Flash Fiction Ragil Koentjorodjati
~kemarau~
“Sayang, kemarau akan segera usai. Gerimis semalam telah menumbuhkan kuncup rerumputan,” katanya.
“Ya, kecuali di hatiku. Kemarau masih panjang dan ilalang tinggi menjulang.”
~penumpang VIP~
“Tahukah engkau nikmatnya naik kereta eksekutif? Jika engkau mengencingi gembel di sepanjang rel, niscaya engkau tahu nikmatnya”
“Bangsat!”
~perempuanku~
Perempuanku kelaminnya dua, satu di tempat biasanya, satu di dahinya. Yang terakhir ini entah untuk siapa.
~pelacur tua~
“Lima ribu atau kupotong kelaminmu!” bentaknya pada lelaki bermandi keringat di depannya. Setengah telanjang ia melirik pekuburan yang tidak keberatan menerima satu mayat lagi.
~mukjizat~
Selembar daun jatuh dari langit. Tercabik-cabik sebab panas, hujan dan angin.
“Subhanallah, nikmat mana yang kudustakan,” pekiknya ketika daun itu mendarat di kakinya dengan robekan semirip lafal Allah.

Ping-balik: Perempuan Kesepian | RetakanKata·
bagus…Mas. saya suka deh..
terima kasih sudah berkunjung…
Wow! Sungguh cerita mini yang ledakannya tak bisa disebut mini. Mulutku masih menganga membaca “pelacur tua”. Keren sekali, mas. Inspiratif,
terima kasih. salam kenal..
waaaaw aku suka banget dengan cerpen mukjizat
waw sungguh pnuh makna
walau hanya mini namun maknanya lebih banyak dari isinya
Salam kenal, saya indraisme. Saya menyukai cerita ‘kemarau’, yang kalo saya tak salah dengar, rimanya begitu terasa. Saya telah mengepostkan beberapa cerita yang agak lebih panjang dari kumpulan cerita super mini di atas. Silakan mampir bila berkesempatan…
Reblogged this on indraisme1987 and commented:
NB: Minta izin reblog Kumpulan Fiksi Super Mini untuk blog saya.
silakan…
Ping-balik: Menulis Flash Fiction #1 « RetakanKata·
Ping-balik: Lebih Jauh Tentang Menulis Flash Fiction | RetakanKata·