Wanita Itu Bernama Marida #11 -Tamat-
Cerbung Willy Wonga Leo menciumku. Gemuruh tepuk tangan segera bergeletar. Bening meluap dari mataku yang tak mampu terbendung, dan sekali lagi aku berpaku tatap pada wanita itu. “Demikian kalian bukan […]
Cerbung Willy Wonga Leo menciumku. Gemuruh tepuk tangan segera bergeletar. Bening meluap dari mataku yang tak mampu terbendung, dan sekali lagi aku berpaku tatap pada wanita itu. “Demikian kalian bukan […]
Cerbung Willy Wonga Perang sepihakku. Hingga akhirnya wanita itu menyerah. Saat itu sudah tahun ke tujuh. Ketika aku mulai menemukan sosok pengganti Andre dalam diri Leo. Tahun ketiga, wanita itu […]
Cerbung Willy Wonga “Demikian kalian bukan lagi dua melainkan satu…” suara Pastor bertalu-talu dalam telingaku. Aku tahu artinya, lalu di mana aku harus berada kini? Aku merintih dalam hati. […]
Cerbung Willy Wonga “Aku suka seorang pemula, Mas, maksudnya orang baru di tempat ini. Lebih menarik karena penuh rasa ingin tahu. Tidak seperti mereka yang hanya mau menenggak alkohol […]
Cerbung Willy Wonga Dan pertanyaanku selama ini akhirnya terjawab. Bahwa mengapa tiba-tiba wanita itu telah berada di rumah tidak lain dari sebuah pertumbuhan kecil pada perutnya. Aku pernah bilang; wewangian […]
Cerbung Willy Wonga “Kalian berencana menikah?” tanpa basa-basi, hujan badai persoalan itu kuturunkan. Aku telah memintal kepercayaan diriku untuk segera menanyakan perkara paling mendasar dalam rumah tangga ini yang mungkin […]
Cerbung Willy Wonga Sering aku bolak-balik memori-memori usang. Dan mengenai dia adalah seni, seperti goresan pena di tiap lagu ciptaan. Atau denting piano mengalun di pagi-pagi prematur. Pernah aku bersyukur […]
Cerbung Willy Wonga Aku memiliki koleksi perempuan cantik. Bukan hobiku sejatinya, tetapi sekadar koleksi untuk bahan perbandingan mana di antara mereka yang paling banyak kubenci. Pernah aku menatap wajahku di […]
Cerbung Willy Wonga Kali pertama berjumpa dengannya, wanita itu, aku ingat; bibirnya terbelah membentuk senyuman ditulus-tuluskan, rambutnya tergerai kusut terterpa angin dan dia berjalan dari pinggir jalan dengan sebungkus […]
Cerita Bersambung Martin Siregar Bagian 23 Kemisteriusan almarhum Tigor dalam integrasinya bersama kelompok tani, terulang kembali oleh Ucok. Sudah 2 buah laporan lapangan Ucok tidak diserahkan ke sekretariat. Ucok semakin […]