamat-lamat, namun kemudian suara sirine jadi menggema keras. Mobil patroli. Orang-orang berseragam didalamnya.
Kinanti panik. Ia tahu itu pertanda bahaya. Sesuatu yang harus dihindari segera. Secepat mungkin berlari. Jika tidak, salah seorang dari mereka akan menciduknya, meringkusnya, memungutnya seperti kotoran sapi. Namun sayangnya terlambat. Seorang pria bertubuh kekar berhasil mencengkeram lengannya.
“Mau lari ke mana kau! Dasar sundal!” Pria itu menyalak. Tercium bau alkohol saat ia terbahak.
Kinanti belingsatan. Badannya meronta ingin lepas. Ia ingat sebuah cara melepaskan diri dari hidung belang. Seketika kakinya mengayun. Lututnya menumbuk selangkangan pria bertubuh kekar. Dalam satu hentakkan si pria mengerang. Kinanti melangkah kabur.
Isi kepala Kinanti hanya berpikir tentang cara berlari cepat dan melarikan diri. Saat itu juga, ia ingin menuju ke seberang jalan dan menghilang di perkampungan penduduk. Namun tanpa di duga. Sebuah mobil berlari lebih kencang. Dan, buugg!!
Kinanti terpental setelah sebelumnya kepala membentur kaca depan mobil itu.
Ia tersungkur di atas jalan aspal. Matanya melihat banyak sekali kunang-kunang. Dari mana mereka datang? Jutaan kunang-kunang itu muncul dari balik punggung seseorang yang dikenalnya selama empat puluh hari belakangan.
“Abdi? Kaukah itu?”
“Ya, ini aku. Sekarang mari pulanglah bersamaku.”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang telah disebutkan dalam doa wanita pengemis yang kau kasih makan itu.”
Kinanti pasrah tangannya digamit Abdi. Untuk pertama kalinya, Ia melihat Abdi mengepakkan ratusan pasang sayap di punggungnya. Yang tentu mampu membawanya terbang. Ke atas, hingga ia bisa melihat tubuhnya sendiri teronggok bersimbah darah di atas jalan aspal. (*)

 

Nasr City, 23 Januari 2012

*) Penulis adalah Mahasiswa, sedang mendalami bahasa dan kebudayaan Arab, tinggal di Kairo, Mesir

 

Pencuri Mimpi

Cerpen Ragil Koentjorodjati

pencuri mimpi
gambar diunduh dari raisalogi_blogspot.com
“Sial! Mentari tak lama lagi terbit, masih dua orang lagi yang harus kuhabisi malam ini,” gumam bayangan hitam,”aku harus bergegas!”
Bayangan itu berkelebat cepat ke barat. Seekor burung hantu terbang di atas kepalanya. Rambutnya panjang berkibar terurai angin. Gerimis dan pekat malam tidak menyurutkan langkahnya untuk berlari dan terus berlari dengan kaki terpincang-pincang.
“Bangsat Si Jogoragan!” umpatnya sambil sesekali meludah ke kanan dan ke kiri. “Ilmunya benar-benar tidak boleh diremehkan. Untung saja kau membantuku Rohpati,” sambungnya sembari menatap burung hantu di atas kepalanya. Burung itu hanya mencicit lirih. Mereka terus melesat ke barat.
“Sekarang giliran Nyi Darsini dan Joko Gembong yang harus kita habisi,” bisiknya. “Dua orang itu sudah terlalu lama masyuk dengan mimpi-mimpinya.”
Di pekat malam, terlihat setitik cahaya di ujung barat desa. Cahaya lampu minyak yang menyeruak dari bilik kayu. Bayangan hitam itu sedang menuju ke sana, rumah Darsini. Tak berapa lama, ia sudah mengendap-endap di bawah jendela kamar Darsini.
“Ada suara burung hantu Kang…” bisik sebuah suara dari bilik itu. Suara desah Darsini. “Aku takut Kang..”
“Tidak perlu takut Nyi. Aku menemanimu,” jawab suara satunya. Berat sedikit parau, khas suara laki-laki setengah baya. Ia itu Joko Gembong.
“Firasatku tidak enak Kang. Aku takut Bapak bangun. Kalau ketahuan kita bisa celaka,” rintih Nyi Darsini.
“Kalau ketahuan, aku akan menikahimu,” jawab Joko Gembong mantab.
“Kalau memang mau menikahiku, kenapa harus nunggu ketahuan Kang? Kenapa tidak kaulamar aku secara baik-baik?” cecar Nyi Darsini.
“Orang tuamu dan penduduk di sini masih menganggapku kafir. Dan aku tidak mau masuk agamamu,” jawab Joko,” kalau kamu mau pergi dari sini, aku segera menikahimu.”
“Pilihanmu sulit semua Kang. Aku tidak sanggup,” keluh Darsini,”biarlah kita serahkan semua pada Sang Khalik.” Tak terasa air mata Darsini meleleh. Ketika rindu membiru menyatu dengan syahdu, hati manusia meronta ingin terbebas dari nestapa. Tak lama kemudian mereka berdua pun tenggelam masyuk dalam lautan asmara.
Bayangan hitam yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan dua orang yang mabuk cinta itu tersenyum sinis. Akulah jawaban atas doa kalian, batinnya. Aku tunggu sampai kalian kelelahan dan terlelap. Bayangan hitam itu kemudian mengambil sikap samadi. Asap putih mengepul dari ubun-ubunnya dan perlahan membentuk sesosok makhluk yang persis dirinya. Tanpa suara, mahkluk itu melayang menembus dinding bilik kamar Darsini dan Joko Gembong. Dua manusia yang baru saja diamuk badai asmara itu tidur terlentang tanpa sehelai benang. Mereka pulas mendengkur dengan senyum mengembang di bibir. Dalam tidurnya mereka bertemu dengan mahkluk putih yang melayang-layang tanpa dapat dikenali wajahnya karena tertutup rambut panjang riap-riapan.
“Hei, mau di bawa kemana kang Joko,” jerit Darsini. Darsini melihat mahkluk putih itu mengempit tubuh Joko yang meronta-ronta tanpa daya.
“Akulah jawaban atas doamu,” kata mahkluk putih sambil melayang keluar.
Hampir berbarengan dengan jerit Darsini, suara Joko menggelegar.
“Hei, siapa kau? Mau kau apakan Darsini-ku,” lengking Joko. Joko melihat mahkluk putih itu terbang sambil menggendong Darsini. Joko berusaha mengejar namun tubuhnya seperti lunglai tanpa daya.
“Kalian tidak berhak atas mimpi-mimpi itu,” kata mahkluk putih,”mimpi kalian membahayakan orang lain. Besok pagi kalian akan menyadari kebodohan kalian.” Mahkluk putih melayang keluar bilik dan kembali masuk ke raga bayangan hitam. Tubuh halus Darsini dan Joko Gembong diberikannya pada Rohpati. Burung hantu itu segera menghisap habis kedua tubuh halus manusia malang itu.
“Tugas kita hari ini selesai,” kata bayangan itu. Sekejap kemudian mereka sudah hilang di pekat malam.
Pagi harinya, penduduk kampung Jogoragan geger. Nyi Darsini dan Joko Gembong terkapar tumpang tindih mandi darah dengan urat nadi putus. Amis mengering memenuhi ruangan. Satu lembar kertas tergeletak di samping tubuh mereka. Di kertas itu tertulis:

mimpi itu terasa sangat mustahil untuk dapat kami wujudkan. Maafkan kami, Mbok. Maafkan kekhilafan kami Pak. Jika kami tidak dapat hidup bersama di dunia ini, biarlah kami hidup bersama di akhirat.
Darsini & Joko Gembong.

***
Sore itu tidak seperti biasanya. Tidak ada rinai gerimis, dan senja belum lagi datang, tetapi wajah penduduk tampak muram. Mulanya cuma satu dua orang. Tetapi dari hari ke hari semakin banyak yang menekuk wajah. Para lelaki berkeluh kesah. Bahkan tidak terlihat lagi gadis-gadis desa tersenyum sumringah. Semua terlihat lelah. Sangat lelah. Mereka tidak lagi menikmati senja. Senja berarti gerbang kematian bagi mereka. Candik ala di batas cakrawala bagai mulut Kala menganga mencari mangsa. Petanda petaka. Hari-hari semakin kusut. Dan malam menjadi begitu kelam. Menyelimuti segenap rasa, hati dan pikiran mereka. Tak ada yang berani memecah sunyi. Tak ada yang berani mengakhiri sepi. Jiwa-jiwa mereka merintih di kegelapan, mengharap pertolongan. Mata nyalang terpicing sepanjang hitam. Mereka takut tertidur. Mereka takut bermimpi. Di ujung desa, sang pencuri mimpi tertawa, hadapilah kenyataan hidup. Jangan hanya bermimpi, gumamnya.
“Kita harus mengakhiri semua ini,” kata Ki Lurah Jogoragan di tengah pertemuan para pinisepuh desa.
Ia mulai khawatir melihat perubahan warganya. Maka ia memutuskan untuk mengumpulkan para sesepuh pada malam sabtu pahingan untuk membahas masalah itu. Ada Mbah Modin, Pak Carik, dan Ki Bayan. Ada Nyi Sari dukun bayi. Ada juga bu Bidan Tantri, satu-satunya perempuan jelita dengan baju hitam legam membungkus tubuhnya yang putih pucat.
“Menurutku, ini ulah Nyi Sumbi, Ki Lurah,” kata Ki Bayan pelan.
Asap tembakau bau kemenyan mengepul pekat dari mulut Ki Bayan. Ada rasa takut menyelinap ketika Ki Bayan menyebut nama Nyi Sumbi. Nyi Sumbi adalah perempuan renta yang tinggal di ujung barat desa, persis di belakang pemakaman umum yang membentang sepanjang kali. Ia dikabarkan memiliki ilmu tenung. Konon, tinggalnya di pemakaman sebagai syarat menyempurnakan ilmunya.
“Jangan terburu-buru menuduh Ki,” ucap Nyi Sari,”kita belum punya bukti.”
“Kita tidak perlu bukti Nyi. Sudah jelas penduduk terkena pengaruh tenung,” bantah Ki Bayan sedikit gusar. “Mereka terlihat selalu bermuram durja. Aku yakin, Nyi Sumbi sedang mempraktikkan ilmu pengambil roh untuk memangsa korbannya,” Ki Bayan menambahkan.
“Tunggu dulu Ki Bayan,” Mbah Modin memotong. “Ilmu pengambil roh, setahuku menyebabkan si korban lupa siapa dirinya. Kenyataannya, para penduduk itu tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Hanya saja, wajahnya selalu muram.”
“Hmm..benar juga,” gumam Pak Carik.
“Maaf, saya harus meninggalkan pertemuan ini,” sela Bidan Tantri dengan suara merdu. ”Ada bayi yang saya perkirakan akan lahir malam ini,” tambahnya.
“Oh, monggo-monggo. Silahkan Bu,” jawab Ki Lurah mantab.
Bidan Tantri beranjak pergi dengan meninggalkan aroma pekat kamboja. Malam semakin mencekam. Dari surau sayup terdengar lantunan ayat suci. Tak lama kemudian disusul rintih burung hantu dari samping rumah.
“Aku kok malah curiga dengan bidan cantik itu Kangmas,” kata Pak Carik kepada Ki Lurah Jogoragan.
“Hmm..memang sejak kedatangannya desa kita jadi kurang tenteram. Sebenarnya, ini ulah pencuri mimpi. Dan dia memiliki ciri-ciri yang sama dengan orang yang bertarung denganku malam itu. Sayang, aku tidak melihat wajahnya karena malam sangat gelap dan hujan.”
“Pencuri mimpi?” belalak yang lain penuh rasa penasaran.
“Ya,” tegas Ki Lurah,” dengan kesaktiannya ia mengambil mimpi orang yang punya cita-cita besar. Tetapi, sepertinya ia mulai liar dengan mengambil mimpi semua orang. Akibatnya, warga kita seperti orang yang tidak punya harapan. Mengeluh. Mengutuki hari dan semua yang ada di sekitarnya hanya menimbulkan derita.”
“Sebentar Ki Lurah,” potong Mbah Modin,” untuk apa orang itu mencuri mimpi?”
“Entahlah,” desah Ki Lurah,” mungkin saja dijual, atau hanya disimpannya sendiri. Aku tidak tahu.”
Malam semakin larut. Suara burung hantu semakin keras terdengar meremangkan bulu roma. Hari itu sepertinya serangga malam malas bercengkerama. Tanpa bunyi, tanpa suara.
“Sulit untuk dipercaya kalau Bidan Tantri pelakunya. Ia terlalu lemah dan ..cantik,” gumam Ki Bayan.
“Ada baiknya juga kalau ada yang mengawasinya. Apa alasan sebenarnya ia meninggalkan pertemuan ini dengan terburu-buru,” kata Ki Lurah.
“Aku akan mengikutinya Kangmas,” sambut Pak Carik. Inilah kesempatan untuk dapat mengutarakan isi hatinya yang selama ini terpendam pada bidan cantik itu. Dan jika memang benar bidan itu si pencuri mimpi, ada baiknya untuk menjalin kerja sama dengannya untuk menyingkirkan Ki Lurah, akal licik Pak Carik berputar-putar.
“Baiklah. Hati-hati Dhimas. Segera pulang kalau sudah mendapat kejelasan,” pesan Ki Lurah.
“Baik, Kangmas.” Bergegas Pak Carik menuju ke arah Bidan Tantri pergi.
“Mari kita istirahat sejenak sembari menunggu Pak Carik pulang,” ajak Ki Lurah melihat para sesepuh mulai kelelahan. “Diusahakan jangan sampai tertidur. Firasatku mengatakan sesuatu akan terjadi malam ini,” tambahnya.
“Firasatku juga demikian Ki,” sambung Ki Bayan,” suara burung hantu itu membuatku gelisah.Tidak seperti biasanya.”
Sementara itu, di rumah bidan Tantri seorang ibu muda tergolek lemah. Di sampingnya berdiri bidan itu sambil menimang bayi yang terlihat baru saja dilahirkan dari rahim ibunya.
“Hmmm..bayi yang montok dan sehat,” gumamnya. “Silahkan masuk Pak Carik. Tak perlu kau mengintipku seperti itu,” kata bidan pula sembari menoleh ke pintu.
Terkejut bukan main Pak Carik mendengar suara itu. Tampaknya benar Bidan Tantri-lah si pencuri mimpi itu, desahnya pelan. Bagaimana ia tahu kalau aku mengintainya, gumam Pak Carik. Seketika sekujur tubuhnya lemas. Ketakutan mendekap kakinya erat-erat hingga ia tidak sanggup berlari. Matanya melotot melihat Bidan Tanti menghampirinya.
“Ampun..bu. tolong ampuni saya,” ratap Pak Carik menggigil ketakutan teringat kesaktian si pencuri mimpi yang diceritakan Ki Lurah.
“Kamu salah sangka Pak Carik. Justeru aku baru saja menyelamatkan ibu itu dengan bayinya,” kata Bidan Tantri sambil meletakkan bayi itu di samping ibunya.
“Maksud bu Bidan?”
“Mari silahkan masuk, nanti kujelaskan,” ajak bu Bidan dengan senyum mengembang. Mendengar kata Bidan Tantri kalau ia salah sangka, Pak Carik mulai bangkit kembali semangatnya.
“Aku tahu Pak Carik sudah lama merindukan saat seperti ini,” bisik bu Bidan menggoda. “Masuklah. Udara malam tidak baik untuk orang setua Pak Carik,” sambungnya. Pak Carik segera mengikuti Bidan Tantri masuk ke rumah.
Tiba-tiba, suara burung hantu terdengar dari belakang rumah. Suara Rohpati. Bulu kuduk Pak Carik meremang.
“Mengapa burung hantu itu mengikutiku?” gumamnya. “Tadi di rumah Ki Lurah burung itu juga terdengar. Persis seperti itu, seperti suara orang menangis.”
“Sudahlah Pak Carik, tak usah dihiraukan. Mari kita nikmati kesempatan ini,” desahnya. Dengan perasaan gundah, antara cemas dan gembira, Pak Carik mengikuti saja kemauan Bidan Tantri.
Hari sudah menjelang subuh ketika dua manusia berlainan jenis itu tenggelam dalam gairah birahi. Tidak menyadari suara burung hantu yang semakin pilu dari atap rumah. Tidak menyadari sesosok bayangan hitam mengintai dari balik jendela.
“Ayo…lanjutkan, sampai kalian puas,” desis bayangan itu,” sebentar lagi kalian akan menyusul Ki Jogoragan dan teman-temannya.
***
Keesokan harinya, udara begitu cerah. Pemandangan indah desa Jogoragan tampak berkebalikan dengan wajah para penghuninya yang selalu muram. Seorang perempuan tua dengan rambut riap-riapan, melenggang di tengah pemakaman dengan kaki terpincang-pincang.
“Pembalasan ini cukup untuk setiap mimpiku yang kalian rampas,” desis Nyi Sumbi. Lalu ia pergi meninggalkan desa Jogoragan tanpa mimpi. Benarkah tanpa mimpi? Tidak! Karena sejak saat itu, penduduk desa menjadi lebih sering bermimpi. Mimpi yang buruk sekali!

Ngisor Tugu, Januari 2011 (repost)

Pengakuan Tengah Malam

Cerpen Erlinda Sukmasari Wasito

psikopat
gambar diunduh dari bp_blogspot.com

…Lima belas menit setelah itu, aku telah berdiri di hadapan Luna. Ia tersenyum dengan cara aneh, memiringkan salah satu sudut bibirnya dan menunjukkan gigi taring sebelah kirinya dengan cara tidak manusiawi…

Kota ini begitu sepi. Kota pesisir yang hampir tak berpenghuni. begitu kira-kira pendapatku pada kesempatan pertama menginjakkan kaki di sini. Istriku dan putraku–Himada–takjub dengan penataan kota yang indah. Selain jalur pedestrian yang terawat dan taman-taman yang menghiasi di setiap sudut, lautnya pun bersih dan pantainya berpasir kemerahan. Cantik, itu ucap istriku ketika turun dari mobil tua kami. Namun entah kenapa kota ini tidak cukup dikenal orang.
Saat atasanku memutuskan membuka cabang baru perusahaan kami di kota ini, aku tidak pernah mendengar namanya sebelumnya. Jadi, aku mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya. Aku ingin tahu fasilitas pendidikan dan kesehatan yang tersedia. Sebab, aku berencana membawa serta keluarga kecilku pindah ke kota ini. Sayangnya, tidak ada orang yang pernah mendengar nama kota ini. Bahkan, aku tak menemukan jejak dari kehadiran kota ini di internet atau surat kabar. Istriku sudah berpikir yang bukan-bukan, “Jangan-jangan atasanmu membuangmu ke tempat terpencil karena kinerjamu menurun sejak anak kita lahir.”
Aku memahami benar kekalutan istriku. Putra kami terlahir dengan keistimewaan. Ya, bagiku, ia adalah pangeran kecilku yang istimewa. Meski ia tidak dapat mencerna kata-kataku atau memahmi perhatian istriku. Layaknya memiliki dunia sendiri, ia sibuk dengan kesendiriannya. Sering kucoba mengajaknya berinteraksi. Kubelikan ia mainan-mainan yang merangsang kemampuan kognitif dan gerak motoriknya. Kuberi ia makanan bergizi yang menunjang tumbuh kembangnya. Apa mau dikata, ia tetap dalam diam.
Kemampuanya terbilang lambat. Ia baru bisa berjalan di usia tiga tahun. Pada ulang tahunnya yang kelima ia baru bisa mengucapkan “mama” dan “papa”. Usia tujuh tahun adalah salah satu masa keemasannya ketika ia berhasil menendang bola karet kesayangannya ke dalam gawang yang kubuat di belakang rumah lama kami. Ia banyak berkembang. Jangan harap ia berkembang seperti anak-anak seusianya yang seharusnya telah duduk di bangku sekolah dasar. Ia mulai belajar memegang sendok, minum susu dari gelas–biasanya pakai botol–menggunakan toilet, dan menatap mataku. Meski tatapannya kosong dan hanya sekian detik. Aku sungguh bahagia.
Istriku telah mencari informasi harga rumah kecil yang murah dan bisa dikredit. Pada penantian panjang dan harapannya yang hampir pupus, ia menemukan sebuah keluarga yang membutuhkan uang dengan segera. Akhirnya kami memiliki rumah sederhana yang sesuai dengan kocek kami. Rumah itu menghadap ke laut–sesuai keinginan istriku–dan halamannya sangat luas. Di sana aku telah berencana membuatkan arena bermain demi putraku. Himada menunjukkan kesenangannya. Ia tersenyum lalu duduk tenang di halaman rumah baru kami. Biasanya, ia tak suka duduk di atas rumput. Ia takut melihat cacing.
Atasanku memberikan keleluasaan padaku untuk mengelola cabang baru perusahaan. Ia menyerahkan semuanya padaku. Aku hanya perlu melapor setiap enam bulan sekali. Tentu ini menyenangkan. Sebab aku ingin punya lebih banyak waktu bersama Himada. Ia membutuhkanku. Lagi pula, aku tak tega melihat istriku merasa kesepian. Tetangga terdekat kami letaknya dua ratus meter dari sini. Benar-benar sepi. Namun kami nyaman dan berharap betah tinggal.
Suatu hari, aku berkenalan dengan seorang montir yang bekerja di bengkel yang memang cuma satu-satunya di kota ini. Montir itu–Hendrik–orang yang serius dan pecinta kopi. Tiap aku bertemu dengannya ketika malam, ia tengah duduk di beranda bersama segelas besar kopi. Seakan, jika aku berbincang dengannya, aroma kopi akan menguar kental dari mulutnya. Kumisnya lebat dan matanya sayu. Tipikal pekerja keras sekaligus penyayang keluarga. Tak pernah kulihat ia selain di bengkel atau di rumahnya.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Hendrik suatu kali. “Banyak hal yang masih harus kukerjakan. Kantor cabang ini belumlah punya nama di sini. Namun aku masih punya banyak waktu. Atasanku tidak meminta hasil dengan waktu singkat. Ia tahu aku tengah memperjuangkannya.”
“Apa sih jenis perusahaanmu?”
“Perusahaan yang bergelut di bidang definisi mimpi. Kami akan melihat dan memeriksa mimpi-mimpi di kepala klien. Lalu kami tafsirkan dan kami bantu wujudkan. Sebetulnya kami hanya perantara untuk memuluskan harapan orang-orang terhadap masa depannya. Kami menangkap mimpi-mimpi klien kemudian kami bangun stukturnya agar terwujud. Butuh tenaga ahli dalam bisnis ini.”
“Jadi kau tenaga ahlinya?”
“Ya, Hendrik. Aku telah terbiasa menemukan mimpi-mimpi yang absurd dan mustahil menjadi nyata tapi aku bisa membuktikannya.”
“Pernahkah kau menggunakan kemampuanmu untuk dirimu sendiri? Tidak pernahkah kau memimpikan putramu terlahir normal?”
Aku membetulkan dasiku yang baik-baik saja. Namun semacam rasa gatal mengusik tenggorokanku. Kata-kata Hendrik cukup menusuk hati. Kukatakan pendapatku dengan hati-hati, “Himada, dia itu berbeda. Atas kuasa Tuhan-lah hingga aku memilikinya. Tidak semua orangtua mendapat kesempatan membesarkan seorang anak berkebutuhan khusus. Dan, aku tak tertarik mengubah takdirku. Himada telah ada, bukan rencanaku dari masa lalu untuk masa depanku. Meskipun seandainya aku bisa membetulkan kesalahan dalam otaknya ketika lahir sehingga bisa tumbuh normal, aku memilih mencintai Himada yang ini, Himada putraku yang spesial.”
Hendrik mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia tak meributkannya lagi. Ia lalu berganti topik pembicaraan dan berkeluh kesah tentang anak gadisnya. “Luna tumbuh menjadi gadis penyendiri. Padahal, ketika kanak-kanak, ia sangat ceria dan memiliki banyak kawan. Sejak kematian sahabat karibnya, ia berubah menjadi pemurung. Ia tak lagi mau bercerita kepadaku atau istriku. Ia mengacuhkan kami. Ia seperti tak mau diganggu.”
“Bisakah kemampuanku menolongnya, Hendrik?”
“Apa kau mau melawan alam? Kau mau menolak Tuhan? Impiannya adalah bertemu kembali dengan sahabatnya. Bagaimana mungkin kau hidupkan yang telah habis masanya?”
“Aku ingin membantunya menerima realita, Hendrik.”
“Realita? Kau pikir Luna sudah gila?”
“Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin menolongnya untuk melupakan kesedihannya akan kematian sahabatnya.”
Namun dalam hati, aku penuh tanya. Separah itukah Luna merasa kehilangan sahabatnya hingga ia berubah? Bukankah meski kita kehilangan seseorang yang berharga bagi kita, kita harus tetap menjalani hidup? Hendrik terlihat sedih dan putus asa. Mata sayunya terlihat makin menyedihkan. “Lakukan apa yang kau bisa lakukan. Aku cukup menunggu. Aku tak pernah tahu kapan suatu saat nanti Luna keluar dari rumah dan tersenyum pada orang lain. Sudah terlalu lama ia menangisi sahabatnya itu.”
Malam itu, kuputuskan membawa serta istriku dan Himada. Kami akan datang ke jamuan makan malam Hendrik. Kuceritakan keinginanku menolong putri Hendrik, Luna. Istriku merespon dengan baik. “Silakan, gunakan kemampuanmu menolong orang lain. Aku selalu di sampingmu,” ujarnya. Kalimatnya melegakan hatiku.
Makan malam berlangsung dengan tenang. Himada tampak menikmati suapan demi suapan masakan istri Hendrik. Nyonya Hendrik memang jago masak. Dulu, ketika masih muda, ia seorang koki di sebuah restoran terkenal di ibu kota. Ia tahu Himada alergi dengan beberapa jenis bahan pangan. Dengan baik hati ia menyiapkan menu khusus yang bisa dinikmati semua orang termasuk Himada. Istriku berbisik, ia harus mempelajari resep-resep itu agar Himada dapat menikmati waktu makannya. Himada memang jarang menyukai jam makan. Sebagian besar makanan yang ia lahap ia muntahkan. Malam ini, semua suapan makanan tertelan sempurna.
Luna duduk di ujung meja makan. Tatapannya lurus ke piring bulat berisi sepotong roti. Ia menolak makan nasi dan sup. Bahkan lauknya tak ia sentuh. Hendrik bilang, Luna tidak alergi. Ia memang membenci berbagai jenis makanan. Sepanjang usianya, ia lebih sering mengonsumsi roti. Luna bersikap seakan aku dan istriku tak ada. Ia tidak menyapa kami. Namun, sesekali, pandangannya tertuju pada Himada. Sementara Himada asyik melahap suapan terakhir supnya. Himada tidak mempedulikan semua orang.
Rencananya, aku akan mengajak bicara Luna seusai jamuan makan malam. Aku mengatakan pada Hendrik hal itu. Ia setuju-setuju saja. Aku mendekati Luna. Kuperhatikan ia menyingkir dari semua orang. Ia menuju teras depan. Aku mengikutinya. Ketika ia duduk, aku keluar dan duduk di sampingnya. Ia agak terkejut tapi terlihat berusaha bersikap biasa. Belum sempat aku mulai bicara, istriku panik. Himada terjatuh di dapur Hendrik. Ia kejang-kejang. Darahnya berceceran dari kepala. Kulitnya sedikit tersingkap. Kulit Himada terkelupas! Ia membentur ujung lemari pendek! Istriku menangis histeris. Teriakanku tak kalah histeris. Kami membawa Himada ke rumah sakit.
Dini hari, pukul satu pagi. Dokter telah menangani Himada dengan baik. Istriku masih terjaga di samping Himada di rumah sakit. Aku akan pulang dulu, mengambil uang dan barang-barang. Himada harus dirawat inap hingga luka di kepalanya pulih. Sebetulnya aku cemas meninggalkannya. Tapi aku percaya ia di bawah pengawasan dokter dan istriku.
Aku menyetir mobil tuaku pelan-pelan. Rumah sakit ini kebetulan dekat dengan rumah Hendrik. Beruntung, kami bisa membawa Himada secepatnya. Dokter bilang hampir saja Himada tak punya kesempatan. Aku berlega hati. Ketika mobilku melewati rumah Hendrik–aku terbiasa menyetir dengan jendela mobil terbuka lebar–kudengar suara lengkingan. Deg! Jatungku terpaku mendengarnya. Detaknya seakan berhenti mendadak. Kepalaku menoleh. Namun rumah Hendrik gelap. Aku takut bila itu sekedar halusinasiku. Tapi?
Aku menyetir secepat yang kubisa. Segera kudatangi kantor polisi dan kulaporkan jeritan itu. Polisi itu ikut cemas melihatku sangat ketakutan. Lima belas menit setelah itu, aku telah berdiri di hadapan Luna. Ia tersenyum dengan cara aneh, memiringkan salah satu sudut bibirnya dan menunjukkan gigi taring sebelah kirinya dengan cara tidak manusiawi. Ia tanya kenapa aku datang bersama polisi dan bagaimana keadaan Himada. Kuceritakan bahwa Himada baik-baik saja dan kutanya mana orangtuanya.
Ia mempersilakan aku dan dua orang polisi itu masuk. Ia bilang, Hendrik buru-buru pergi mengantar istrinya ke kota tetangga karena keluarga mereka di sana meninggal. Ia juga bilang, ia disuruh menjaga rumah. “Mungkin suara yang kau dengar tadi adalah jeritan ibuku menerima telpon karena anggota keluarga kami meninggal,” ujarnya padaku. Jelas sekali terlihat bahwa aku tak dapat mempercayai ekspresinya. Kedua polisi itupun merasakan hal yang sama. Kemudian ia mengizinkan kami memeriksa seluruh sudut rumah. Memang benar, semua terlihat normal.
Ia menarik kursi dan memintaku beserta kedua polisi itu duduk di ruang tengah. Posisinya duduk agak di dekatku. Ia bercerita panjang lebar sambil menangis sesenggukan menceritakan kematian anggota keluarganya. Aku mulai percaya. Sepertinya, salahku telah berpikiran negatif. Kedua polisi itu menyatakan duka citanya. Ia mengangguk sembari menghapus air matanya. Ketika kami bangkit dan pamit, ia tiba-tiba diam. Sikapnya aneh. Matanya memancarkan kengerian. Nafasnya tertahan. Kedua alisnya bertaut, antara bingung bercampur khawatir. Udara malam serasa berhenti. Aku mencium ketidakberesan. Ia mulai tertawa terbahak dan memukul lenganku. Kedua polisi itu saling pandang penuh tanya.
“Ada apa, Luna? Apa yang lucu?” tanyaku hati-hati. “Di sini! Di sini! Di sini! Bongkar lantai kayu ini! Aku tidak tahan lagi! Suara itu, caci maki yang keluar dari mulutnya! Aku tak tahaaaaaaan!” Perempuan muda itu hampir merobek ujung gaun putih pucatnya. Ia mencengkeram ujung gaunnya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kuku panjangnya menggores telapak tangannya. Matanya melotot menyeramkan. Sudut-sudut bibirnya tegang. Wajahnya seperti terbuat dari kayu. Bola mata itu lalu menelanjangiku, memandangku dengan penuh kebencian seakan ingin menarik jiwaku keluar. Aku menelan ludah tapi mulutku tetap terasa kering. Jantungku tak bisa kukendalikan degupnya.

Daun Telinga dan Pigura Tanpa Foto

Cerpen Maria Immaculata Ita
tanpa wajah
Gambar diunduh dari kabinet transformasi.org
“Hei, telingamu ?”

Usianya sekitar empat belas atau lima belas tahunan, sebaya dengan teman-teman sekelasnya. Berkulit putih keju, hidung mancung. Tinggi badan melebihi rata-rata. Menyandang tas warna hitam keluaran distro abal-abal, bernoda tipe ex di bagian depan, dekat resleting utama. Ekor bajunya hampir tak pernah tersembunyi di balik celana pendek. Terjulur begitu saja, tanpa takut ketahuan. Tampan, tapi tak terawat. Keturunan Arab, namanya Malkus.
Malkus, abinya seorang pembantu di rumah walikota. Tapi Malkus bukan satu-satunya keturunan Arab di daerah itu. Beberapa pembantu di rumah walikota rata-rata warga keturunan Arab juga. Entah mengapa.

“Mengapa ibu mendekati saya ?”

Usia Cen Vei Yin sekitar dua puluh lima tahun, sepuluh tahun lebih tua dari Malkus. Sesuai dengan namanya, Vei Yin keturunan Cina. Kulit kuning langsat, mata sipit. Hidung agak mancung, membuatnya terlihat aneh untuk gadis keturunan Cina seperti dirinya. Tinggi badan Vei Yin seratus enam puluh centimeter. Menyandang handbag coklat Elizabeth. Ekor baju hitamnya terlihat menutupi lingkar pinggang. Selalu warna hitam. Lengan panjang. Dengan paduan rok impor Taiwan berploi. Cantik, tapi rambut lurusnya tak pernah rapi.
Cen Vei Yin, mamanya seorang penjual mimpi di deretan ruko di jantung kota. Hanya saja, Vei Yin satu-satunya keturunan Cina di daerah itu.

“Telingamu, aku tak melihat telingamu mencuat di sisi kepala ?”

Malkus tak pernah mengerjakan pe-er Fisika. Tapi ia belum pernah terlambat atau belum pernah tak berangkat sekolah. Setidaknya begitu di mata Vei Yin. Sepertinya ia tak pernah sakit, tak perlu izin tidak masuk hanya untuk urusan keluarga atau pura-pura lupa jalan menuju sekolah.

“Bantu saya mencari daun telinga, bu …”

Dua tahun belakangan ini, Cen Vei Yin mengajar Fisika di sekolah tempat Malkus belajar. Setiap hari dia melihat mata, telinga, hidung dan mulut beraneka rupa. Tapi Malkus tak bertelinga hari ini. Mata Vei Yin meneliti lembaran-lembaran rambut yang tumbuh di kepala Malkus. Tak ada. Lalu diintipnya kantong saku yang terjahit di baju seragam Malkus. Juga tak ada. Daun telinga Malkus tak ada.

“Aku bertemu laki-laki itu semalam, bu …”

Vei Yin membungkukkan badannya. Barangkali terselip di kerah belakang Malkus, batin Vei Yin. Tak ada juga.

“Apa kau sudah bertemu laki-laki itu, Malkus?”

Siang terlewati dengan rapi. Jarum jam terdorong ke bawah menuju angka tiga.
Malkus tak juga beranjak dari tempat duduknya. Tetap sama, di bawah pohon Matoa. Sementara sekolah sudah begitu sepi. Kepala sekolah yang biasanya menutup pintu paling akhir pun tak kelihatan lagi. Pintu ruangan sudah terkunci.

“Laki-laki itu menghunuskan pedangnya … lalu mendekati saya dengan muka merah.”

Vei Yin menarik ekor mata sipitnya. Melipat tangan di atas dada yang hampir rata. Menarik nafas, seperti putus asa karena tak menemukan daun telinga anak muridnya.

“Pasti laki-laki itu …”

Malkus menggeser bokongnya, seperti menyilakan Vei Yin untuk duduk di sampingnya. Bersama-sama, di bawah pohon Matoa.

“Laki-laki itu mengayunkan pedangnya, dalam sekejap daun telinga saya tak ada di tempatnya semula. Di depan abi saya, bu … tapi abi diam saja.”

Akhirnya Vei Yin duduk. Tapi bukan di samping Malkus. Dia memilih mengambil posisi di depannya, sambil melirik air muka Malkus yang tak berubah. Cen Vei Yin, guru Fisika, dan Malkus, anak muridnya.

“Aku tahu laki-laki itu pasti menghunuskan pedangnya …”

Malkus menghembuskan nafas pelan-pelan.

“Perih … rasanya semua darah dalam tubuh saya mengalir keluar dari luka itu. Rasanya bayangan umi saya tiba-tiba hadir dan protes keras pada laki-laki itu. Tapi abi tetap diam saja … dan bayangan umi menggantung begitu saja di atas lantai tanpa bisa berbuat apa-apa, karena daun telinga saya terlanjur lepas.”

Vei Yin membuka tas, mengeluarkan sebungkus tisu dan menarik satu lipatan. Diberikan tisu itu pada Malkus. Lalu menarik satu lipatan lagi untuk dirinya sendiri. Vei Yin menepuk-nepuk telinga kanannya yang mendadak ngilu, dengan tisu.

“Pasti laki-laki itu buru-buru melarikan diri setelah mengayunkan pedangnya padamu …”

Malkus menopang dagunya dengan kepalan tangan kanan. Menggosok hidung hingga agak kemerahan dengan telunjuk kiri. Dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal beberapa kali.

“Dia tak segera pergi. Malah memandangi bayangan umi saya tanpa berkedip. Saya kira mereka kawan lama dari cara dia memandang umi. Dan pasti tak mengenal abi saya dari cara dia mengayunkan pedang”

Malkus membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah pigura kosong tanpa foto. Menimang benda itu sejenak, lalu mengangsurkannya pada Vei Yin. Vei Yin menerimanya, dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih menempel pada daun telinga. Pigura kosong tanpa foto. Vei Yin juga punya. Dengan pinggiran bermotif kupu-kupu dan floral. Hanya saja pigura tanpa foto itu digantungkannya di dinding kamar, di atas ranjang, di sebelah gantungan abu jenazah. Pigura yang ia terima dari mamanya setelah papanya meninggal sepuluh tahun lalu.

“Kata abi, umi saya menitipkan benda ini untuk saya, bu … dan saya tak boleh mengisinya dengan foto siapa pun, termasuk foto saya, selama saya masih bertelinga. Tapi sekarang saya sudah tak bertelinga. Telinga saya terlepas entah di mana. Saya menunggu laki-laki itu datang lagi tapi tak datang juga. Saya ingin dia mengembalikan telinga saya. Dan abi harus melihat saya pulang lengkap dengan telinga.”

Mama Vei Yin seorang penjual mimpi. Ketika papanya meninggal, mamanya memberikan pigura tanpa foto untuk Vei Yin. Pigura tanpa foto, tanda kasih keramat papanya untuk mama Vei Yin. Sejak saat itu mamanya menjadi pembual yang sehari-hari mendekam di depan ruko-ruko pribumi, menjual kata-kata, menjual mimpi. Papa Vei Yin sudah meninggal. Umi Malkus tinggal bayang-bayang.

“Laki-laki itu tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. Mungkin dia sudah menemukan umimu dalam daun telingamu, karena daun telinga itu miliknya yang pernah dipinjam umimu. Dan abimu pasti akan tetap diam saja. Pigura ini, simpanlah. Gantungkan di sebelah bayangan umimu.”

Malkus meraba sisi kepala. Daun telinganya memang tak ada. Lalu Vei Yin menyerahkan pigura tanpa foto itu pada Malkus.

“Saya tak ingin pulang, tanpa telinga.”

Malkus enggan menggerakkan badannya untuk tegak. Dia tetap duduk sambil mendekap pigura tanpa foto di dadanya, di depan Vei Yin, di bawah pohon Matoa.

“Saya harus pulang. Sudah ditunggu oleh pigura tanpa foto juga di kamar. Sementara saya tak mungkin meninggalkanmu sendirian, dan tak mungkin meminjamkan daun telinga. Hari sudah sore.”

Vei Yin bimbang dihadapkan pilihan, antara harus pulang dan masih ingin bersama Malkus. Tapi pigura tanpa foto di kamarnya sudah menunggu.

“Saya tak mungkin pulang tanpa telinga, bu … bagaimana saya bisa mendengar suara abi saya ? Saya akan menunggu laki-laki itu kembali.”

Malkus semakin enggan menggerakkan badan. Dia tak ingin pulang tanpa daun telinga.

“Kau tetap harus pulang, Malkus … hari semakin senja … Tentu abimu akan lebih suka kau pulang tepat waktu. Tak usah lagi kau pedulikan telingamu. Toh, kau tetap bisa mendengar suaraku dengan matamu. Pulang, gantungkan pigura itu di sebelah bayangan umimu.”

Malkus menatap Vei Yin seperti berusaha menemukan foto siapa yang akan ia pasang untuk piguranya.

“Pohon Matoa … pohon Matoa … bu Vei Yin seperti memintaku pulang tanpa telinga, membawa kembali pigura tanpa foto dan menggantungkannya di sebelah bayang-bayang umiku. Tolong jelaskan padaku mengapa ?”

Vei Yin menatap Malkus seperti berusaha menjelaskan foto siapa yang harus ia pasang untuk piguranya.

“Pohon Matoa … pohon Matoa … jelaskan pada Malkus tentang laki-laki dan pedangnya, tentang daun telinga dan pigura tanpa fotonya, tentang bayang-bayang uminya dan abinya, tentang aku dan almarhum papaku, tentang mamaku dan jualan mimpinya.”

Cen Vei Yin beranjak dari tempat duduknya. Pergi. Menyisakan Malkus, di bawah pohon Matoa yang tak bergeming.

“Bu Vei Yin, kalau boleh saya ingin memasang foto ibu pada pigura ini.”

Malkus meraba sisi kepalanya.

“… dan telinga ini untuk ibu. Laki-laki itu, pasti bu Vei Yin mengenalnya. Saya akan katakan pada bayang-bayang umi saya, bahwa saya telah menemukan isi foto pigura ini. Dan saya yakin abi akan tetap diam saja.”

Malkus meraba sisi kepalanya sekali lagi. Daun telinga itu memang tak mungkin kembali. Terlanjur lepas. Tapi dia yakin daun telinga itu dibawa ke tempat yang semestinya. Mungkin akan menjadi isi pigura tanpa foto juga, di sebelah abu jenazah.

“Esok kita bertemu lagi, Malkus … tapi ku harap kau tak lagi duduk di bawah pohon Matoa itu.”

Malkus mengiringi langkah Vei Yin yang menjauh dengan matanya.

“Titip salam untuk daun telinga saya, bu Vei Yin … juga untuk abu jenazah di sebelah pigura tanpa foto milik ibu. Sebentar lagi saya akan pulang.”

Vei Yin melambaikan tangan pada Malkus sebelum akhirnya hilang di balik pintu gerbang. Tersenyum, sesuatu yang tak dia lakukan dari pertama melihat Malkus di bawah pohon Matoa. Senyuman pertama untuk Malkus.

“Baik-baiklah, Malkus … sampaikan salam saya untuk bayang-bayang umimu. Saya pulang pada mamaku, kau pulang pada abimu. Tetap harus begitu.”

Malkus menganggukan kepala, anggukan pertama untuk Cen Vei Yin.

***

Maria Immaculata Ita, Penulis buku kumpulan puisi Ibukota Serigala

Bagaikan Nyala Api

Cerpen Kenzarah Zhetira Alam

jalan kenangan
Gambar diunduh dari meme.zenfs.com
“Lihatlah sungai yang mengalir itu,” kata sahabatku suatu hari di bulan Agustus tahun 1930. Saat itu kami sedang duduk di tepi sungai yang memisahkan desa kami dengan desa sebelah. Aku mengalihkan perhatianku dari sekumpulan anak seusia kami yang berenang-renang dengan gembira—dengan menggunakan batang bambu milikku dan sahabatku sebagai pelampung—lalu memandang wajah sahabatku. Mata cokelatnya bersinar terang ketika aliran sungai memantulkan cahaya matahari ke wajahnya di siang yang terik itu. Matanya indah, namun lebam kemerahan di kelopak mata kanannya membuat bola mata kanannya yang indah itu sedikit tersembunyi.
“Pada tahun 1582, Oda Nobunaga memerintahkan Toyotomi Hideyoshi untuk mengambil alih Benteng Takamatsu1 ,” katanya lagi dengan ekspresi serius. Aku tersenyum saat mendengarnya mulai menceritakan lagi tokoh-tokoh yang dikaguminya. “Toyotomi Hideyoshi dibekali 20.000 pasukan, sementara pihak lawan hanya mempertahankan bentengnya dengan lima ribu samurai.” Dia sudah akan melanjutkan, tapi aku menyelanya.
“Tentu saja Toyotomi Hideyoshi menang,” kataku. “Itu kemenangan yang mudah.”
Sahabatku tersenyum. “Dia hampir mengalami kekalahan,” katanya.
Aku terkejut mendengarnya.
“Benteng Takamatsu terlindung oleh sungai, danau, dan rawa di sekelilingnya. Itu menghambat pergerakan pasukan Toyotomi Hideyoshi. Ketika prajurit dari pihaknya mulai berjatuhan, Toyotomi Hideyoshi menyadari bahwa taktik biasa tak akan berguna. Dia pun memutar otak, dan mendapatkan sebuah pencerahan tentang bagaimana cara membuat kekuatan yang dimiliki Benteng Takamatsu menjadi kelemahannya. Jika sungai melindungi Benteng Takamatsu, mengapa dia tidak menjadikan sungai itu sebagai senjata? Dia pun membangun sebuah bendungan, membelokkan aliran sungai, dan menghancurkan benteng itu dengan serangan air. Benteng Takamatsu akhirnya berubah menjadi danau buatan dan menyerah tidak lama setelah itu.”
Aku mendengar ceritanya dengan mata berbinar dan mulut menganga. Augusto selalu menceritakan kisah-kisah hebat padaku, karena saat itu aku belum bisa membaca. Tapi, di antara banyak tokoh hebat yang diceritakannya padaku, Toyotomi Hideyoshi telah menjadi semacam idola bagi kami. Terutama bagiku, karena aku menyukai beberapa kemiripan kami. Kami sama-sama merupakan anak petani miskin, sama-sama ditinggalkan satu orang tua (meskipun Toyotomi Hideyoshi ditinggalkan ayahnya sementara aku telah ditinggal ibuku), dan sama-sama bertubuh pendek.
Augusto mengalihkan wajahnya dariku dan menatap sekumpulan anak laki-laki yang masih berenang dengan tatapan penuh kemarahan. Aku mengikuti jejak Augusto dan menatap kumpulan anak-anak itu. Mereka dulu temanku. Namun, setelah aku memutuskan berteman dengan Augusto, mereka mulai menjauhiku. Mereka bahkan memukuliku saat aku mulai membela Augusto ketika mereka mengeroyok Augusto yang, meskipun tubuhnya lebih tinggi dari kami anak-anak pribumi, nyalinya tidak ada seujung kuku kami.
Hari itu mereka juga mengeroyokku dan Augusto. Awalnya kami berdua turun ke sungai dengan suka cita sambil membawa sebatang bambu yang telah dipotong oleh ayahku. Namun, belum sempat kami menggunakan potongan bambu itu sebagai pelampung, sekumpulan anak nakal itu menghadang kami. Mereka merebut paksa bambu kami dan menghajar kami ketika—dengan keras kepala—kami mencoba mempertahankan potongan bambu yang berharga itu.
Setelah itu aku dan Augusto hanya bisa duduk di tepi sungai dan memandang kebahagiaan anak-anak itu dengan iri. Augusto berdiri dan berjalan pulang beberapa saat kemudian. Aku mengikuti di belakangnya.
“Toyotomi Hideyoshi mampu menjadikan kekurangannya menjadi kelebihan, dan kelebihan lawan menjadi kekurangan,” katanya. Menyadari dia masih melanjutkan ceritanya, aku berlari kecil di sampingnya untuk menyamakan langkah kami, seperti seekor anjing yang setia. “Aku pun, suatu saat nanti, ingin sepertinya.”
Aku tersenyum saat menyadari bahwa sebenarnya dia tengah berbicara tentang anak-anak itu.
“Tentu saja kau bisa,” kataku dengan lembut; masih tersenyum.
Wajah Augusto sedikit lebih cerah setelah mendengarnya. Dia menyeringai, tapi lalu meringis ketika rasa sakit menyerang bibirnya yang robek. Aku pun tertawa.
“Berhenti tertawa!” bentaknya, tapi aku tahu dia tidak sungguh-sungguh, maka aku tidak menghentikan tawaku. Baru kusadari bahwa wajahnya yang lebam di sana-sini membuatnya tampak konyol. Augusto menatapku sambil mendengus. Tanpa peduli rasa sakit yang menyerang bibirnya, dia pun ikut tertawa bersamaku, sambil meringis dan memegangi lebam-lebam di wajahnya.

***

Penjajahan Portugis berakhir pada abad ke 16. Masa pendudukan Belanda dimulai. Setelah kekalahannya melawan Belanda, tidak semua bangsa Portugis meninggalkan Bumi Nusantara. Banyak yang memilih untuk menetap di beberapa daerah, sementara sisanya sengaja dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang setelah VOC menaklukan Malaka pada tahun 1641, termasuk leluhur Augusto.
Augusto dan ayahnya datang ke desaku sekitar dua tahun sebelum hari ketika kami duduk di tepi sungai dengan lebam di sana-sini. Desaku berada jauh di pedalaman gunung dan sangat sulit diakses dari luar, sehingga, meskipun terdapat beberapa rumah orang Belanda di desa yang lebih rendah, hari ketika Augusto dan ayahnya datang adalah hari pertama bagiku dan penduduk desa melihat orang-orang dengan kulit terang. Kabar tentang orang-orang kulit putih yang mengambil alih tanah rakyat dan memaksa pribumi bekerja untuk mereka telah mencapai desa jauh sebelum Augusto dan ayahnya, João de Fretes, tiba. Hal itu membuat mudah bagi kami untuk salah paham dan mengira bahwa ayah Augusto adalah salah satu dari orang-orang kulit putih biadab itu.
Ayah Augusto membeli tanah dari seorang tuan tanah di desa kami dan mendirikan rumah di sana dengan meminta bantuan penduduk desa. Ayahku termasuk salah satu orang yang membantunya mendirikan rumah yang kelak akan menjadi rumah terindah dan termegah di desa kami.
Suatu malam seseorang mengetuk pintu rumah ayahku yang reyot. Aku dan ayahku sedang bersiap-siap tidur saat itu. Begitu mendengar suara ketukan di pintu, dengan sigap dan secepat kilat aku melompat dari dipan dan berlari untuk membuka pintu itu, karena jika seseorang di balik pintu itu mengetuk lebih lama dan lebih kuat, tak diragukan lagi pintu itu akan lepas dari engselnya.
Aku membuka pintu itu, terkejut mendapati dua orang asing berkulit putih sedang berdiri di depanku, satu orang dewasa sedangkan yang lainnya adalah anak-anak. Aku menatap mata cokelat dari orang kulit putih yang masih anak-anak, yang kelak kuketahui bernama Augusto de Fretes. Dia menatapku sekilas, tapi lalu menunduk. Ayah telah berdiri di belakangku dan membuka pintu lebih lebar agar bisa melihat siapa tamu yang datang. Aku melihat keterkejutan yang sama dari matanya saat dia melihat kedua tamunya.
Malam itu ayah Augusto mengutarakan keinginannya untuk meminta bantuan ayahku mendirikan rumahnya, sementara aku dan Augusto hanya duduk diam. Malam itu pun, karena hari telah larut dan terlalu berbahaya untuk berjalan menerobos kegelapan di tempat yang didominasi pepohonan, ayahku menawarkan kepada ayah Augusto untuk menginap. Ayah Augusto menyetujuinya. Aku dan Augusto hanya diam, beberapa kali kami saling mencuri pandang. Bahkan saat itu pun, ketika kami hanya duduk diam dan saling mencuri pandang, aku tahu kami akan menjadi teman suatu hari nanti.
Hari itu tiba kurang dari setahun kemudian, ketika rumah besar itu selesai dibangun, dan mereka berdua meninggali rumah barunya. Entah apa yang dipikirkan ayah Augusto, tapi saat itu dia memintaku dan ayahku untuk tinggal bersama mereka di rumah besarnya. Ayah meminta waktu untuk memikirkannya. Dia tidak mendiskusikannya padaku, tapi keesokan harinya kami telah tinggal di sebuah kamar di rumah besar itu. Sejak itu ayahku menjadi pelayan di rumah besar itu, mengubah statusku dari anak seorang petani miskin menjadi anak seorang pelayan di rumah besar. Aku tidak tahu mana yang lebih baik dari keduanya.
Aku pun mulai menjalankan tugas sebagai anak pelayan setelah itu. Pada pagi hari, aku menghidangkan sarapan, membersihkan rumah, dan menyeterika pakaian Augusto dan ayahnya. Sementara aku bekerja, Augusto hanya duduk di dekatku sambil membaca buku-buku milik ayahnya. Aku tahu dia ingin berbicara denganku dan aku pun ingin bicara dengannya. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari kami yang bersedia memulainya.
“Kau tahu siapa sebenarnya yang ingin kita tinggal di tempat ini?” tanya ayahku suatu malam. Kami berbagi selimut di kasur yang sama. Aku membuka mataku dengan enggan dan melihat wajah Ayah yang hanya terlihat sebagai siluet hitam. “Augusto yang menginginkannya,” katanya. “Dia tidak bisa membayangkan anak sekecil dirimu tidur kedinginan setiap malam.” Ayah tertawa sesaat, sementara aku terdiam sambil memikirkan kata-katanya. “Ya, rumah kita memang punya banyak lubang, angin malam bisa menerobos masuk dengan leluasa.” Ayah mengubah posisi tidurnya sehingga wajahnya bisa menghadap wajahku. “Tuan Fretes yang menceritakannya padaku tadi pagi.” Ayah lagi-lagi tertawa kecil. “Menurutku, mungkin Tuan Augusto hanya ingin berteman denganmu,” katanya. Selama beberapa saat Ayah terdiam, sehingga hanya suara nafas kami yang terdengar kala itu, sementara aku meresapi kata-katanya. “Selain itu… bukankah di sini sangat nyaman?” Ayah memelukku.
Malam itu aku memikirkan semua kata-katanya. Jantungku berdebar-debar memikirkan, jika esok aku harus menghadapi Augusto, apa yang harus kukatakan padanya.
Aku menuangkan teh untuk Augusto keesokan harinya. Sementara Augusto menyeruput teh itu dengan perlahan, aku tetap berdiri mematung di sisinya.
“Apakah terlalu panas?” tanyaku saat dia meletakkan cangkir itu di meja. Augusto memandangku dengan wajah memerah. Dia menggeleng.
“Apakah terlalu manis?”
Augusto tidak menjawab. Aku melihat Ayah dan Tuan Fretes di seberang ruangan, mereka memandang kami berdua dengan senyuman tipis di bibir mereka. Ketika kembali mengalihkan pandangan ke Augusto dengan gugup, aku terkejut melihatnya tengah tersenyum.
“Teh ini tidak terlalu panas maupun terlalu manis,” kata Augusto. Itu pertama kalinya aku mendengar suaranya. Aku membalas senyumannya.
“Terima kasih,” kata kami bersamaan, lalu mendengus tertawa sedetik kemudian.

***

Asap membubung tinggi dari bagian belakang kediaman Tuan Fretes. Bau asap menyebar di udara. Aku dan Augusto berjalan terseok-seok dengan wajah penuh memar, senyuman menghilang dari wajah kami, sementara rasa sakit semakin terasa. Sesekali Augusto mendesis menahan sakit, begitu pun aku. Beberapa saat kemudian kami tiba di belakang kediaman Tuan Fretes, di mana Ayah dan Tuan Fretes sedang membakar sampah-sampah kering. Api berwarna jingga berkobar-kobar di hadapan mereka.
“O Pai2 ,” panggil Augusto. Tuan Fretes menoleh, terkesima beberapa saat melihat anak dan putra pelayannya yang sedang mendekat dengan wajah lebam. Aku mengikuti di belakang Augusto, mencoba melirik Ayah, dan melihatnya sedang menggelengkan kepala sambil menahan cengiran.
“Berkelahi lagi?” tanya Tuan Fretes. Augusto mengangkat bahu sambil mengambil selembar daun kering yang menggelepar di sisi kakinya dan membuangnya ke dalam api menyala-nyala.
Aku menghampiri Ayah dan mengambil sapu lidi yang ada di tangannya. “Aku akan menggantikan Ayah.”
Setelah itu Ayah dan Tuan Fretes meninggalkanku dan Augusto yang termenung menatap api dengan tatapan merana.
“Saat rumahmu terbakar oleh api, tanpa memikirkan api itu berasal dari dalam atau dari luar rumah, kita pasti akan berusaha memadamkannya,” kata Augusto.
“Kewajiban kita untuk mencegah perang terjadi. Namun, jika perang itu benar-benar terjadi, siapapun yang memulainya, kita harus mempertahankan diri,” kataku.
“Kau mengingatnya dengan cukup baik,” Augusto pasti akan tersenyum beberapa saat sebelum itu. Tapi ketika rasa sakit akibat berkelahi itu semakin terasa, kami berusaha melakukan gerakan bibir sesedikit mungkin.
“Itu kata-kata Thomas Jefferson , bukan?” tanyaku; nyaris tanpa menggerakkan bibir.
“Hm,” sahutnya dengan ekspresi datar.
Malam harinya, di kamar Augusto, setelah seorang wanita tua dari desaku merawat luka-luka kami, aku dan Augusto sibuk membicarakan rencana kami memadamkan “api” di antara kami dan anak-anak yang dulunya adalah teman-temanku. Kini masalahnya, bagaimana cara menemukan hal yang menjadi kelemahan anak-anak itu, seperti yang dilakukan Toyotomi Hideyoshi pada Benteng Takamatsu?
Berbagai cara dan ide bermunculan, namun tak ada satu pun yang akan terealisasi dengan benar. Dengan putus asa, Augusto melempar-tangkap sebuah buku tebal bersampul kulit yang akan dibacakannya untukku. Augusto melempar buku itu sekali lagi, tepat ketika pintu kamar terbuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang akan masuk; Augusto mengerang dengan tiba-tiba. Aku tidak menoleh, tapi, dari suara yang dihasilkan, aku menduga buku dengan sampul kulit itu telah menimpa kepalanya.
“Aku lupa membicarakan ini sebelumnya, tapi besok aku akan ke kota,” kata Tuan Fretes. Dia sudah duduk di ujung ranjang Augusto. “Apakah ada yang kau inginkan untuk hari ulang tahunmu?”
Augusto tidak menjawab, terlihat berpikir. Tuan Fretes menatapku, “Apakah ada yang kau inginkan?”
Aku berpikir sejenak, lalu ide itu melintas di kepalaku. Aku melompat mendekat pada Augusto dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Aha!” dia berteriak keras beberapa detik kemudian, lalu meringis kesakitan saat luka yang telah mengering di bibirnya kembali pecah.

***

Rencana kami berhasil dengan baik. Beberapa hari setelah pergi ke kota, Tuan Fretes pulang dengan membawa berbagai barang. Dia meletakkan karung kecil di hadapan kami ketika Augusto sedang bersamaku di dapur untuk membuat teh. Tanpa mengatakan apapun, Tuan Fretes mengangkat alis dan pergi. Aku dan Augusto saling bertukar pandang, lalu, dengan tidak sabar, menyerbu karung itu dan membukanya. Kami menahan nafas saat melihat lebih dari sepuluh gasing di dalam karung itu.
Teh di dapur segera terlupakan. Aku dan Augusto, tanpa berbicara satu sama lain, berjalan tergopoh-gopoh menuju sungai dengan menggotong sekarung gasing. Seperti dugaan kami, anak-anak itu sedang bermain di sungai. Aku dan Augusto terhenti. Memandang anak-anak itu dengan jantung berdebar-debar karena dua alasan. Pertama, karena gelisah memikirkan apakah rencana itu akan berhasil. Kedua, karena kami takut pulang dengan lebam-lebam di wajah kami.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan kami, insting mereka memerintahkan untuk menghampiri kami. Dengan wajah galak, Bogel, yang terbesar di antara mereka, merebut karung di tanganku dan Augusto.
“Apa ini?” tanyanya dengan suara kasar. Begitu membukanya, wajahnya seketika merona. Aku mengenali ekspresi penuh damba pada wajahnya saat itu. Bagaimanapun, aku lebih lama berteman dengannya dari pada dengan Augusto.
“Itu punya kalian,” kata Augusto dengan suara gemetar. Anak-anak itu menatap Augusto dengan ekspresi tidak percaya. “Ayahku yang membelikannya. Ambillah,” kata Augusto. Aku heran dengan suaranya yang terlalu gemetar. Maksudku, aku tidak mengira dia akan setakut itu. Saat menoleh untuk menatapnya, aku menyadari bahwa itu bukanlah rasa takut.
“Aku selalu ingin berteman dengan kalian,” katanya. Suaranya bergetar karena emosi yang tidak terduga. “Tapi kenapa kalian selalu memperlakukanku dan dia dengan kejam?”
Bogel terlihat kehilangan kata-kata. Dia menggeleng lalu berkata, “Tapi kau kulit putih! Kau penjajah!”
“Aku bukan penjajah!” teriak Augusto. Setelah itu dia tidak mengatakan apapun dan menangis, bahkan ketika aku membimbingnya pulang.
Kami duduk di teras rumah ketika senja sore itu membuat bayang-bayang pepohonan memanjang, sehingga rumah terlihat lebih gelap.
“Aku bahkan bukan kulit putih,” kata Augusto dengan mata sembab. “Aku bangsa Kaukasian.”
“Apakah itu berbeda?” tanyaku.
Augusto mengangguk. Bogel dan anak yang lain muncul tiba-tiba tanpa kami sadari sebelumnya. Bogel terlihat salah tingkah, tapi lalu berkata kepada Augusto, “Kau serius tentang gasing-gasing itu?”
Augusto berdiri, menghampiri mereka, lalu mengangguk.
“Terimakasih,” kata Bogel, diikuti anak-anak yang lain.
“Apa kita teman sekarang?”
Bogel menunduk malu, lalu mengangguk. Augusto memeluknya seketika. Aku tidak ingin kehilangan momen itu dan berlari menghampiri mereka untuk memeluknya. Anak-anak yang lain juga memeluk kami setelah itu.
Senja itu, api di antara kami berhasil dipadamkan. Aku tahu sebenarnya mereka adalah teman-teman yang baik. Hanya saja, sebelumnya, mereka tidak ingin membuka diri kepada orang yang terlalu berbeda. Hal sederhana seperti gasing—atau malah tangisan Augusto?—telah membuka diri mereka kepada Augusto. Sebagai hadiah atas ideku, Augusto mengajariku membaca untuk pertama kalinya malam itu.

***

Suatu hari di bulan Januari tahun 1940, Tuan Fretes meninggal. Ayahku meninggal beberapa hari setelahnya. Bahkan, dengan keberadaan Augusto di rumah besar itu, semuanya tetap terasa begitu kosong. Seperti ada sesuatu yang salah.
Kami duduk di teras rumah pada senja setelah pemakaman ayahku, persis seperti sepuluh tahun sebelumnya, ketika kami berusia sembilan tahun. Senja itu, Augusto mengutarakan keinginannya untuk pergi dari tempat ini.
“Terlalu banyak kenangan di tempat ini,” katanya. “Beberapa hari terakhir aku hanya menutup mata tanpa tidur di malam hari, dengan harapan, ketika membuka mata, kita akan kembali ke masa-masa itu.”
Aku tersenyum. “Mungkin malam ini aku pun akan begitu.”
“Aku berpikir,” katanya dengan suara berbisik, “apakah kau akan baik-baik saja.” Dia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan, “Apakah tidak apa-apa kalau aku pergi meninggalkanmu?”
Aku menatap wajahnya, dan dia menatap wajahku. Aku tahu, tidak ada yang bisa kukatakan untuk mencegahnya pergi. Seminggu setelah itu, aku menatap lekat-lekat mata cokelat Augusto untuk terakhir kalinya. Saat-saat itu begitu emosional dan dia memelukku erat-erat.
“Selama ini aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelayan,” katanya. “Kau adalah saudaraku.” Dia melepas pelukannya, mencengkeram bahuku erat-erat. Dia tersenyum, tapi aku melihat matanya berkilau oleh air mata. “Semua bukuku kini milikmu. Kau bisa membaca kisah Toyotomi Hideyoshi dengan leluasa sekarang.”
Aku tersenyum tanpa berkata-kata, karena aku tahu, mengucapkan sepatah kata saja akan membuatku menangis.
“Selamat tinggal, saudaraku,” katanya sambil berjalan menjauh.

***

Ada kerinduan yang menyeruak di antara hujan petang itu, di bulan Februari tahun 1941. Aku berdiri di depan jendela di kediaman baruku di Djodipan, Malang. Tetes-tetes hujan sebesar butir peluru memberondong tanah. Tangan kananku menggenggam selembar kertas, sepucuk surat dari Augusto, singkat, tapi sanggup menggugah suasana hatiku menjadi tidak menentu.
Tepat sehari setelah kepergian Augusto pada bulan Januari tahun 1940, aku memutuskan untuk pergi dari tanah kelahiranku. Sebelum itu, aku meminta Bogel menjaga dan merawat rumah Tuan Fretes dan meninggali kamarku. Di Malang-lah pada akhirnya aku memilih kehidupan baruku. Di kota itu, aku bekerja sebagai seorang juru cetak di sebuah percetakan surat kabar dan berbagi rumah dengan Kromo (dia bekerja di Radio Goldberg ). Pekerjaanku cukup merepotkan, karena kala itu percetakan-percetakan masih menggunakan handset; huruf demi huruf harus disusun membentuk kata, kata per kata disusun membentuk kalimat di sebuah permukaan. Setelah seluruh alinea tersusun, aku akan memasukkannya ke mesin cetak dan mulai mencetak lembar demi lembar; harus berhati-hati agar tanganku tidak terjepit mesin cetak saat meletakkan selembar kertas dan mengambilnya. Jika pencetakan telah selesai, aku akan melepas huruf-huruf itu dan menyimpannya untuk kemudian hari. Lebih dari setahun aku menjalani hidup di tempat ini hingga pada suatu siang di bulan Februari tahun 1941, Bogel—terlihat lebih hitam dan kurus—tiba-tiba muncul di kediamanku untuk mengantarkan sepucuk surat.
Aku membukanya, isinya cukup singkat. Augusto memberitahuku bahwa saat itu dia tinggal di sebuah kota di Jepang. “Bukan kota di mana istana Toyotomi Hideyoshi berada,” tulisnya. “Tapi aku akan mengunjunginya suatu hari nanti.”
Senyum bahagia mengembang di bibirku. Aku menuliskan balasan untuknya, mengirim surat itu keesokan harinya, dengan harapan balasan darinya akan meluncur dengan cepat mengarungi lautan. Sejak itu, setidaknya dalam setahun akan selalu ada sepucuk surat darinya untukku.

***

Pada 7 Desember 1941 pagi, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menyerang Honolulu, Hawai. Serangan ini dikenal dengan Serangan Pearl Harbor dan memicu pecahnya Perang Pasifik. Dengan menggunakan taktik Jerman, Jepang melancarkan perang kilat ke Asia Tenggara. Negara-negara jajahan Barat jatuh ke genggaman Jepang; Nusantara jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942, dan, pada 8 Maret 1942, Jepang memasuki Malang.
Jepang mengeluarkan sebuah pengumuman yang intinya berupa larangan untuk mencetak segala hal yang berhubungan dengan pengumuman atau penerangan, kecuali untuk badan-badan yang mendapatkan izin. Dengan peraturan baru itu, penerbitan tempatku bekerja ditutup dan aku kehilangan pekerjaan. Kromo sudah lama kehilangan pekerjaannya, tapi dia beruntung karena pada akhinya bekerja di eks-radio Belanda yang diperbaharui menjadi Malang Hosokyokai6 setelah menyatakan bersedia mendukung alat propaganda Jepang itu.
Kromo dan rekan-rekannya melakukan kegiatan “bawah tanah”—dengan melakukan observasi siaran radio asing—memasuki tahun 1944 untuk menggali informasi tentang apa yang terjadi di dunia luar. Mereka harus memperhitungkannya dengan tepat karena, jika tidak, mereka akan bernasib sama dengan seorang wartawan Domei7 yang dibunuh karena dituduh mendengarkan siaran radio musuh. Melalui radio-radio asing itu, kami mengetahui kejadian-kejadian mendebarkan di awal Agustus 1945.
Saat itu aku baru saja memasuki rumah ketika Kromo mengatakan sebuah kabar yang membuatku membeku selama beberapa saat. Sebuah bom atom telah dijatuhkan Amerika di atas Hiroshima pada tanggal 6 Agustus. Aku ingat tubuhku yang menjadi dingin dan membeku. Suara dentuman bom itu seakan terdengar di telingaku, membuatnya berdenging untuk beberapa saat.
Hari itu juga, dengan jantung berdegub kencang, aku menulis surat untuk Augusto. Aku bersepeda dengan kencang menyusuri Pecinan8 menuju Kantor Pos dan Tilgram9 di Jalan Kayutangan. Mendekati Alon-alon, terlihat gedung-gedung megah yang mengelilinginya, di antaranya Javasche Bank10 , Palace Hotel11 , Gedung Societeit Concordia12 , sebuah gereja bergaya Neo Gothik, gedung Asisten Malang Residen13 , dan Kantor Pos dan Tilgram sendiri. Aku menghentikan sepedaku yang melaju begitu kencang di depan Kantor Pos dan Tilgram, membuat roda depan sepedaku berdecit nyaring. Begitu masuk ke dalamnya, aku menjalani beberapa prosedur, dan mengirim surat itu; berharap Augusto masih akan membaca suratku.

***

Hari ini, ketika aku berdiri kembali di kediaman Tuan Fretes, adalah bulan Agustus tahun 1957, dua belas tahun sejak surat terakhir yang kukirimkan untuk Augusto, sahabatku, tak berbalas. Bagiku, ini adalah waktu yang cukup lama untuk membuktikan satu hal: bahwa Augusto telah tiada, tepat di hari ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima.
Aku berjalan ke belakang rumah yang pernah megah ini, dan melihat halaman belakang. Samar-samar, aku seakan mendengar suara dua langkah kecil yang terseret-seret, lalu suara Augusto yang memanggil ayahnya, “O Pai.”
Tuan Fretes menoleh, di sebelahnya berdiri ayahku yang menopangkan berat tubuhnya pada gagang sapu lidi. Aku dan Augusto muncul dari sesemakan dengan wajah lebam di sana-sini dan mendekati api. Aku menatap mata cokelat gelap milik Augusto dengan haru, sekali lagi. Mata itu memantulkan api yang berkobar di hadapan kami, terlihat menyala-nyala, lalu aku menghampiri sahabatku yang telah lama pergi dan memeluknya untuk melepas rindu.

Kenzarah Zhetira Alam adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta, Penulis Novel “Kick-Off!!!

Catatan:
1. Berdasarkan The Swordless Samurai Pemimpin Legendaris Jepang abad XVI oleh Kitami Masao, diedit oleh Tim Clark. DIterbitkan di Indonesia oleh Zahir Books.
2. Pai adalah Ayah; dalam bahasa Portugis.
3. Thomas Jefferson adalah Presiden ke-3 Amerika Serikat. Masa jabatan: 1801-1809.
4. Radio Goldberg, berada di Toko Goldberg, sekarang Jalan Basuki Rahmat. (http://www.rri-malang.com/history/index.html)
5. Serangan Jepang ke Honolulu berdasarkan sumber Wikipedia.
6. Terletak di Jalan Betek, sekarang Jalan Mayjen Pandjaitan.
7. Bernama Koesen, pembunuhnya bernama Kenpei. Berita lain menyebutkan Koesen dibunuh karena menyembunyikan buronan Jepang. Sumber: http://www.stikosa-aws.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=157:sejarah-pers-indonesia-pada-masa-penjajahan&catid=138:artikel&Itemid=107
8. Sekarang Jalan Pasar Besar.
9. Sekarang sudah dibongkar.
10.Sekarang Bank Indonesia.
11.Sekarang Hotel Pelangi.
12.Sudah runtuh, di atasnya dibangun pertokoan.
13.Terletak di selatan Alon-alon, sekarang sudah dibongkar.

Perempuan dengan Secangkir Kopi

Cerpen Jimmo Morison
Editor Ragil Koentjorodjati
wanita peminum kopi
Ilustrasi dari shutterstock
Apa yang bisa kubuat dalam hidup ini selain menyanyi. Ya, hanya itu keahlianku. Memainkan lagu dengan gitar tua yang kubeli dari seorang teman dengan cara mencicil. Hampir semua pengunjung café suka dengan lagu yang kubawakan, bahkan ada yang mengundangku untuk acara keluarga atau pernikahan. Rata-rata mereka suka. Tapi tidak dengan perempuan berkemeja lengan panjang dan be-rok mini yang diam tanpa ekspresi, sepertinya sama sekali tidak menikmati musik yang kumainkan.
Aku berkesimpulan seperti itu, karena dalam empat hari berkunjung ke Café ini, perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Saat tamu lain memberi tepuk tangan, perempuan itu tetap diam. Dengan pelan tangannya mengambil kopi di depannya dan meneguk perlahan, sepertinya menikmati setiap cecapan dan rasa di lidahnya, sama sekali tidak terpengaruh dengan suara tepukan. Kemudian matanya menatap panggung dengan tatapan tak peduli. Perempuan itu duduk sendiri, dan lebih sering sendiri, walau kadang beberapa temannya datang untuk sekedar mengobrol. Ketika teman-temannya terhipnotis lagu yang kumainkan, perempuan itu tetap saja tak peduli.
Hampir setiap datang ke Café perempuan itu melakukan kebiasaan yang rutin. Datang, duduk lalu memesan beberapa gelas kopi sampai café tutup. Selalu begitu. Dia tak peduli dengan lagu, obrolan atau suara gaduh apa pun di café. Di tengah kebisingan, perempuan itu mempunyai dunianya sendiri yang berbeda dan tenggelam di dalamnya.
“Kau lihat perempuan berkemeja panjang itu?” tanyaku pada Roni, salah satu pelayan tersenior di café. Roni hanya menoleh sepintas kemudian pergi membawa pesanan untuk tamu. Beberapa menit kemudian Roni menghampiriku yang masih duduk di sela istirahat menyanyi.
“Kau suka?” tanya Roni sambil lalu. Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia sudah pergi lagi. Entah, mengantar pesanan ke meja yang mana, aku tidak terlalu peduli. Beberapa detik kemudian Roni datang kembali.
“Perempuan itu selalu memberi tips banyak. Wajar kalau kau menyukainya.” Roni nyerocos sesukanya, kemudian pergi lagi sebelum aku menjelasan maksud pertanyaanku. Kesal juga mengikuti polahnya. Ia berbicara sesukanya sedang aku, setiap hendak membuka mulutku ditinggalnya pergi. Sialan!
Lagu lawas sekitar akhir delapan puluhan kumainkan. Sepasang sejoli, entah mereka suami istri atau bukan, ikut menyanyikan. Mungkin pasangan itu generasi akhir delapan puluhan. Tapi yang jelas bukan mereka yang kuharapkan ikut menyanyi. Perempuan dengan secangkir kopilah yang kuharapkan. Tapi sekali lagi harapanku untuk membuat perempuan itu menyanyi atau sekedar memberi tepuk tangan, sirna. Perempuan itu sama sekali tidak peduli dengan lagu yang pernah hits di akhir delapan puluhan. Dan perempuan itu juga tidak peduli dengan usahaku menyanyikan lagu sesempurna mungkin.

***
Hari itu, hujan datang sejak pagi. Udara terasa lebih dingin, lembab dan tanah basah. Café menjadi sepi pengunjung. Aku sedikit malas untuk naik panggung. Bukan karena alasan, pengunjung yang sepi membuatku seperti kehilangan semangat. Mungkin perasaan yang sok artis telah masuk dalam jiwaku. Musisi tanpa album dan tanpa karya, tapi tidak salahkan kalau aku ingin dikenal walau hanya sekelas pengamen café.
Tanpa kuduga, perempuan itu datang dengan sedikit basah. Tangannya mengelap bahu dengan sapu tangan, kemudian dikibaskannya rambut tebal menghitam berkilatnya. Perempuan itu berjalan ke arah panggung dan duduk lima meter dari tempatku duduk. Biasanya perempuan itu menghindari meja dekat panggung walau sering kali kursi di sana kosong. Ia lebih suka duduk di meja pojok dekat jendela, kemudian matanya akan menatap riuh jalan yang kadang macet dan kadang lancar.
Matanya melihat sekeliling, mungkin perempuan itu sedang merasakan sesuatu yang beda di café, atau juga merasakan sepi yang tak seperti biasa. Pandang matanya jatuh ke arahku, boleh dibilang kami saling pandang walau hanya sekian detik dan mungkin punya arti, atau tidak sama sekali. Perempuan itu memanggil pelayan, bicara sebentar lalu menyulut rokoknya. Aku tak pernah melihat dia merokok. Selama perempuan ini menjadi pengunjung café, beberapa kali aku diam-diam memperhatikannya. bukan karena dia cantik atau menarik, tetapi karena dia tidak pernah bertepuk tangan, tak pernah ikut bernyanyi dan tak pernah meminta lagu. Dia yang menganggapku seolah tidak ada.
Perlahan ia mengisap rokoknya, kemudian melepaskan asapnya dengan nikmat. Asap sejenak mengapung di udara, bergumpal putih kemudian musnah. Itu serupa beban yang lama dipendam kemudian dilepas begitu saja. Matanya kembali menyapu isi ruangan hingga berhenti beberapa detik menatapku. Ah, bukan detik kukira, kalau aku hitung hampir lima menit. Terasa cukup lama dikurung pandangan yang sempat membuatku beku. Memandang orang asing dalam waktu lima menit itu aneh. Perempuan itu menggeser kursinya lalu berdiri dan berjalan ke arahku. Kemudian duduk dan meletakan sisa rokok di dalam asbak.
“Mainkan satu lagu untukku,” pinta perempuan itu setelah duduk di depanku. Tanggannya sibuk mematahkan sisa rokok dalam asbak. Tanpa kata tolong, kalimat itu terasa dingin dan angkuh, meski tidak ada nada memerintah. Mungkin itu lebih tepat sebuah ejekan.
“Aku kira kau tak mengerti musik. Buat apa kau minta lagu,” jawabku mencoba menekan suara sedatar mungkin.
“Aha..?” mulut mungilnya sedikit terbuka, kening mengerenyit mencipta lipatan alis dan bulu mata yang terlalu sulit untuk kulupa. Bahu sedikit terangkat, begitu sempurna ia berkata,”Atas dasar apa?” Nada dan gerak tubuh perempuan itu serasa membuatku tenggelam pada rasa begitu rendah. Aku mencoba tersenyum, mungkin tebakanku benar.
“Karena kamu sama sekali tidak pernah ingin mendengar musik yang kumainkan. Kalau kau tahu musik atau penikmat musik, paling tidak kau memberi tepuk tangan.” Terangku dan kembali tersenyum. Senyum yang cukup berhasil. Perempuan itu menyulut rokoknya lagi dengan ekspresi biasa di wajahnya.
“Mainkan saja musiknya, aku ingin mendengar,” ucap perempuan itu tanpa membahas kata-kataku tadi.
“Untuk apa bila kau tak menikmati?”
Perempuan itu tersenyum,kemudian mematikan rokoknya yang baru beberapa hisapan. Matanya jernih dan tajam menikam. Tepat ke mataku.
“Kau tahu arti menikmati?” tanya perempuan itu.
“Ya,” jawabku cepat.
“Jelaskan padaku,” pintanya.
Aku bingung menjelaskan dengan kalimat apa. Untuk pengertian dari sebuah kalimat menikmati, otakku bekerja keras. Pertanyaan sederhana namun otakku cukup bekerja sangat keras untuk menjelaskan.
“Ternyata kau tak bisa menjelaskan, tapi kau bisa menuduh orang dengan pikiranmu dan kesimpulanmu,” ucap wanita itu tanpa ekspresi setelah beberapa menit tidak dapat jawaban dariku. “Mainkan satu lagu untukku,” pinta perempuan itu sekali lagi. Aku hanya mengangguk dan membawa gitarku. Lagu lawas pertengahan tahun sembilan lima kumainkan. Dan seperti biasa, kulihat perempuan itu hanya meneguk kopinya, tanpa ekspresi, tanpa peduli ddengan lagu dan lirik yang kunyanyikan.

***
Setelah beberapa hari hujan turun, sepertinya malam ini langit mengerti, purnama bersinar terang meski kalah dengan terang lampu-lampu di setiap sudut kota. Tiga lagu sudah kumainkan. Sejak lagu pertama, mataku terus mencuri pandang ke arah meja tempat perempuan itu biasa duduk. Biasanya, sebelum aku bernyanyi perempuan itu sudah datang, paling telat lagu kedua. Kualihkan mataku ke pintu masuk berharap perempuan itu datang, namun yang kulihat hanya pengunjung café lain.
Beberapa menit lagi cafe tutup, aku menyarungkan gitarku. Segelas air putih yang dari tadi belum kuteguk kini kuteguk sampai habis. Manager café menghampiriku dan menyelipkan amplop jatah setiap selesai ngamen.
“Kau kenapa?” tanya Roni saat melihatku masih duduk di kursi.
“Enggak apa-apa,” ucapku lalu berdiri.
“Kau menunggu perempuan itu?” tebak Roni. Aku hanya menggeleng tanpa menoleh ke Roni.
“Hati-hati, jangan sampai kau nasksir kawan,” ucap Roni sedikit keras, kemudian kembali mengelap meja.
Ini hari ketiga perempuan itu tidak datang ke café, entah mengapa aku seperti kehilangan. Beberapa lagu yang diminta pengunjung tak maksimal kumainkan. Aku seperti kehilangan seseorang, seperti waktu masa SMA dulu, saat aku kehilangan cinta pertamaku. Hidup seperti hampa dan not-not yang kumainkan seperti nada-nada tak bertuan, kosong,sunyi dan tanpa makna. Perempuan itu seperti nyawa, entah sejak kapan. Walau di antara kami tidak pernah ada saling rasa, bertanya sekedar meminta nomor telepon, atau juga tidak berkencan.
Hari ketujuh, lima menit sebelum café tutup, perempuan itu mendatangiku. Entah ada sesuatu yang menahanku untuk tak segera pulang seperti malam-malam biasanya.
“Kau mau pulang?” tanya perempuan itu setelah matanya melihat gitarku yang sudah masuk dalam sarung. Aku hanya mengangkat bahuku tanpa jawaban, tapi hatiku berbunga-bunga, seperti bertemu kekasih yang lama tak jumpa.
“Kukira café sudah tutup,” jawabku. Perempuan itu tak menjawab. Kemudian ia membalikkan badannya, melangkah pergi. Aku melirik Roni, meminta sesuatu yang berharap dikabulkan. Dan sepertinya Roni paham, maka tanpa hitungan detik Roni langsung mengangguk.
“Kau mau kutraktir kopi?” tanyaku dengan suara sedikit kukeraskan sebelum perempuan itu sampai pintu keluar. Sejenak ia berhenti dan menoleh sembari menatapku. Tatapan yang tak sanggup kumengerti.
“Bukankah sudah tutup?” tanyanya dengan masih berdiri di dekat pintu keluar.
“Hari ini spesial, ada tamu yang memberiku tips lumayan,” jelasku. Kemudian perempuan itu berjalan ke arahku. Sesampai di dekatku dengan cepat dia menarik kursi di depanku. Roni kemudian datang membawakan dua gelas kopi yang mengepul nikmat.
Entah mengapa, sejak perempuan itu telat datang ke café, aku selalu memikirkannya. Dan setiap kali perempuan itu datang ke café aku seperti mempunyai kekuatan lebih untuk bernyanyi. Walau seperti biasa, perempuan itu tak peduli, dan aku tak pernah tahu dia menikmati musik atau tidak. Sekarang buatku tak penting, aku cukup bahagia dengan kedatangannya, meski kita tidak pernah ada ikatan apa-apa.
Seperti seminggu yang lalu, tiba-tiba perempuan itu hilang lagi. Aku berpikir pasti ia telat seperti beberapa hari sebelumnya, kemudian ia akan datang dan mengajakku minum kopi di café yang sepi dengan lampu temaram setelah tidak ada lagi pengunjung yang lain. Berdua menikmati kopi. Aku tak langsung menyarungkan gitarku, aku berharap perempuan itu datang seperti waktu itu kemudian memintaku untuk memainkan sebuah lagu. Dan hanya lagu itu yang dia selalu pinta, aku tak pernah tahu alasanya. Mungkin lagu itu sangat berarti untuknya atau menyimpan sebuah kenangan. Aku tak ingin bertanya, kadang bila seorang laki-laki bertanya sering kali diartikan merayu, dan aku tak ingin merayu perempuan itu. Kalaupun ada yang bergejolak dalam hatiku, cukup aku saja yang tahu, selebihnya biar Tuhan yang mengaturnya.
“Kau sudah baca koran hari in?” pertanyaan Roni membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng.
“Bacalah,” sambung Roni.
“Sejak kapan aku baca koran?” jawabku sedikit kesal. Bukan karena pertanyaan Roni yang membuatku kesal, tetapi terlebih karena perempuan itu sepertinya tidak adakn datang malam ini.
“Mungkin berita ini bisa mengubah pikiranmu tentang Koran,” jelas Roni lalu meletakkan koran di meja. Kupandangi Roni yang meninggalkan koran begitu saja. Sejatinya aku menghindari koran karena aku muak membaca berita politik negeri ini. Setiap membaca koran aku selalu mendapatkan berita yang sama dalam kurun beberapa tahun, mungkin bertahun-tahun berita Koran di negeri ini sama, maka dari itu aku berhenti membaca koran.
Dengan malas aku mengambil koran, mataku langsung menatap sebuah foto perempuan dengan kemeja yang aku kenal di halaman depan. Di samping foto itu terpampang berita ‘SEORANG PEREMPUAN YANG DIDUGA ISTRI MUDA TEWAS DI KAMAR HOTEL DENGAN LUKA TUSUKAN DI LEHER DAN DADA’. Sedikit gemetar, kulihat meja tempat di mana perempuan itu biasa duduk. Nanar aku pandangi samar meja itu di bawah cahaya lampu temaram. Dan kini aku mengerti cara memandangnya yang dingin, tatapan tanpa ekspresi dan kenapa ia menyukai lagu yang sama, berulang-ulang.

-Ruang berantakan sehabis hujan dan sebotol air putih, 10 January 2012-

Sore Berhujan di Adelaide

Cerpen Vivi Fajar A
Editor Ragil Koentjorodjati

rose in the rainMusim gugur baru saja tiba di Adelaide. Suhu udara yang selama musim panas seringkali melampaui empat puluh derajat celcius di siang hari mulai stabil di angka dua puluhan derajat saja minggu-minggu ini. Sejuk dan segar, mengingatkanku pada hawa dingin Lembang atau kawasan Puncak, tempat yang lazim didatangi wisatawan saat berlibur. Berkeliaran di siang hari di alam terbuka tidak lagi merepotkan dan menguras keringat. Perlengkapan semisal sun cream dan kacamata hitam mulai jarang kusentuh, seringkali tetap tersimpan rapi dalam tas atau saku celana kargo cokelat tua yang setia menemaniku ke mana-mana.
Seperti hari ini, aku memulai hari dengan mengecek perkiraan cuaca di tengah siaran berita pagi di televisi. Cuaca tampaknya akan lumayan bersahabat, suhu tertinggi diperkiraan tiga puluh tiga derajat, sedang suhu terendah dua puluh lima derajat, dengan probabilitas turunnya hujan tiga puluh persen saja. Jika dibandingkan dengan Jakarta di musim kemarau, tentu hari ini bakalan kalah panasnya, tetapi setelah mengecap hawa dingin saat musim dingin tahun lalu, bagiku angka tiga puluh derajat menjadi pengingat untuk tidak mengenakan jaket atau kaus tebal apalagi berlengan panjang di siang hari. Salah kostum bisa benar-benar dihindari jika orang serius mematuhi saran sang peramal cuaca. Ini juga yang menjadi salah satu pelajaran paling berharga bagiku semenjak menginjakan kaki di Adelaide, “percayalah pada ramalan cuaca”.
Menyaksikan acara ramalan cuaca di pagi, siang atau sore hari kini telah menjadi kebiasaan rutinku. Selain informasinya yang hampir selalu akurat, pembawa acara biasa tampil cantik dan menarik, bergaya bahasa lugas dan tampak cerdas di mataku. Ah, jadi teringat pada acara serupa yang ditayangkan saluran televisi nasional Indonesia yang kebetulan juga ditayangkan oleh saluran berita stasiun televisi nasional Australia, dengan pembawa acara amatir yang seringkali tergagap-gagap saat bicara dan dandanan ala kadarnya, acara ramalan cuaca ala Indonesia menjadi tayangan yang lebih baik dilewatkan, tinimbang membuat sakit mata dan menimbulkan gerundelan tak sedap walaupun cuma dalam hati.
Beres dengan remeh temeh urusan rumah, pukul setengah sebelas siang aku memutuskan keluar menuju kampusku di wilayah North Terrace, yang merupakan bagian pusat kota Adelaide, dengan mengendarai skuter matic merah seratus sepuluh cc, produk unggulan dari Jepang yang lumayan populer di jalanan kota ini. O ya, jika membayangkan pengendara sepeda motor di jalanan kota ini, jangan bayangkan jumlahnya sebanyak biker di Jakarta yang jutaan jumlahnya. Sebagai ibu kota negara bagian Australia Selatan (South Australia),dengan luas 870 km2 dan berpenduduk hampir 1.500.000 orang, pengendara sepeda motor di metropolitan Adelaide hampir bisa dihitung dengan jari alias tidak banyak. Jalanan dikuasai oleh mobil pribadi, selebihnya adalah bus umum dan trem. Harap maklum, di negeri empat musim seperti di sini, sepeda motor bakalan tidak sering digunakan. Siapa yang mau berbasah-basah atau kedinginan terterpa angin kencang di musim gugur atau dingin serta terpanggang panas matahari saat cuaca ekstrem singgah di Adelaide? Menurutku saat ternyaman menjajal jalanan Adelaide dengan sepeda motor hanya di musim semi, yaitu saat hawa dingin telah menguap, udara menghangat dan pemandangan di sepanjang jalan luar biasa cantiknya, saat bunga-bunga berwarna warni mulai muncul bermekaran dan banyak gadis mulai menanggalkan jaket tebalnya berganti model pakaian yang lebih beragam dan layak konsumsi bagi mata lelaki. Namun, hari ini tentulah salah satu pengecualian, dengan tingkat kepercayaan diri mencapai delapan puluh sembilan persen, aku keluar ditemani si merah.

***

Kuliah berakhir sebelum pukul lima sore, kuliah ekonomi makro lanjutan dan econometrics yang membuat otakku mendidih dan mata sepat luar biasa. Tak sabar aku ingin segera pulang dan menenangkan diri sebelum mulai bergelut menuntaskan setumpuk tugas yang telah menanti. Sepertinya, perpaduan antara paper dan waktu begadang setiap malam jadi santapan lumrah bagi mahasiswa dengan kemampuan otak setara pentium dua semacam aku. Entah dengan teman-teman yang lain, yang jelas, kembali menjadi mahasiswa setelah sempat bekerja beberapa tahun tanpa menyentuh buku-buku, lumayan terasa berat buatku.
Setelah berbasa basi sebentar dengan teman kelompok belajarku, membuat janji untuk saling bertukar bahan untuk menyusun paper malam nanti, aku bergegas menuju tempat parkir. Langit sore tertutup awan hitam yang lumayan tebal. Probabilitas turunnya hujan yang tiga puluh persen itu nampaknya akan terjadi di pusat Adelaide sore ini. Whewww, berarti aku harus cepat-cepat memacu si merah kembali ke rumah. Bisa repot jika tertimpa hujan di tengah jalan.
Belum lagi mencapai jarak dua kilometer, tepat saat aku menunggu lampu lalu lintas berganti hijau, hujan deras tiba-tiba mengguyurku. Tidak dimulai dengan gerimis, datang begitu saja, rasanya bagaikan tersiram air dari berpuluh ember langsung di atas kepala. Belum lagi angin kencang khas Adelaide ikut-ikutan menyerang. Brrrrr…susah payah aku memusatkan pandangan dari balik kaca helm yang mulai berembun. Sulitnya di sini, pengendara sepeda motor tidak bisa langsung menepi dan berteduh di sembarang tempat. Terbayang ratusan motor terparkir di bawah jembatan Semanggi atau terowongan Casablanca atau berjejal-jejal di halte bus sekitar Pancoran jika hujan tiba-tiba datang seperti ini di kota kelahiranku, Jakarta. Di sini? Silakan saja kalau berani menepi dan berteduh di halte atau di tengah jalan umum seperti terowongan itu. Tidak akan ada polisi yang langsung mendatangi, tetapi tidak dalam hitungan seminggu surat denda akan mampir ke alamat rumah kita. Denda yang tidak tanggung-tanggung, ratusan dollar nilainya, jumlah yang bakal membuat mahasiswa yang bergantung pada uang bea siswa seperti aku bakalan harus berpuasa atau paling tidak absen makan malam selama dua minggu setelahnya.
Beruntung dua ratus meter setelah perempatan ini ada rumah sakit pusat Adelaide, aku berbelok memasuki pelatarannya, memarkir skuterku di tempat yang disediakan dan berlari menuju tempat yang memungkinkan untuk berteduh. Sebenarnya tidak terlalu menolong, mengingat badanku sudah basah kuyup, tetapi jika terus berkendara di tengah hujan angin, aku tidak berani juga. Hujannya sih tidak terlalu kutakutkan, angin kencangnya itu yang sering membuat badan oleng ke kiri ke kanan, dan itu berbahaya bukan saja bagiku tapi juga bagi sesama pengendara lainnya.
Bersidekap menghalau hawa dingin, aku membayangkan suasana yang lazim kutemui saat terjebak hujan di sepanjang jalan raya Kali Malang, jalanan yang biasa kulewati pagi dan petang saat berangkat atau pulang kantor. Hujan begini, yang kutuju kalau tidak halte ya warung-warung tenda yang berjejer sepanjang jalan. Tinggal pilih tenda mana yang ingin kusambangi, mulai soto, sate, bakso, seafood, bubur kajang ijo, atau bubur ayam dan sederet menu lain yang beraneka ragam jenisnya. Hujan bisa jadi pertanda memulai wisata kuliner murah meriah. Menunggu bisa jadi hal menyenangkan, segelas teh manis panas dan semangkuk bubur ayam hangat berkuah kuning nan gurih dengan taburan kacang kedelai goreng, suwiran ayam, irisan daun bawang dan bawang goreng, plus sambal kacang dan kerupuk, hmm, tak lupa obrolan basa basi dengan pemilik atau pelayan di warung tenda atau sesama pengunjung warung yang juga sedang menunggu hujan reda bisa mengurangi kesengsaraan pengendara sepeda motor yang tertahan tak bisa melanjutkan perjalanan. Cukup sepuluh atau lima belas ribu rupiah saja, bahkan terkadang kurang dari itu jika yang kupesan semata segelas kopi susu dan sepotong dua potong pisang goreng, rasanya tenteram dan damai. Ah, cuma lamunan, tapi sudah cukup membuat perutku bereaksi suka cita melagukan keroncong Bandar Jakarta. Ini Adelaide, bung, batinku mengingatkan. Tak ada satu pun pedagang kaki lima di tengah kota, ingin makan berarti masuk ke restoran, yang, tak cuma lumayan mahal harga yang harus dibayar, tapi juga sulit mencari yang menyediakan makanan halal. Makan saja butuh kewaspadaan, soal kehalalan makanan dan soal isi dompet. Beginilah gerangan nasib seorang mahasiswa pendatang, harus selalu pintar-pintar memilih dan berhitung jika ingin tetap bertahan hidup di perantauan.
Lima belas menit, hujan malah main deras, kulihat berkeliling, di ujung lorong menuju ruang gawat darurat, sekitar tiga puluh meter dari tempatku berteduh, berkelompok orang-orang yang juga sedang berteduh, mereka berdiri melingkari tempat khusus membuang puntung rokok. Zona khusus perokok. Cuma para perokok yang tahan berada di sana, terisolasi bersama asap yang tak hanya berhamburan di udara tapi juga ikut terhirup ke dalam paru-paru mereka, tapi entah mengapa tak pernah membuat mereka jera. Untunglah, di sini selalu tersedia zona khusus bagi pemakan asap itu, hingga manusia lain sepertiku yang tak sanggup menghirup bahkan bau asapnya, bisa tetap leluasa bernafas di zona yang lain. Lagi lamunanku membawaku ke satu halte bus yang penuh sesak di sepanjang jalan Mampang Prapatan, tak jauh dari kantorku di Jakarta, ketika lebih dari sepuluh orang berdiri berdesakan di tengah hujan, separuhnya atau mungkin lebih merokok untung mengusir rasa bosan, sementara sisanya cuma bisa menahan nafas dan berdoa dalam hati supaya hujan berhenti hingga bisa menyingkir dari sana atau merutuki dengan emosi namun tak sanggup bersuara melawan hujan asap di ruang terbatas semacam itu. Sungguh, aku kangen bau hujan Jakarta dan suasana saat menanti hujan reda, tapi juga bersyukur, di kota tempat tinggalku kini, lebih banyak manusia yang peduli orang lain contohnya saat melihat ketertiban mereka mematuhi zona perokok ini.
Mestinya saat ini senja telah tiba, langit mulai gelap, bukan semata karena mendung, tetapi karena malam mulai merambat perlahan. Di musim gugur, malam mulai datang lebih cepat, pukul delapan, tak seperti saat musim panas, kala senja baru muncul saat jam menunjukkan pukul sembilan atau lebih. Rasanya tak tenang membayangkan apartemen kecilku yang hangat, yang masih sekitar enam kilometer lagi jauhnya dari sini. Belum lagi, kegelisahanku karena kemungkinan harus melewatkan waktu sholat maghrib. Tak semua sarana publik di kota ini memiliki ruang untuk menunaikan kewajibanku yang satu itu. Karena alasan inilah akhirnya aku memutuskan menembus hujan untuk pulang. Beruntung, angin tak lagi sekencang tadi, tinggal hujan yang menyisakan rinai tipis serupa tirai di hari yang mulai gelap. Kunyalakan mesin dan bersama si merah membelah malam.

***

Lima belas menit berlalu, dan si merah kini sudah terparkir aman di tempatnya. Aku naik ke lantai dua gedung apartemen, menuju tempat unitku berada. Dingin dan basah. Tanganku yang tanpa pelindung tampak berkerut dan tubuhku yang sejak tadi tak terlindung jaket dan basah kuyup mulai menggigil. Sesaat sebelum memutar anak kunci, mataku melihat secarik kertas berperekat tertempel di pintu. Ada pesan tertulis di sana, “Bim, ponselmu mati ya? Susah kita kirim pesan. Kalau mau yang hangat-hangat, mampir ke unitnya Ninis ya, kita lagi lagi pesta bubur ayam nih.. ttd, Angga”. Ups, ya, memang sedari tadi ponselku kumatikan, kutaruh dalam tempat pensil plastik di dalam tas, khawatir terkena air dan mengalami kerusakan. Pantas saja teman-temanku tak bisa menghubungiku.
Kuputar tubuhku, dan melihat di balkon unit delapan puluh dua yang letaknya di gedung yang berseberangan dengan gedung apartemenku, tampak empat teman seperjuanganku, Nanda, Ninis, Karim dan Angga yang juga teman satu unitku sedang berkumpul sambil bercengkrama. Ninis pastilah yang punya inisiatif memasak menu lezat ini. Aroma bubur ayam racikannya sepertinya telah sampai ke hidungku. Keroncong Bandar Jakarta yang sejak tadi riuh rendah di perutku kembali memainkan iramanya. Ingin tersenyum jadinya. Tuhan memang Maha Tahu, apa yang kubayangkan sore tadi benar-benar terwujud malam ini. Bubur ayam hangat dan kesempatan berbincang akrab dengan Ninis, sang masterchef yang manis, adalah bonus luar biasa untuk hariku yang panjang. Terima kasih banyak Tuhan, rejekiMu memang tak pernah salah pintu.

Adelaide, 16 Maret 2012

Candik Ala

Cerpen GM Sudarta
koleksi foto ragil koentjorodjati
Candik Ala: Foto by Ragil
Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut sore “candik ala”. Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan masuk ke dalam rumah.
Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah, dengan kata yang tak kupahami maksudnya: “Ora ilok!” kata ibu.
Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya:
“Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang.”
“Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?” tanyaku tak sabar. Ibu diam saja.
Memang, kadang-kadang setengahnya aku kurang percaya dengan hal-hal aneh demikian, tapi kadang kala pula hati dibuat ciut dengan kejadian seperti yang pernah kami alami tahun lalu. Menjelang tengah malam kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti jutaan kentongan dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar, seperti dari kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin mendekat. Ibu segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit membaca doa. Kudengar sepotong doanya:
“Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon.”
Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.
“Ada gejog,” kata ibu, “Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya sedang berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal dekat Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar, naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa yang akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan supaya beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah, beliau akan mengambi abdi dalem baru.”
Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung Merapi, letak desa kami.
Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa dengan penuh iba.
“Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?” tanyaku.
“Hush!” jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar tangisan ibu menyayat hati.
Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang suka memberi penyuluhan kepada para petani.
Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami, anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah ibu menjawab:
“Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!”
Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar dari Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.
Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal yang dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.
“Ayahmu sedang berjuang,” ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku tanya soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan berjuang, yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu tidur tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu pun tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang. Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa kutahu sebabnya.
Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar-gelepar.
Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga kilometer ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah oleh rawa. Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap lewat pintu dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan cuaca candik ala, sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari kencang ke rawa, dengan harapan ayah masih di sana.
Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur rawa, di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus semakin mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku berdebar-debar, tak sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang mungkin ada di sana. Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka, seorang petugas mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.
Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku, sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah warna memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris putus asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke arahku, sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!
Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari, menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti tertegun melihat kedatanganku.
Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.
“Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?” tanyaku berulang-ulang
Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: “Nanti kalau kerja besar ini selesai, cah bagus.”
Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.
“Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?” tanyaku.
Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:
“Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur.”
Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak dipaksakan pula. “Ayah nanti tidur di p..p..penjara?” tanyaku terbata-bata menahan tangis.
“Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!”
“Ayah sedang berjuang?” tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.
“Ibu yang bilang…,” kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.
Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:
“Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia Raya!”
Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.
“Ayaaaaaaaaah!!” teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.
Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah sambil menyanyikan Indonesia Raya, katanya.
“Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu,” ujar Lik Kasdi, “Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat.” Aku mau menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu Rini, berkepanjangan di kamarnya.
Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian lama. Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut dengannya. Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore candik ala, setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada yang pecah berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh tahun pula aku mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah sulit. Hanya karena aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang masih saja mengingat ayah adalah ayah kandungku.
Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di tanah!
Klaten, 2005

Catatan:
Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning
Ora ilok: pamali, larangan
Gejog: barisan roh halus
Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan
Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke timur jangan ke barat
Segara Kidul: Laut Selatan
Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir dan lahar dingin

Sumber: Kompas Cetak 30 September 2007

Artikel terkait dengan Cerpen GM Sudarta: Resensi Kumpulan Cerpen GM Sudarta

KEBADHEGAN HIDUP

Cerpen John Darsanto
berjalan di kegelapan
Ilustrasi dari blogspot.com
Ada dua orang pemuda tengah berjalan di sebuah jalan kecil desa. Mereka sudah bersahabat lama. Sambil berjalan mereka tengah serius membicarakan tentang siapakah dirinya di hadapan Tuhan. Dan hari itu mereka sepakat berangkat ke sebuah desa kecil terpencil di ujung jalan kecil itu untuk menemui penasehat saktinya.
Kedua pemuda itu memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan pandangan dalam melihat eksistensi hidupnya. Kedua pemuda itu sama-sama percaya kepada Tuhan. Juga sama-sama tidak beragama. Mereka sama-sama memiliki pandangan bahwa agama itu membelenggu. Keduanya juga sama-sama menjunjung tinggi segala bentuk perbuatan baik, menolong sesama, berbagi rejeki, berprasangka baik terhadap orang lain, tekun bekerja, dan mensyukuri hidupnya.
Tetapi mereka juga memiliki beberapa perbedaan. Saat mereka berdoa, yang seorang suka dengan keheningan, gelap sunyi dan tersembunyi, tanpa sepengetahuan siapa pun. Pemuda hening itu memandang bahwa berdoa adalah komunikasi pribadi antara dirinya dengan Tuhannya. Sedang yang seorang lainnya suka dengan berekspresi, kadang doanya hanya berupa suatu nyanyian yang dia ciptakan sendiri, kadang berupa tangisan dan ratapan, kadang sekali waktu berupa teriakan saat dia senang atau pun saat protes kepada Tuhannya. Bagi pemuda ekspresif itu berdoa merupakan komunikasi emosional antara dirinya dengan Tuhannya.
Dalam perbedaan itu kedua pemuda itu saling menerima dan menghormati satu dengan yang lainnya. Akan tetapi kini mereka sedang mengalami krisis keyakinan karena perbedaan cara pandang yang menimbulkan silang pendapat serius.
Baik Si Hening maupun Si Ekspresif sama-sama meyakini bahwa diri mereka diciptakan Tuhan penuh dengan keistimewaan dan keunikan masing-masing. Sehingga Si Hening yakin bahwa tak ada sedikitpun alasan untuk tidak mencintai Tuhannya. Untuk itulah Si Hening senantiasa berbuat berbagai kebaikan kepada sesama sebagai wujud cintanya kepada Tuhannya. Sedangkan bagi Si Ekspresif memiliki keyakinan bahwa Tuhannya sangat mencintainya, sehingga dia berbuat berbagai kebaikan kepada sesama itu merupakan wujud ungkapan terima kasih kepada Tuhannya.
“Aku merasa tak pantas mendapat ampunan Tuhan,” kata Si Hening
“Kenapa?” Si Ekspresif bertanya dengan nada memprotes pernyataan Si Hening “bukankah kita sama-sama menyakini bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Ampun?”
“Ya karena itulah,” jawab Si Hening “sementara aku justru penuh kebadhegan hidup, perbuatanku masih jauh dari wujud cintaku pada Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Ampun. Aku masih belum mampu memberangus kemaksiatan di sekelilingku. Ketidakadilan dan keserakahan sering hanya kubiarkan berlalu di depan mataku seakan semua itu tak pernah terjadi di depanku. Aku belum mencintai Tuhan sepenuh hatiku. Apa pantas aku menyebut diriku sebagai orang yang dikasihani Dia Yang Maha Baik dan Maha Ampun?”
“Ah, itu hanya perasaanmu saja,” kata Si Ekspresif. “Menurutku justru karena kebadhegan hidup kita itulah maka aku hanya mengandalkan Dia Yang Maha Baik dan Maha Ampun. Dia tahu semuanya tentang hidup kita. Dia menerima setiap kelemahan kita selama kita mengandalkanNya.”
“Itu terserah menurutmu,” kata Si Hening, “menurutku kebaikan Tuhan itu hak prerogatif Dia. Kita boleh mengandalkan Dia tetapi kasihNya mau dilimpahkan ke kita atau tidak itu adalah hakNya. Maaf, aku tidak sanggup kalau harus mendikte Tuhan.”
“Bukan mendikte Dia, Tuhan tidak bisa didikte, Tuhan di atas segala-galanya. Masalahnya ketika kamu mengandalkanNya itu kamu percaya atau tidak akan kuasaNya? Kalau kita percaya, tentu tak ada yang mustahil bagiNya.”
“Ya aku tahu, tak ada yang mustahil bagi Dia selama kita percaya. Tetapi apa wujud bahwa kita percaya sementara berbagai kemaksiatan, kejahatan, keserakahan dan ketidakadilan terjadi di depan mata kita dan kita biarkan? Apa pikiran percaya kita itu sepadan dengan cintaNya? Apa kita berpikir atau merasa percaya itu sama dengan percaya itu sendiri? Apakah ketika kita berpikir mencintai itu sama dengan mencintai itu sendiri? Menurutku tidak.”
“Terserahlah.” Si Ekspresif diam sejenak sambil mendengarkan suara hatinya. “Memang kita harus lebih banyak belajar bersyukur.”
“Maksudmu?”
“Yah… bersyukurlah karena Tuhan sudah memberi kita akal pikiran,” kata Si Ekspresif dengan suara agak sedikit keras. “Tuhan, aku bersyukur kepadaMu…,” teriaknya beberapa kali sambil tangannya diangkat ke atas dan wajahnya memandang langit.
Tak terasa kedua pemuda itu sudah berjalan begitu jauh. Mereka juga tak menyadari bahwa di dekat situ ada sebuah kuburan tua. Kuburan itu pun tak begitu terlihat seperti kuburan karena tertutup oleh banyaknya pepohonan di sekitarnya. Di kuburan itu ada seorang lelaki tua yang sedang mencabuti rumput di atas sebuah pusara baru. Di atas pusara itu masih terlihat bunga yang baru saja mengering dan nisan kayu yang masih berbau cat. Dan lelaki tua itu melihat dua pemuda yang lewat di dekat kuburan itu lalu menegur mereka.
“Hai anak muda, apa yang sedang kalian lakukankan?” hardik Lelaki Tua itu.
Kedua pemuda itu tak ada yang menjawab karena terkejut. Si Ekspresif lebih terkejut lagi setelah menyadari bahwa dia baru saja berteriak-teriak di dekat sebuah kuburan.
“Mohon maaf, Pak,” kata Si Ekspresif menyengir sambil membungkukkan badan ke Lelaki Tua itu
“Kelihatannya kalian bukan orang sekitar desa sini ya?” Lelaki Tua itu mendekati kedua pemuda tersebut “Tadi kok teriak-teriak seperti itu, memangnya ada apa?” selidik Lelaki Tua itu dengan logat bahasa ndesonya.
Kedua pemuda itu pun tak menjawab, mereka hanya saling berpandangan.
“Kalian hendak ke mana?” tanya Lelaki Tua itu lagi.
“Kami hendak ke desa di ujung jalan ini, Pak,” jawab Si Ekspresif
“Ya, kami hanya ingin berbincang-bincang dengan penasehat spiritual kami. Kami memiliki sedikit perbedaan pandangan yang ingin kami tanyakan kepada penasehat spiritual kami. Mohon maaf Pak atas ulah kami baru saja,” tambah Si Hening.
“Ya udah… ini Bapak juga mau pulang. Memang ada masalah apa to, Nak?” tanya Lelaki Tua itu sambil mengangkat cangkulnya dan meletakkan di pundaknya sambil berjalan beriringan dengan dua pemuda itu.
“Bapak juga tinggal di desa ujung jalan ini?” tanya Si Ekspresif agak gugup
“Ya, saya tinggal di rumah pertama di mulut desa,” jawab Lelaki Tua itu mulai ramah. “Nampaknya ada urusan yang sangat penting?”
“Ya kami ingin berbagi rasa tentang hidup dengan dukun sakti yang ada di desa Bapak.” Si Ekspresif yang langsung menjawab.
Dahi Lelaki Tua itu berkerut karena sedikit kaget. “Dukun sakti?… siapa yang kalian maksud?” katanya sambil menoleh memandangi wajah kedua pemuda itu.
“Seorang lelaki tua sebaya Bapak yang tinggal sendirian di mulut desa itu juga.” Si Ekspresif yang menjawab lagi. “Beliau penganut ilmu kepercayaan. Dan kami senang berdiskusi dengan beliau karena kami juga penganut kepercayaan.”
“Kebetulan kami berdua punya pandangan berbeda tentang keyakinan kami. Bapak tentu kenal beliau juga kan?” tambah Si Hening mencoba mengambil hati Lelaki Tua itu.
“Oh, tentu…. tentu. Beliau itu adik saya. Beliau memang satu-satunya penganut ilmu kepercayaan di desa ini, Nak.” Wajah Lelaki Tua itu nampak bersinar tetapi sesaat kemudian meredup kembali, “namun saya sangat prihatin dengan nasibnya karena orang-orang di desa kami menganggap beliau orang kafir. Berkali-kali beliau diadili warga, bahkan aparat desa pun menutup mata atas aksi massa tersebut. Kini rumahnya sudah dibakar habis karena menurut warga desa beliau dianggap menyebarkan ajaran sesat.” Lelaki Tua itu diam sesaat, kemudian melanjutkan kata-katanya dengan suara lebih menggema,”tetapi saya juga bangga dengan adik saya, Nak. Secara diam-diam saya mengikuti ajaran adik saya karena banyak nasehatnya yang lebih baik dibanding orang-orang yang mengaku beragama. Ada satu nasehat yang selalu saya ingat, Nak, yaitu ‘tindakno opo kang kudu kok tindakke, awit siro kabeh wis nganggo busananing aji ” kenang Lelaki Tua itu. “Tetapi gara-gara nasehat itulah rumah adik saya dibakar warga saat adikku terbaring sakit tak berdaya di dalam rumahnya.”
“Berarti pusara itu tadi…?”
Lelaki Tua itu pun mengangguk sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam slepennya, dan di kertas itu tertulis “…lan kabeh busananing aji iku mung nuntun siro marang kabecikan mring titah sami.
Kedua pemuda itu pun saling berpandangan. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam hatinya selain Tuhannya.

Semarang, Februari 2012

Catatan:
kebdhegan: sesuatu yang tidak pantas, mirip aroma comberan
ndeso: dari desa
tindakno opo kang kudu kok tindakke, awit siro kabeh wis nganggo busananing aji: lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan sebab kamu sudah beragama
slepen: tempat tembakau, biasa dimiliki oleh orang-orang desa yang punya kebiasaan merokok langsung dari tembakau racikan sendiri
lan kabeh busananing aji iku mung nuntun siro marang kabecikan mring titah sami: …dan semua agama itu hanya mengajarkan kebaikan terhadap sesamanya

Pasir Panjang

Cerpen Weny Widianti

pantai singkawang
ilustrasi dari univpancasila.ac.id
Berdiri di Pasir Panjang memang mengasyikkan. Sekedar untuk menantang angin laut yang berhembus, menerbangkan helai-helai rambut dan mengobrak-abriknya dengan sukses. Cukup membuat mata pedas dan mengeluarkan air. Atau bermain dengan ombak Selat Karimata yang berbuih pelan. Desirannya mengalun lembut merasuki jiwa. Dasar laut yang beriak tergulung laju ombak, begitu juga pasir putih yang terhampar luas di tepian pantai. Ada banyak goresan pasang surut laut di sana. Jika diperhatikan butiran-butirannya yang halus seakan terikat satu sama lain oleh asinnya air laut.
Sigit sedang berdiri di sana, menghadap matahari yang pelan-pelan sedang turun ke peraduannya di ufuk barat. Setiap hari Sigit melakukan ini. Sejak menginjakkan kaki di Singkawang, melepas kepergian matahari merupakan kegiatan favoritnya seolah-olah dia sedang melaporkan diri bahwa kehidupannya hari ini telah bergulir. Tiap kali Sigit datang ke Pasir Panjang, dia akan berdiri berlama-lama menatap sinar matahari. Dia akan merentangkan tangannya lebar-lebar sambil memejamkan mata. Dia tak peduli pada orang lain yang membicarakan tingkah anehnya dengan berbisik-bisik. Bisa juga dia berjalan menyusuri Pasir Panjang sementara kakinya mempermainkan air. Terkadang dia duduk, tangannya meraup-raup pasir dan berusaha membuat gunungan tak jelas. Barangkali dia ingin meniru gaya orang bule yang membuat istana pasir, tapi yang terjadi malah gundukan rumah keong yang abstrak. Sigit selalu menertawakan hasil karyanya itu.
Banyak orang hilir mudik di Pasir Panjang. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan atau berpelukan mesra menjadi pemandangan yang biasa. Anak-anak kecil hingga remaja berlarian seraya berteriak-teriak. Suara lantang mereka mengalahkan suara ombak. Para orangtua yang mengajak anak-anak mereka jalan-jalan tampak sibuk mengawasi buah hati mereka yang sedang bermain pasir. Sesekali terdengar teriakan seru mereka ketika menemukan keong, siput atau kepiting di antara lubang-lubang kecil di pasir.
Sigit tidak peduli. Bila dia memperhatikan semua orang yang bertingkah segala rupa itu, dia akan teringat rumahnya di Tuban, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa. Pemandangannya tak jauh beda dengan Singkawang. Sepanjang jalan yang akan ditemukan adalah laut. Melihat para orangtua dan putra putrinya, dia teringat pada kedua orangtua dan adik-adiknya. Sigit terpaksa meninggalkan mereka untuk merantau di Singkawang, bertugas demi negara. Konsekuensi menjadi pegawai negeri sipil adalah demikian, mesti bersedia berpisah dengan keluarga untuk ditempatkan di seluruh wilayah negara Indonesia. Tidak mudah memang. Berkali-kali Sigit menahan tangisnya agar tidak pecah sebab menahan rindu pada orang-orang di kampung halamannya.
“ Mas Sigit, kapan pulang?,” tanya Dika, adiknya yang paling kecil, pada waktu Sigit menelpon ke rumah.
“ Nanti kalau lebaran, Mas Sigit pulang ke rumah,” jawab Sigit lembut.
“ Bagaimana pekerjaanmu disana?,” tanya bapaknya.
“ Lancar, Bapak. Alhamdulillah tidak ada halangan.”
“ Kamu tidak mengajukan pindah kemari, Git?” kata ibunya.
Sigit tersenyum pahit. “ Ibu tahu aku ingin sekali, tapi masih belum bisa. Aku belum ada lima tahun kerja di sini.”
Hm, bisa dimaklumi seandainya pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu dihujamkan pada Sigit. Bekerja di tanah perantauan dan jauh dari keluarga, yang ada dalam kepala adalah pertanyaan “kapan Sigit pulang?”
Bicara mengenai teman, Sigit sempat mengalami sindrom friendness. Itu hanyalah sebutan fiktif untuk kerinduan kepada kawan-kawan lamanya di Tuban. Melihat remaja-remaja bergerombol, berteriak-teriak dan tertawa lepas, membuat penyakit friendness-nya kambuh. Dulu saat usianya masih belasan tahun, dia selalu turun ke pantai bersama teman-temannya di setiap hari Minggu. Dia akan menghabiskan waktu berlama-lama berkecipak dengan air laut pantai utara Jawa. Konyolnya, mereka tidak akan pulang sebelum baju dan celana mereka basah kuyub.
Sigit ingat betul bagaimana kehebohan yang terjadi gara-gara Heri, salah satu teman karibnya, kehabisan napas karena hampir saja ditenggelamkan oleh Sigit, Hamdan, Budi dan Tono. Di antara mereka berlima, hanya Heri yang tidak bisa berenang.
Pada hari itu, mereka beruntung mendapat pinjaman sampan dari nelayan yang berdomisili sekitar pantai.
“Aku tidak mau ikut,” kata Heri. Dia kelihatan ketakutan.
“Kenapa?” tanya Budi.
“Kalau tenggelam bagaimana?” kata Heri.
“Tidak akan tenggelam,” sahut Tono.
“Aku tidak bisa berenang.” Heri benar-benar gemetar.
“Tenang! Kalau perahunya terbalik dan tenggelam, kami kan bisa berenang,” kata Sigit.
“Sudahlah, Her, ayo ikut! Kau mau ketinggalan pengalaman mengasyikkan bersama kami?” desak Tono.
Heri akhirnya menurut. Wajahnya pucat pasi. Ketika Tono dan Budi mulai mendayung dan mengarahkan sampan ke tengah lautan, tangan Heri berpegangan kuat pada sisi sampan dan mulutnya komat-kamit tiada henti. Tiap sampan bergetar terkena laju ombak, dia yang pertama kali berteriak keras. Mengetahui kepanikan Heri yang sedemikian rupa, semangat jahil Hamdan timbul. Tiba-tiba saja dia menggoyang-goyangkan sampan dan berteriak,” Ada ikan hiu menyerang kita!”
Sigit, Tono dan Budi tahu bahwa itu konyol. Mereka sedang berada di pantai utara Jawa, bukan di Samudra Pasifik, dan di kedalaman beberapa meter tidak mungkin ada hiu berkeliaran, tapi Heri termakan gurauan Hamdan. Emosinya benar-benar tidak bisa dikendalikan.
“Hiu? Ada hiu? Bagaimana ini?” teriaknya. Dia sudah melakukan gerakan jongkok berdiri. Seandainya sampan ini tidak kecil, mungkin dia juga melakukan salto dan jungkir balik.
“Heri, tenanglah!” kata Sigit. Dia, Tono dan Budi berusaha tidak tertawa, sementara Hamdan terus membuat sampan kami bergoyang bahkan semakin kencang.
“ Bagaimana bisa tenang? Keselamatan kita terancam!” teriak Heri.
Hamdan mendoyongkan sampan ke kiri, membuat Heri oleng dan tercebur ke laut. Heri berteriak keras,”Tolong! Tolong aku!” Tangannya menggapai-gapai permukaan laut.
Bodohnya, saking tertegun dan ingin tertawa, Sigit dan yang lain hanya menonton dari tepi sampan. Senyum mereka lenyap ketika Heri beserta tangannya menghilang dari permukaan. Buru-buru Hamdan menceburkan diri ke laut untuk menolongnya. Sesampainya di pantai, mereka segera melarikan Heri ke rumah sakit yang letaknya tak seberapa jauh. Jelas mereka takut terjadi sesuatu yang fatal terhadap Heri sebab menurut Hamdan tadi, Heri sempat tak bernapas. Syukurlah, Heri selamat. Dia hanya kehabisan napas dan banyak minum air laut. Dalam sekejab dia sudah diperbolehkan pulang dan keesokan harinya dia sudah badung lagi seakan-akan peristiwa kemarin tak pernah terjadi padanya.
Sigit tersenyum geli mengingat kejadian itu. Seandainya kala itu nyawa Heri tidak terselamatkan, barangkali beritanya akan masuk ke surat kabar dengan judul besar-besar “Seorang Bocah Tenggelam Karena Takut Hiu” dan foto mayat Heri terpampang di sana.
Yah, home sweet home. Sesukses apapun pekerjaannya di Singkawang, Sigit tetap merasa hidup di rumah sendiri lebih nyaman meskipun penuh dengan semak berduri. Untuk mengatasi kesendiriannya, Sigit pergi ke Taman Bougenville, sekedar berkumpul dengan teman-teman kantor dan kenalannya sembari duduk mengopi. Letaknya yang di atas bukit sehingga memudahkan kita menatap sekeliling. Jika malam tiba, kota Singkawang terlihat seolah dipenuhi kunang-kunang. Lampu-lampu rumah dan jalan berkelap-kelip warna-warni. Mobil dan motor yang melintas tampak seperti titik cahaya kecil yang bergerak. Pemandangan yang luar biasa. Bandingannya adalah Kecamatan Grabagan di Tuban. Sepanjang yang dilihat adalah gundukan-gundukan batu kapur, jalan yang berkelok dan naik turun, serta tanah merah nan subur. Dari atas bukit kapurnya, kita bisa melihat hijaunya sawah dan padatnya rumah-rumah penduduk. Sungai Bengawan Solo, sungai yang terkenal karena dijadikan judul lagu itu pun, tampak meliuk membelah Kecamatan Rengel, Plumpang dan Widang. Kalau musim penghujan tiba, kita bisa menyaksikan sang bengawan legendaris itu murka hingga memuntahkan airnya ke daratan.
Suara burung-burung terdengar berkoak-koak memecah langit senja Pasir Panjang. Menjelang matahari terbenam, Pasir Panjang dipenuhi manusia berbagai rupa, sedangkan angkasa dipenuhi oleh burung berbagai jenis. Tak dapat dikenali satu per satu. Mungkin ada camar, walet atau bahkan elang. Mereka keluar masuk Pulau Lemukutan. Pulau kecil yang berada di selatan Pasir Panjang itu adalah surga bagi segala jenis burung liar yang menggantungkan nasib dari laut Pasir Panjang. Disanalah burung-burung itu berlabuh dan menghabiskan malam setelah seharian mengais makanan.
Langit sudah berpendar merah, memantulkan sinar matahari menembus awan-awan tipis yang bergerak. Tidak semua momen yang terjadi di pantai adalah momen yang menyenangkan untuk dikenang. Sigit pernah menghabiskan senja terburuk dalam hidupnya di pantai utara Jawa Tuban. Ironisnya, bersama Rini, perempuan yang berhasil menggetarkan hatinya. Secara fisik, Rini tidak cantik. Dari postur dan bentuk tubuh, Rini tidak ada apa-apanya. Dia juga tidak sehalus dan secerdas putri keraton. Yang jelas Sigit mencintainya. Sepengetahuan Sigit, Rini pun demikian. Tidak mungkin dia tidak mencintai Sigit bila dia rela menjalin cinta jarak jauh dengan Sigit. Barangkali kesabaran dan kesetiaan Rini lah yang membuat Sigit tak sampai hati mengkhianatinya. Namun, sore itu merupakan malapetaka terdahsyat bagi Sigit ketika kalimat “Aku ingin mengakhiri hubungan kita” keluar dari mulut Rini.
Sigit terpaku di tempatnya. Wangi dupa dari Klenteng Kwan Sing Bio yang terletak di depan pantai utara Jawa Tuban menyusup ke hidung Sigit. Angin laut menerpa tubuhnya, membuatnya terhuyung miring. Salahkah pendengarannya?
“Rini, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?” kata Sigit.
Rini menitikkan air mata. “Aku minta maaf, Sigit. Aku tidak sanggup melanjutkan hubungan kita. Terlalu sulit dan banyak godaan.”
“Tapi selama ini kita baik-baik saja.”
“Aku berbohong. Sudah lama aku tidak nyaman dengan keadaan kita. Aku tidak bisa bersikap tidak ada apa-apa. Aku tidak mau menyembunyikannya lagi.”
Sigit terdiam.
“Aku minta maaf, Sigit. Maafkan aku.”
Sigit menghembuskan napas panjang. Mengingatnya membuat hatinya sakit. Sekuat mungkin dia berusaha menghapus pita-pita rekaman pahit itu dari kepalanya. Terlalu menyakitkan untuk disimpan. Dia tidak sanggup. Hidupnya sudah cukup menyedihkan untuk ditambah dengan hal-hal melankolis macam itu.
Perlu waktu untuk menyembuhkan luka-luka yang menggores ulu hatinya. Bahkan ketika perempuan-perempuan Singkawang datang silih berganti, menjejali ruang di hati Sigit yang telah penuh, dia masih belum bisa melupakan Rini seutuhnya. Padahal tak sedikit tangis dan air mata mereka yang tumpah di dada Sigit. Tak sedikit pula tawa riang dan senyum manis mereka mengembang di pelupuk mata Sigit yang kering. Ada Mona dan Adies yang berwajah oriental khas Singkawang; juga Rachel, gadis keturunan suku Dayak secantik Natalie Sarah; atau Sutra, gadis asal Rembang, Jawa Tengah yang kemudian pulang kampung karena menikah dengan tetangganya sendiri.
Matahari sudah benar-benar tenggelam. Bulan tampak mengintip dari balik tirai langit. Kehadirannya menyambut malam, memberi salam penghormatan pada matahari yang bersiap menutup lembaran siang hari ini.
“Ayah…”
Seorang gadis cilik berusia empat tahun teriak sembari berlari kecil. Bocah laki-laki berjalan di belakangnya, tertatih-tatih mengatasi kaki kecilnya yang terjerembab dalam pasir putih. Seorang wanita muda berjilbab mengawasi bocah laki-laki itu dengan sabar dan sesekali menggandeng tangannya.
“Ayah,…,” gadis kecil itu berteriak lagi. Rambutnya yang ikal dan dikuncir kuda berlarian mengikuti langkah kaki kecilnya menapaki Pasir Panjang, kemudian dia memeluk kaki Sigit. Dengan gembira Sigit meraihnya, menggendongnya dan menciumi kedua belah pipinya yang gemuk. Gadis cilik itu adalah Nabila, sedangkan bocah laki-laki itu adalah Nail. Mereka adalah anak pertama dan kedua Sigit dari pernikahannya dengan Mia, wanita asal Tuban, sama seperti dirinya.
Mia menggendong Nail sambil berdendang, menyusul Sigit dan Nabila. “Sudah selesai, Ayah?” tanya Mia.
Sigit mengangguk. Dia kembali menatap langit Pasir Panjang. Dulu dia menghabiskan waktu di pantai ini sendirian. Kini setelah sepuluh tahun berlalu sejak kedatangannya di Singkawang untuk pertama kalinya, dia berdiri menghadap matahari bersama Mia, Nabila dan Nail, bersama keluarga yang dia bangun di Singkawang.
Ini adalah terakhir kalinya mereka melakukan ritual kepada matahari Pasir Panjang sebab besok si burung besi Garuda akan mengantarkan mereka pulang keharibaan tanah kelahiran Sigit dan Mia di Tuban. Sigit pindah tugas di Jawa, akhirnya. Impiannya berkumpul dengan keluarganya terwujud. Meskipun dia akan berdinas di Madiun, setidaknya jarak yang ditempuh untuk bersilaturahmi dengan keluarga di Tuban tidaklah sejauh di Singkawang.
“Beri salam pada Pasir Panjang, Nabila, Nail. Besok kita tidak bertemu dengannya lagi,” kata Sigit.
Nabila dan Nail melambaikan tangan kecil mereka dengan semangat sembari berseru,” Dah…”
Sigit, Mia, Nabila dan Nail berjalan memunggungi Pasir Panjang, meninggalkan segala kenangan manis yang terpatri dalam setiap butiran pasirnya. Singkawang tinggal kenangan. Pasir Panjang akan selalu diingat. Pulau Lemukutan tetap menjadi tempat singgah. Taman Bougenville tetap indah dan ramai. Para gadis berwajah oriental masih ditemui di setiap sudut kota Singkawang.
“Selamat tinggal, Singkawang. Aku pulang,” batin Sigit. Untuk kesekian kalinya, dia menoleh ke Pasir Panjang.

Penulis tinggal di Tuban

Perangkap

Cerpen Aditya Sylvana Day

aditya silvanaPerempuan bertubuh ramping itu berdiri di tepi sungai,…bukan..bukan hanya di tepinya. Kakinya semata kaki menjejak dalam air sungai yang deras. Pasti hujan tadi hulu. Kepalanya menunduk, rambut ikalnya tergerai menutup wajahnya dari pandangan orang seandainya ada yang melihatnya saat itu. Tapi tak ada orang lain malam ini, dia hanya sendirian di tepi sungai Bahau, di jantung Kalimantan. Matanya menatap golak arus yang kuat itu. Gemuruhnya air memenuhi telinganya, hatinya, dan rasanya.

Ada selembar kertas tergenggam di tangan kanannya, tergenggam kuat, tercengkeram, segala kegeraman hatinya seakan terwakili oleh cengkeraman jemarinya pada kertas itu. Ia menerimanya tadi siang, sepucuk surat yang dibawa oleh dispatch, dibawa dari dunia luar yang riuh, untuk mengusik ketenangannya dalam belantara ini. Surat dari Mayang.
Mayang! Setiap kali Mayang menulis surat kepadanya, selalu akan ada ketenangannya yang terusik. Selama ini dia selalu mampu menepiskannya. Ya, Mayang yang selalu cemburu padanya, selalu saja mencari dan mengorek hal-hal yang diperkirakannya akan mampu menghancurkan hatinya. Mayang suka bercerita tentang kesuksesannya dalam karir atau teman-teman kuliahnya yang lain, untuk dibandingkannya dengah dirinya sendiri yang seakan tercampak dalam pekerjaan sepele dalam belantara ini. Atau tentang mantan kekasihnya, yang sekarang hidup berbahagia dengan keluarganya setelah memutuskan hubungan dengannya. Atau tentang pekerjaannya yang lama, yang bisa dianggap suatu puncak kesuksesan, yang sekarang telah diambil alih oleh Mayang. Selama ini, semua pancingan ini tak pernah benar-benar berhasil mengusiknya. Mayang tak tahu bahwa belantara dan pekerjaan sederhana sebagai peneliti lapangan justru mendatangkan kepuasan dan ketenangan hati baginya.
Tapi tidak kali ini. Surat yang terakhir ini membawa kebekuan pada hatinya. Satu pukulan telak pada hati yang sebenarnya rapuh, yang selama ini tersembunyi rapat di balik sikap tegas gagah yang tampil di luar. Suatu kabar tentang pengkhianatan. Ah, sebenarnya dia tak terkejut mendengar kabar ini. Surat Mayang ini hanya merupakan konfirmasi dari kecurigaannya yang semakin lama semakin mengusik. Tentang cinta dan kesetiaan, dari lelakinya, dunianya, semestanya.
Sudah cukup lama ia merasakan perubahan sikap Ernanda, kekasihnya itu. Bagaimana ia menghindarinya, menutup diri, dan membuat berbagai alasan untuk tidak bertetap pada komitmen cinta mereka. Kebingungan dan kepedihan itu yang mendorongnya untuk menerima tugas yang membawanya kembali ke belantara Kalimantan, ke Kayan Mentarang. Namun, ia masih berharap, karena memang belum ada kepastian dari Ernanda mengenai hubungan mereka. Ia masih berharap. Karena itu ia menyurati Mayang, bertanya pada perempuan itu tentang apa yang diketahuinya tentang Ernanda. Dan Mayang pun dengan penuh kepuasan memenuhi permintaannya dan mencari tahu
Surat Mayang ini bercerita dengan rasa sukacita yang tak tersembunyi, tentang Ernanda dan perempuan barunya. “Benar firasatmu”, kata Mayang, “Ernanda menyelingkuhimu”. “Ia punya kekasih baru,” seakan tersenyum Mayang menulis, “seorang perempuan yang lebih daripadamu dalam segala hal.”. Mayang juga menulis dengan puas bahwa sebenarnya Ernanda tak menyembunyikan hubungannya dengan perempuan itu, mereka terlihat kemana-mana bersama. Bahkan baru-baru ini, mereka menghabiskan seminggu bersama berlibur di suatu tempat yang teramat romantis. Beberapa teman kita melihat mereka, begitu laporan Mayang. Lalu Mayang bercerita dengan penuh detail yang bersemangat tentang apa yang dilakukan oleh Ernanda pada kekasihnya yang cantik itu. Dia tahu Mayang tak berdusta padanya. Perempuan itu sangat ingin menghancurkan hatinya, dan kabar tentang Ernanda adalah kebenaran yang akan menghancurkannya. Dan memang, dia tahu itu semua benar, dia merasakannya, di jantungnya, di rasanya.
Dengan pahit diremas-remasnya surat dalam genggamannya, lalu dijatuhkannya ke dalam air sungai yang dengan deras menyapunya ke hilir. Lalu, perlahan, entahlah…rasa dingin yang membekukan hatinya mereda, yang tersisa adalah nir-rasa. Sungguh, ia tak mampu lagi merasakan apa-apa. Dengan tiadanya rasa, perlahan kesenyapan semu menyelinap.
Gemuruh sungai tak lagi tertangkap telinganya, sinar perak purnama tak lagi tertangkap matanya. Seakan dia melangkah ke dalam dunia mati tanpa lebih dulu melewati gerbang kematian itu sendiri. Tanpa merasa, dia melangkah maju, menuju ke kedalaman sungai yang arusnya tengah bergelora itu. Selangkah lagi, dan lagi. Perlahan air naik ke pinggangnya, dan arusnya yang kuat menyapu kakinya, mengangkatnya, menariknya. Dan ia tak melawannnya. Biarlah…….
Tiba-tiba sepasang tangan kekar menariknya keluar dari pelukan sungai itu, menyentaknya, dan kemudian membungkusnya dalam rangkulan yang kuat. Hangat.
“Ibu! “suara yang dikenalnya. Dia tak menjawab, tak bisa, tak ingin memecah heningnya. Matanya bertemu dengan sepasang mata yang bersinar kuatir. Lukas. Asistennya.
“Ibu Desi, kita ke rumahku ya, “ kata Lukas lagi. Dia masih diam, tapi membiarkan tubuhnya dibimbing separuh diseret menuju ke rumah yang letaknya tak jauh dari tepi sungai. Lukas harus menggendongnya menaiki tangga takik ke atas rumah panggung itu, karena otaknya masih belum bisa memerintahkan kakinya untuk bergerak
Sesampai di dalam rumah, pemuda kekar itu tampak agak kebingungan melihat bajunya yang basah kuyup, tapi akhirnya membiarkannya dan hanya mencoba mengeringkannya dengan handuk dan kemudian membungkusnya dengan selimut. Lalu diambilnya secangkir arak beras ketan, dan meminumkannya. Perlahan arak itu mendatangkan rasa hangat ke perutnya dan kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seiring dengan rasa hangat itu, kembali juga cengkeraman dingin terasa dalam hatinya. Air matanya menetes. Tak tertahankan, isaknya pun pecah. Ditekuknya tubuhnya untuk mencoba meredakan sakit yang menikam di ulu hatinya.
Mula-mula Lukas hanya memandangnya dengan bingung, tapi kemudian lelaki itu meraihnya dalam pelukannya, memelukkan wajahnya ke dada bidangnya dan membiarkannya menangis terisak di sana. Dan ia menangis. Seperti terlepas bendungan dukanya, mengalir. Lukas memeluknya lembut, sesekali tangannya membelai rambut ikal perempuan itu atau mengelus punggungnya. Hatinya terenyuh mendengar isak penuh kepedihan itu, isak yang tak pernah diduganya dapat lahir dari perempuan tegar yang selama ini dikaguminya.
Hampir sejam berlalu, ketika akhirnya perempuan itu menarik dirinya keluar dari pelukan Lukas. Matanya yang merah bengkak menatap pemuda itu dengan penuh terima kasih dan juga malu.
“Terima kasih Lukas, “katanya, “Maaf ya, kemejamu jadi basah.”
Lukas tersenyum. “Tidak apa-apa, Ibu”
Lukas memang selalu sopan terhadapnya, selalu menyebutnya dengan panggilan Ibu Desi.
Perempuan itu, Desiree Wila Riwu, menyandarkan tubuh letihnya di dinding, lalu menekuk lututnya dan memeluknya. Dia menghela napas panjang dan menatap Lukas. Mereka duduk di lantai di atas anyaman tikar rotan. Seperti lazimnya rumah-rumah panggung di kampung Dayak ini, tak ada meja kursi di dalam rumah ini, rumah Lukas Anau. Pemuda itu duduk di hadapannya, memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dia pertama kali berkenalan dengan Lukas, hampir sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu usianya baru 23 tahun, baru dua tahun lulus dari kesarjanaannya. Lulus suma cum laude dari sebuah universitas terkemuka di negeri ini. Dia menerima pekerjaan ini, yang membawanya ke jantung belantara Kalimantan ini dengan tujuan untuk memakai pengalaman dan informasi yang akan diperolehnya sebagai bekalnya untuk mewujudkan rencananya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dunianya penuh rencana, tertata menuju jenjang kesuksesan.
Lukas sendiri waktu itu baru berumur 18 tahun, tak lulus SMA. Di kampungnya belum ada sarana pendidikan menengah atas, sehingga dia harus pergi ke ibukota kabupaten untuk itu. Namun hanya sempat setahun di sana, dia harus kembali ke kampungnya karena keluarganya tak mampu menopang kehidupannya di kota dan juga tenaganya dibutuhkan untuk berladang. Selain petani peladang, Lukas, yang badannya tegap dan jauh lebih tinggi dari rata-rata pemuda di kampungnya, terkenal sebagai pemburu yang cakap. Anjing-anjing peliharaanya terkenal tangkas dan terlatih menggiring binatang buruan. Desiree tiba di kampong itu di antara musim tanam dan musim panen, di mana kegiatan perladangan agak sela, dan Lukas dalam waktu luangnya di pekerjakan oleh lembaga tempatnya bekerja sebagai asistennya. Tugasnya adalah sebagai penterjemah, penunjuk jalan, dan pelindungnya
Sejak awal pertemuan, ada rasa saling menghormati yang tumbuh di antara keduanya. Desi tak pernah memandang rendah pada Lukas, yang kalau memakai kacamata orang kota, adalah seorang yang tak punya masa depan, seorang yang seumur hidup tak akan pernah keluar dari kehidupannya sederhana dan terbelakang ini. Dia melihat bahwa Lukas mencintai kehidupannya itu, dan bahwa cita-cita sederhananya adalah kelak akan memiliki ladangnya sendiri, ditemani oleh istri dan anak-anaknya. Walaupun hanya lulusan SMP, Desi melihat kecerdasan alami pada Lukas. Sebaliknya, Lukas tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada perempuan kota yang tangguh ini. Biasanya, para peneliti lapangan dari kota menjadi bahan lelucon para penduduk desa karena kemanjaannya dan ketidakmandirian mereka di alam liar ini. Desi berbeda. Dia merasa nyaman di tengah keliaran ini. Perjalanan merambah rimba, menerjuni sungai, mengarungi lumpur dilakukannya dengan tanpa mengeluh. Dia pula satu-satunya peneliti dari kota yang mampu mencari dan menemukan arah dengan tepat di tengah hutan, hanya berpandukan matahari dan tumbuhan lumut pada pohon
Pasangan peneliti Desiree dan Lukas segera terkenal sebagai pasangan yang kompak dan sangat efisien. Keduanya saling mengambil pelajaran dari yang lain. Lukas mengajarinya mengenai bagaimana bertahan hidup di liarnya belantara, sementara ia mengajari Lukas berbahasa Inggris, suatu keahlian yang akan meningkatkan nilainya kelak dalam pekerjaannya sebagai asisten bagi peneliti-peneliti asing.
Rekan-rekan peneliti yang lain sering menggoda kedekatannya dengan Lukas. Memang sudah menjadi rahasia umum, bahwa antara peneliti dan asistennya yang berbeda jenis, sering terjadi hubungan yang lebih dari sebatas relasi professional. Banyak yang menduga bahwa antara dia dan Lukas juga demikian. Kesempatan bukannya tidak ada, seringkali dalam perjalanan, mereka harus menginap berdua dalam tenda di tengah hutan. Dan bukan sekali dua kali, dia menangkap Lukas memandangnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Namun, sedari dini Desi menegaskan bahwa dia tak akan memanfaatkan kedekatan mereka untuk sekedar pemuasan gairah. Baginya, hubungan seperti itu hanya akan terjadi bila ada cinta. Tak ada pilihan lain. Dan Lukas menghormati pendiriannya. Tak pernah sekalipun ia bertindak tak sopan, dan sejak awal hingga sekarang ia selalu menyapanya dengan sebutan : Ibu Desi.
Sepuluh tahun kemudian, dibawa oleh hati yang sarat, dia kembali ke Kayan Mentarang, dan di sini mereka bertemu lagi, duduk berhadapan, dilatarbelakangi gemuruhnya sungai Bahau. Desi menghela napasnya.
“Maafkan aku, Ukat, “ dia menyapanya dengan nama kecilnya, “entah apa yang membuatku sebodoh itu tadi. Tak pernah kuniati.”
Lukas mengangguk. Matanya tajam menatapnya.
“Surat yang dibawa dispatch tadi yang membuat Ibu resah, “katanya. Bukan pertanyaan.
Desi mengangguk.
“Berita buruk?” tanyanya. Desi menimbang sejenak, lalu mengangguk.
“Surat itu dari Mayang, temanku di Jakarta,”jawabnya.
Lalu lama dia terdiam. Dia tak terbiasa mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Tak terbiasa berkeluh kesah. Sikap yang membuat banyak orang menganggapnya sebagai perempuan tegar, bahkan dingin. Tapi dia tahu, ketegaran itu hanya tameng pelindung hatinya, yang sebenarnya rapuh dan telah pernah terluka parah. Tapi tameng itu tak cukup. Kali ini hatinya kembali berkeping.
“Surat ini membawa kabar tentang pengkhianatan, Ukat,”katanya. “Pengkhianatan kekasihku.”
“Itu membuatmu gelap mata?” Lukas menatap lekat matanya. “Pasti Ibu sangat mencintainya.”
Desi mengangguk. Dialihkannya matanya dari tatapan lelaki itu, dan dipandanginya lampu petromax yang digantung Lukas di tengah ruangan.
“Lelaki itu pasti seorang yang bodoh, melepaskan cintamu,”kata Lukas. “Seorang bodoh tak pantas menerima kehormatan pengorbanan hidupmu!”
Desi menggeleng.
“Kamu tak mengerti Lukas. Aku mencintainya secara total. Seluruh hidupku aku sandarkan padanya. Dan sekarang itu sudah berlalu. Juga hidupku.”
Tiba-tiba Lukas bangkit dari duduknya, lalu pindah duduk di sisinya. Tangannya meraih bahu Desi, dan kembali menariknya ke dalam pelukannya.
“Ibu dari dulu selalu begitu, selalu total dalam segala hal. Aku mengagumimu sejak dulu. Akupun sudah mengira, dalam bercinta pasti Ibu juga demikian. Aku sering membayangkan dan mencemburui lelaki mana yang akan menerima cintamu”
Desi menolehkan kepalanya menatap wajah lelaki muda itu, yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
“Tapi ada satu hal yang Ibu lupa. Yaitu mencintai dirimu sendiri secara total”
Hati Desi tercekat.
“Ibu ingat Sarin? Anak Pak Njau yang rumahnya paling hulu?”
“Tentu,”sahut Desi. “Bukankah dia tunangananmu dulu? Ah, aku malah belum sempat bertanya tentangnya.”
“Aku dulu mencintainya seperti Ibu mencintai kekasihmu. Seluruhnya hanya untuk dia dan tentang dia. Lalu ketika aku menemani peneliti Inggris itu ke hulu selama dua bulan,…ketika aku kembali Sarin telah mengandung anak dari teman seperburuanku.”
Dia terdiam matanya menerawang jauh. Lalu ia menghela napas dan melanjutkan ceritanya.
“Aku hampir melakukan apa yang tadi hampir Ibu lakukan. Aku masuk ke hutan berhari-hari, tanpa mengindahkan bahaya. Aku mencari gerbang kematian. Tapi, tidak ketemu.”
Lukas menoleh dan tersenyum kepada Desi.
“Mungkin karena aku terlalu ahli di hutan ya? Tapi yang jelas, kutemukan bahwa diriku masih memiliki diriku sendiri. Kupikir Sarin lah duniaku, dan bersama hilangnya, hilang juga tempat berlabuh. Tapi, tidak. Aku juga adalah duniaku. Aku berharga, kan? Ibu juga dulu yang mengajariku mengenal nilaiku.”
Kembali matanya menemukan mata perempuan itu yang masih sembab bekas tangisannya tadi.
“Aku tahu, dulu kebanyakan peneliti dari kota memandang rendah padaku yang hanya jebolan SMA. Tak bermasa depan, kan? Orang hutan. Tapi Ibu menunjukkan padaku bahwa, apa yang aku punyai, apa yang ada padaku, berarti dan berharga.”
Tiba-tiba lelaki itu menundukkan wajahnya ke arah Desi, dan dengan lembut ditautkanya bibirnya pada bibir perempuan itu. Sejenak Desi tersentak, belum pernah ia membiarkan siapapun menciumnya kecuali kekasihnya. Tapi kemudian kehangatan nafas Lukas menyelinap menghangatkan nafasnya, dan dia pun menyerahkan dirinya pada kelembutan ciuman itu.
“Kamu pun berarti, Desi. Bagiku, tapi terlebih bagi dirimu sendiri, “Lukas mendesahkan kalimat itu, ketika dia sejenak melepaskan tautan bibir mereka. Lalu dengan lembut kecupannya dialihkannya ke mata sembab perempuan itu, lalu ke lehernya, dengan gairah yang semakin membakar. Desi tak menahannya, dibiarkannya tubuhnya hanyut dalam arus yang tak kalah kuatnya dengan arus banjir sungai Bahau.
Sekian lama, ya, bahkan sepanjang hidupnya ia percaya akan kesakralan suatu percintaan. Selama ini, hanya dalam cinta ia mau menyerahkan diri terhadap gairah ragawi. Tapi cinta telah menkhianatinya berkali-kali. Ah, malam ini diserahkannya tubuhnya semata untuk gairah itu sendiri.
Dirasakann dan dinikmantinya sentuhan bibir Lukas, yang kadang lembut, kadang penuh desakan yang membara. Dibiarkannya jemarinya yang kasar itu menyusuri sekujur tubuhnya dan membangunkan jutaan sensasi.
Lukas menghentikan cumbuannya hanya untuk mengangkat tubuh rampingnya ke kasur tipis di sudut kamar sederhana itu. Lalu dengan tanpa ketergesaan melepaskan pakaian basahperempuan itu, satu persatu, sehingga dia terbaring polos di hadapan pemburu tampan itu. Lelaki itu lalu memandangi tubuhnya dengan keterpesonaan yang terbuka, tak sekejabpun matanya meninggalkan tubuhnya, sembari ia sendiri melepaskan diri dari kungkungan pakaiannya. Desi merasakan tatapan itu memuja dan mencumbui tubuhnya bahkan lebih mesra daripada cumbuan bibir dan jemarinya tadi
Malam ini, ia mencampakkan apa yang selama ini dipercayainya, mencampakkan kesakralan cinta dan membiarkan tubuhnya yang berbicara. Malam ini dia memadukan gairahnya dengan seorang lelaki yang bukan kekasihnya, bukan yang dicintainya. Malam ini tak terpikirkan konsep dosa dan tabu, apalagi kesetiaan terhadap seorang lelaki bernama Ernanda. Malam ini hanya ada Desi dan Lukas, dan sepasang tubuh yang masing-masing saling membutuhkan, terdesak oleh gairah yang tiba-tiba timbul tanpa dirancang, dan tanpa dicegah. Malam ini, Desiree mengenyahkan segala kenangan, segala keinginan yang utopis, segala rancangan yang rasional, ketika lelaki itu menyetubuhinya dan membawanya ke puncak-puncak ekstasi yang tanpa kekangan…ah.
Di subuh menjelang pagi, mereka mengulangi percintaan mereka lagi dengan intensitas yang sama, tapi dengan penuh kelembutan yang juga bernadakan kesedihan. Desi tahu, kejadian malam ini tak akan terulang lagi. Walaupun tubuhnya merasakan ekstasi dan kepuasan, ada kekosongan yang menggigit dalam jiwanya. Lukas bukan Ernanda, bukan cintanya, bukan semesta keberadaannya. Lukas tak bisa mengisi kekosongan yang menganga yang ditinggalkan Ernanda itu. Ada perasaan bersalah yang tak dapat dicegah menyelinap masuk, dia merasa seakan memanfaatkan Lukas dan gairahnya untuk mengobati hatinya yang luka.
Dalam pelukan Lukas, setelah itu orgasme yang melayangkan tubuhnya, Desi mengucapkan selamat tinggal pada pemburu gagah itu. Dikatakannya rencananya untuk kembali ke kota bersama perahu dispatch siang nanti. Diceritakannya keinginannya menjumpai Ernanda untuk meminta ketegasan tentang hubungan mereka.
“Tapi aku akan tegar, Ukat,”janjinya, “aku akan menghargai diriku lagi.”
Lukas terdiam sejenak, lalu mencium bibirnya lembut.
“Selamat jalan, Ibu, jaga dirimu, kau berharga bagiku”.

Tuhan Sedang dalam Tahanan

Cerpen Janardana
Editor Ragil Koentjorodjati

ilustrasi dari shutterstock
Di bulan Maret, pada sebuah tahun, mentari senja bersinar malas. Pisau keemasan yang dilemparkan langit dari barat cakrawala membelah siluet gereja tua menjadi garis-garis hitam pada tanah. Sore tampak menyedihkan dalam genggaman bayang-bayang malam. Bunga-bunga yang semula tegak meregang tegang, kini menunduk menekuk wajah. Senyum bocah-bocah di riang siang, meliuk lunglai keletihan. Di sore yang muram ini, angin pun enggan berjalan menyapa keringat manusia yang rindu kesejukan.
Kesunyian yang sakit dan membosankan sore itu mengalir memasuki ruangan gereja tua, di mana seorang pemuda duduk membisu. Matanya tajam menatap Isa yang tergantung di salib, di atas tabernakel. Senyuman para malaikat di kanan dan kiri ruangan altar tidak dihiraukannya. Sesekali matanya beralih dari Isa ke sepotong koran yang digengamnya. Sekejap kemudian ia berdiri, memetik setangkai melati yang banyak tersedia dalam vas bunga menghiasi meja altar, lalu melemparkan bunga itu ke Isa Anak Maria, sambil berkata,”Apa yang sedang Kaulakukan di situ?”
“Apa yang sedang kauperbuat, Nak? Tidak tahukah engkau bahwa ini tempat ibadah? Rumah Allah?”
Tiba-tiba seorang pastur sudah berada di belakang pemuda itu. Tatapannya penuh kasih, namun tidak cukup kuat untuk menutupi kecurigaan yang mengintip di balik kelopak matanya.
“Siapakah engkau, dan apa yang sedang kaulakukan di sini?” tanya pastur kepada pemuda.
Ruangan sejenak mempersilahkan ketegangan singgah dan bermain di sana. Kuku-kuku kecurigaan pun tergurat, meski membeku. Pemuda tahu siapa yang sedang dihadapannya.
“Aku seorang pemuda yang ingin bertanya pada Isa, apa yang sedang Ia lakukan di sana,” katanya sambil menunjuk salib Isa.
“Tapi kenapa engkau melemparinya dengan bunga melati itu? Tidak tahukah engkau bahwa ini adalah rumah ibadah? Aku tidak melihat rasa hormatmu terhadap tempat ini”, kata Pastur masih dengan ucapan yang lembut.
“Pastur, bagaimana kalau kita bekerja sama membakar gereja ini? Setelah itu kita bakar pula masjid-masjid, vihara, pura dan tempat-tempat pemujaan setan yang tersebar di mana-mana?”
“Anak muda, apakah engkau tidak sedang sakit?” tanya Pastur penuh kecurigaan dan kecemasan.
“Tentu aku sangat sehat, Pastur. Aku bukan seorang kristen. Aku juga bukan seorang muslim. Aku bukan orang Budha, bukan pula orang Hindu, Yahudi, atau pun Taoisme. Dan aku juga bukan orang Atheis!”
“Pastur, anda baca koran ini,” katanya sambil mengulurkan koran yang digenggamnya,”diluar sana banyak orang yang ingin membakar tempat ibadah. Ada beberapa alasan mengapa seseorang merasa perlu untuk membakar tempat ibadah. Pertama, karena mereka tidak ingin ada agama lain di luar agama yang dianutnya. Khalayak ramai pun tahu mengenai fanatiisme yang sempit ini.”
Pemuda itu terus berbicara sambil berjalan kian kemari. Tangannya dilipat kebelakang. Tatapan matanya penuh keyakinan. Sang Pastur memandangnya dalam kebingungan. Orang macam apakah yang sedang kuhadapi ini, pikir Pastur.
“Kedua, karena ada orang yang tidak menyukai ada tempat ibadah di wilayahnya. Ketiga, karena ada orang yang ingin memetik keuntungan dari kekacauan politik akibat konflik agama. Keempat, karena ada orang yang frustasi dan tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan kemarahannya. Mereka kemudian ikut-ikutan menghancurkan tempat ibadah hanya untuk melampiaskan kekesalan hatinya.”
“Bagaimana Pastur, alasan-alasan tersebut sangat masuk akal bukan?”
“Ya. Agaknya memang seperti itu. Tapi alasan yang mana yang kauajukan hingga engkau mengajakku untuk membakar gereja ini?”
“Tidak satu pun dari keempat alasan itu yang kupakai, maka aku mengajakmu. Engkau bukan seorang fanatik. Aku yakin meskipun aku meludahi patung Maria di sudut itu, engkau pasti tidak akan marah. Engkau bukan seorang materialis atau pun gila kekuasaan layaknya seorang tokoh spiritual. Engkau juga bukan orang yang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan untuk Tuhanmu, untuk agamamu dan untuk negaramu.”
“Ya. Tapi aku seorang pastur, tokoh agama, pemuka masyarakat. Apa kata mereka jika aku mengikuti kata-katamu untuk membakar gereja ini?” kata Pastur dengan wajah yang mencoba menerangkan suatu kebenaran.
Pemuda itu menatap Sang Pastur dengan sedih. Matanya berkaca-kaca, tangannya terkepal erat, dan dengan lirih ia berkata,”Aku yakin kalau Pastur tidak tahu bahwa saat ini Tuhan sedang dalam tahanan.”
Pastur menjadi masgul mendengar perkataan Pemuda. Ia mulai mengerti manusia macam apa yang sedang ia hadapi saat ini. Hanya ada tiga jalan untuk menyelesaikan perkara dengan pemuda ini. Pertama, mengajaknya berbicara secara baik-baik untuk mengetahui masalah yang sebenarnya sedang ia hadapi. Kedua, memanggil satpam gereja supaya menyeretnya keluar dan diserahkan ke rumah sakit jiwa. Dan yang ketiga, menendangnya seperti seekor anjing!
Tapi sepertinya Pastur ingin membantu meringankan beban psikologis orang yang membutuhkan pertolongan, seperti yang seharusnya dilakukan oleh para rohaniwan maupun alim ulama.
“Nak, aku memang tidak tahu kalau Tuhan sedang dalam tahanan. Tetapi menurutku sebaiknya engkau kembali ke rumahmu, mungkin ayah ibumu saat ini kebingungan mencarimu, Nak. Biarlah Tuhan membebaskan diri-Nya sendiri. Bukankah engkau tahu bahwa Ia Yang Maha Kuasa?”
“Bagaimana kalau Tuhan keburu mati dalam tahanan sebelum Ia sempat membebaskan diri-Nya?”
Semakin kuatlah keyakinan Pastur bahwa pemuda ini sedang mengalami goncangan jiwa. Sejak kapan Tuhan bisa mati, pikir Pastur. Saat seperti ini menjelaskan adalah satu pekerjaan yang sia-sia.
Hanya orang-orang gila yang tidak bisa menerima sebuah penjelasan akal sehat. Mereka telah kehilangan akal budinya, namun tidak kehilangan pikirannya sehingga mereka bergerak liar mengikuti keliaran otaknya. Mereka sakit namun tidak merasa sakit. Dan jika anda mengingatkan orang gila tentang penyakit yang dideritanya, maka andalah yang akan dikatakan gila. Inilah sebuah fenomena kegilaan!
“Nak, kalau boleh aku membantumu, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu?”
“Pastur tidak percaya padaku? Percayalah, saat ini Tuhan sedang dalam tahanan. Dan jika kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Tuhan sebentar lagi mati. Aku sudah mengatakan hal ini kepada banyak orang, kepada para pemimpin agama, kepada tokoh masyarakat. Namun mereka mencemoohku dan menganggapku orang gila!”
“Baiklah kalau Tuhan sedang dalam tahanan, di manakah Ia ditahan saat ini, agar kita dapat segera menolong-Nya.”
Akhirnya Pastur mengikuti jalan liar pikiran Pemuda itu. Mungkin dengan demikian ia dapat mengetahui permasalahan yang sebenarnya, pikirnya.
“Apakah Pastur ingat perkataan salah seorang bajingan yang disalib bersama Yesus?” tanya Pemuda dengan pandangan menerawang.
“Golgota adalah puncak bukit yang gersang. Ratusan manusia telah mati di sana. Menyerahkan daging tubuhnya pada burung-burung bangkai serta meninggalkan tulang belulang pada batu-batu gunung. Maka tempat itu disebut juga Bukit Tengkorak. Dan di situlah Yesus bergantung di kayu salib menunggu saat-saat terakhir bersama dua orang penyamun. Saat itu salah seorang dari penyamun itu berkata, jika Engkau benar Anak Allah turunlah dari salib-Mu dan bebaskanlah aku. Pastur ingat?”
“Ya. Tapi Ia hanya diam saja.”
“Mengapa Ia diam saja? Apakah Pastur tahu arti diam-Nya? Apakah Pastur tahu mengapa Ia tetap bergantung di salib itu?”
Pemuda itu berkata sambil menunjuk Isa Putera Maria penuh kemarahan, namun terbalut kesedihan. Sementara Pastur mulai tersinggung dengan perkataan Pemuda itu.
“Anak muda, apakah engkau berpikir bahwa Tuhan tidak mampu berbuat apa-apa? Ia bisa membebaskan diri-Nya, namun Ia taat untuk menyelesaikan tugas-Nya. Ia mampu berbuat apa saja, termasuk hanya untuk turun dari kayu salib dan membebaskan berandalan pembunuh yang disalib di samping-Nya.”
“Pastur, ketahuilah, sebenarnya Yesus diam karena Ia sudah bosan melayani manusia. Sekian lama manusia mendikte Tuhan, meminta ini, meminta itu. Apa yang telah diberikan manusia kepada-Nya? Manusia telah diberi pinjaman, namun mereka hanya mengembalikan sebagian bahkan mereka menganggap bahwa itu adalah persembahan buat Tuhan. Ketika Tuhan dalam tahanan seperti ini, siapakah yang hendak membebaskan-Nya?”
“Sebenarnya apa yang kauinginkan, Anak muda? Aku jadi bingung mendengar semua perkataanmu. Sejak tadi engkau selalu berkata kalau Tuhan sedang dalam tahanan dan kalau kita tidak segera membebaskan-Nya, mungkin Ia akan segera mati?”
Dengan sedih dan putus asa pemuda itu berkata,” Ya, saat ini Ia sedang sedih dan kecewa. Ia telah ditangkap dan dimasukkan kurungan oleh manusia yang diciptakan-Nya. Tidak seorang pun mendengar rintihan kelukaan-Nya. Ia hanya dijadikan azimat sakti untuk mengabulkan setiap keinginan dan hawa nafsu manusia. Maka, Pastur, segera tanggalkan jubahmu dan mari kita bakar gereja ini. Kita bakar masjid-masjid, pura dan vihara. Kita bakar semua tempat yang digunakan untuk meminta dan menodong Tuhan. Sudah saatnya Tuhan dibebaskan dari tahanan. Sudah saatnya Tuhan dibiarkan untuk berbuat sekehendak hati-Nya.”

“Kita harus bersegera, sebelum Tuhan menemui ajal-Nya!”

Bintaro, Awal April 2003

Sumber diambil dari Kompasiana.