Puisi Binandar Dwi Setiawan

Ah, bukan. Aku masih mengetahui apa yang hendak engkau tuju dari sejuta cabang yang maya. Untuk mengakhiri ini. Menuju sebuah tempat yang bisa dikatakan akhir, jika toh memang yang seperti itu ada. Masih ada yang bisa kupantaskan sebagai yang mengemudi kendara yang tak berkesudahan, bukan berarti aku tak mengambil peranku. Hanya saja aku mengakui akan siapa mata yang menembus pandang dalam haq yang sepenuhnya benar. Dan aku sebagai ksatria, sangat mempunyai keberanian untuk bertindak sendiri maupun bertindak tak melibatkan diri. Keindahan hanya bisa dimenangkan melalui apa yang tak berada dalam kendalimu. Pintu yang itu memang nyata adanya, dan kamu tahu, dia terbentuk dari sejuta bekasan kegetiran yang setiapnya bagaikan sakaratul anak anak perasaanmu. Aku tak sedang menakut nakutimu, tetapi memang kamu sangatlah bodoh jika tak sanggup menatap nyala ketakutan yang tak bisa diriasi dengan apapun ini. Kutelanjangkan kepadamu akan siapa aku, hanya kamulah wadahku, yang tak sedikitpun bergeser dari tempatmu berada saat ini.
Bukan berarti, ketika seperti ini aku tak menghargaimu, sebab hanya telingamulah yang bersetuju kepada suaraku, akan seperti apa merdu itu. Carilah tempat di sana seperti ketika aku mencari tempat di sini, kamu yang menuntunku dan aku yang menuntunmu, dan kita lihat betapa kebingungan tak akan pernah bertempat. Tak usah mencari tahu dengan apa kita tersambungkan, kekasih, aku mendengar suaramu bagai kamu di sini. Maka, setujuilah segala hal yang dinuranikan oleh hatimu, sebab di situ tak ada yang kamu dengar kecuali suaraku. Ketika pertemuan terjadi, ketika nanti, kamu sudah mengenal siapa aku, dan aku sudah mengenal siapa kamu. Ketika itu cinta telah sangat sangat bertanggungjawab. Dan, pasti, kita bisa membicarakan hal yang sama, benar benar sama. Kini.